iPhone Sewaan, Gaman "Penguat Gengsi" Saat Lebaran
Selama 5 tahun terakhir, - sejak pandemi covid 19 - tanpa sadar kita telah mengalami arah perubahan yang signifikan dalam penggunaan gadget.
Istilah SOHO yang populer di era 2000 - an, menjelma menjadi istilah WFH di awal 2020-, yang ditandai tren karyawan yang menyelesaikan pekerjaan dari rumah
Tahun 2000, menjadi awal disrupsi teknologi informasi yang -di awali dengan peluncuran GPRS- saat itu para baby boomers dan gen X - sebutan untuk seseorang yang lahir di tahun 70 hingga 80 an - mulai familiar dengan PDA (perangkat saku asisten digital ) yang memungkinkan pengguna GPRS untuk mengelola pekerjaan kantor seperti office, mail list, hingga daily report menggunakan outlook.
Pada perkembangannya, handheld itu di beli guna menggantikan fungsi PC atau laptop (komputer jinjing) yang membutuhkan daya listrik besar. Namun, tren penggunaan perangkat kini bergeser dari sekedar fungsi menjadi gengsi
Hari ini, kita menyaksikan fenomena Flexing yang makin nyata di sekitar kita, bahkan perilaku ini juga melanda banyak pekerja yang membeli gadget bukan atas dalih fungsional, sebuah tren yang di sebut Conspicuous Consumption
Seperti apa perubahan perilaku ini dan apa gejala di baliknya? Yuk, seperti biasa siapkan Kopi dan Camilan-nya, karena kita akan melihat sisi gelap dari fenomena sosial ini.
************
Syahdan, berdasarkan pantauan linimasa H - 10 Lebaran muncul fenomena unik di jagat maya, beberapa postingan maupun paid promoted akun tertentu menampilkan iklan "persewaan iPhone" menjelang Lebaran dan menjadi diskursus menarik di sejumlah platform media
Meningkatnya persewaan iPhone menjelang Lebaran, -diduga- karena meningkatnya minat masyarakat -terutama remaja- untuk menghasilkan foto dan video berkualitas premium saat mudik dan silaturahmi, tanpa harus membeli perangkat mahal.
Tren ini makin populer karena dukungan "pencitraan" media sosial seperti Instagram dan TikTok, mencapai puncak permintaan pada H-1 Lebaran dengan paket sewa yang fleksibel.
Jika dilihat dari perspektif sosial, fenomena ini pernah di prediksi dalam sebuah jurnal berjudul Postmodernisme dan Masa Depan Peradaban di tahun 1994
Diskursus Posmodernisme membawa kita pada pemahaman bahwa realitas fisik kini telah tergeser oleh realitas citra. Dalam kacamata sosiologi posmodern, perilaku ini bukan sekadar "gengsi", melainkan tanda pergeseran fundamental dalam peradaban manusia.
Dalam teori Baudrillard, kita hidup di dunia di mana "salinan" atau "citra" menjadi lebih nyata ketimbang kenyataan itu sendiri. Konteks yang disebut Hiperrealitas ini tentu membawa pemahaman kita - untuk sepakat- bahwa media sosial, adalah potret -sisi lain -diri kita yang ingin kita tampikan ke orang lain - ranah publik.
iPhone sewaan bisa di katakan sebagai Simulakrum—sebuah tanda yang tidak lagi merujuk pada realitas ekonomi pemiliknya (kekayaan asli).
Tak dapat di pungkiri, Arah Perubahan dari peradaban kita sedang bergerak menuju titik di mana image adalah satu-satunya mata uang yang diakui.
Bagi penyewa, pengakuan di media sosial (dunia digital) jauh lebih berharga daripada saldo tabungan di dunia nyata. Di sini, batasan antara "siapa saya sebenarnya" dan "siapa saya di layar" menjadi kabur.
Dalam pandangan Guy Debord mengenai The Society of the Spectacle, kehidupan sosial kini tidak lagi tentang "menjadi" (being) atau "memiliki" (having), melainkan tentang "tampak" (appearing).
Flexing - pemameran status sosial gaya hidup mewah - dengan iPhone sewaan, merupakan produk dari budaya visual yang menunjukkan "kekuatan pencitraan" di era media sosial. Sebab, validasi di ranah maya hanya bisa di hasilkan dari kualitas "konten" yang dihasilkan.
Di sinilah letak kekuatan kamera iPhone terbukti menjadi alat yang menghasilkan kualitas "citra diri" yang estetik demi mendapatkan "tombol hati" dan pengakuan kolektif dari penikmat konten.
Yudi, pemilik rental Iphone mengaku menjelang lebaran H-5, stok Iphone yang ia miliki laris di sewa selama seminggu. Tarifnya pun beragam mulai 75.000 / hari hingga 150.000 / hari tergantung type dan kedekatannya dengan customer.
"Umumnya, yang sewa saat lebaran itu para tetangga yang ingin pulang kampung, namun di luar hari Lebaran, ada juga yang menyewa untuk keperluan konten, biasanya mereka sudah punya 1 iphone, lalu menyewa 1 lagi sebagai back up untuk siaran podcast atau vlog" ujarnya
Saat podcast, lanjut yudi, terkadang di butuhkan dua kamera untuk mengambil obyek secara close up dan wide angle (long shoot) dan iphone "sewa" inilah yang di gunakan untuk mengambil obyek.
***********
Di sisi lain, ada tren sewa iphone untuk flexing seolah menjadi - kebutuhan persona agar di akui - sebagai pribadi yang mapan (kaya) karena memiliki barang mewah.
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan sosial yang masif - di mata publik - dan memaksa Anak muda (umumnya dari keluarga tidak mampu) untuk menyesuaikan diri dengan standar konsumerisme modern.
iPhone, tak lagi di pandang sebagai alat komunikasi semata, melainkan telah menjelma sebagai paspor sosial yang kini dapat disewa untuk mendapatkan rasa hormat atau sekadar takut di anggap ketinggalan zaman (FOMO) dalam kompetisi status di hari raya.
Bayangkan, di Lebaran tahun sebelumnya, Anda pulang ke Kampung dengan sebuah ponsel biasa, lantas bertemu pada perjamuan keluarga besar. Di meja tergeletak gadget beragam merek dan hanya milik Anda yang tampak jadul.
Pada saat itu, Anda mungkin terlihat cuek - karena ingin bersikap apa adanya- namun pada lebaran tahun ini, ada keinginan kuat dari dalam diri Anda untuk dianggap naik kelas dalam strata sosial yang lebih tinggi.
Disinilah paradoks bermula, ketika muncul ketakutan akan "judgement" penilaian keluarga atau lingkungan saat mudik, justru memicu perilaku yang tidak otentik, maka upaya untuk mendapatkan validasi dan penerimaan itu - pada akhirnya -tetap harus dibangun. Kendati di atas fondasi yang rapuh.
Hingga pada titik ini, terciptalah sebuah paradoks baru yang membawa kita menuju "bangunan peradaban" yang semu -di mana- "tampak bahagia" jauh lebih penting daripada "menjadi bahagia".
**********
Akhir kata, fenomena ini tak bisa lepas dari tradisi Jawa yang menempatkan "citra", sebagai representasi sebuah kewibawaan dalam kehidupan sehari hari.
Sebuah gadget dalam kosmologi Jawa, tak ubahnya seperti Gaman (pusaka) yang sejak dulu menjadi jati diri dan simbol kemapanan masyarakat Jawa.
Pusaka, membawa efikasi yang kuat dalam pemahaman "kolektif" bawah sadar masyarakat Jawa, dan menjadi salah satu instrumen pencapaian manusia (Jawa) seutuhnya. Kepemilikan sebuah Pusaka ini bersanding dengan Wanita, Griya, Turangga dan Kukila.
Maka, orang Jawa dianggap telah mencapai kedudukan tinggi bila memiliki semua entitas di atas.
Ya, bagi orang Jawa, memiliki pusaka iphone tak ubahnya sedang memegang "Keris" pusaka dengan pamor -motif pada bilah - yang terbentuk dari teknik tempa dari sang empu bernama Steve Jobs.
Editorial | Arah Perubahan



Posting Komentar