"Dance of Inflation”, Tarian Simbolik dari Sudut Pandang Seniman Rakyat

"Dance of Inflation”, Tarian Simbolik dari Sudut Pandang Seniman Rakyat

Daftar Isi

"Berdansa di tengah inflasi" -begitu- kira kira judul tulisan kali ini. Di tengah hiruk-pikuk persoalan ekonomi yang kerap dibahas melalui angka dan data, muncul sebuah frasa yang paling di hindari oleh pelaku ekonomi makro yakni "Inflasi"

Inflasi di tandai dengan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.  Di awal 2026, Inflasi tercatat 3,55% di bulan Januari serta 4,76% pada Februari 2026. sehingga mengakibatkan penurunan daya beli uang.

Melihat fenomena ini, seorang seniman dari Surabaya menghadirkan perspektif yang berbeda—melalui kanvas dan imajinasi. Iswadi, yang akrab disapa Cak Iswa, adalah salah satu pelukis di kenal -oleh penulis- beraliran surealisme yang mengolah realitas menjadi simbol-simbol visual yang puitis dan penuh makna.

Lahir pada 28 Mei 1977 dan tinggal di Surabaya, keseharian Cak Iswa jauh dari dunia galeri seni yang gemerlap. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu sekolah negeri di kota tersebut. 

Namun, di balik rutinitasnya, tersimpan kepekaan artistik yang kuat—yang justru tumbuh dari kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari dan realitas sosial di sekitarnya.

cak iswa - pelukis surabaya
Melalui karyanya yang berjudul "Dance of Inflation", ia mengangkat isu yang sangat dekat dengan masyarakat: inflasi. Namun alih-alih menyajikannya dalam bentuk yang literal, ia mengemasnya dalam bahasa surealisme yang simbolik dan terbuka untuk berbagai tafsir.

Lukisan ini menampilkan sosok perempuan dengan kipas berwarna-warni yang menutupi sebagian wajahnya. Jika di perhatikan, sosok ini tidak hanya berfungsi sebagai objek visual, melainkan juga simbol. Ia bisa dimaknai sebagai representasi masyarakat—yang harus terus beradaptasi dalam menghadapi perubahan ekonomi yang tidak menentu.

BACA JUGA : 

Judul "Dance of Inflation" sendiri menjadi kunci interpretasi. Inflasi yang biasanya identik dengan tekanan dan kesulitan, dihadirkan sebagai sebuah "tarian"—sesuatu yang bergerak, dinamis, dan tidak selalu dapat diprediksi. Dalam komposisi visual lukisan, gerak ini terasa melalui perpaduan warna, garis, dan elemen latar yang membentuk ritme tersendiri.

Kipas yang dipegang tokoh menjadi elemen penting. Dengan gradasi warna yang kontras, ia merepresentasikan fluktuasi nilai—naik dan turun, stabil dan tidak menentu. Sementara latar belakang dengan nuansa geometris dan kosmik memberi kesan bahwa inflasi bukan hanya persoalan individu, tetapi bagian dari sistem yang lebih besar dan kompleks.

Ekspresi mata tokoh yang tampak waspada namun tenang menggambarkan sikap manusia dalam menghadapi situasi tersebut: bertahan, menyesuaikan diri, dan tetap bergerak. 

Di sinilah kekuatan karya Cak Iswa—ia tidak hanya menggambarkan, tetapi juga menghidupkan pengalaman emosional yang dirasakan banyak orang.

Sebagai seniman surealis, Cak Iswa tidak menawarkan jawaban pasti. Ia membuka ruang dialog, membiarkan setiap penikmat karya menemukan maknanya sendiri. Karyanya menjadi jembatan antara realitas dan imajinasi, antara pengalaman pribadi dan isu kolektif.

":Dance of Inflation" adalah bukti bahwa seni tidak mengenal batas profesi. Dari seorang petugas kebersihan di Surabaya, lahir sebuah karya yang mampu berbicara tentang isu global dengan bahasa yang universal. Ini bukan hanya tentang lukisan, tetapi tentang keberanian untuk menyuarakan realitas melalui cara yang jujur dan kreatif.

Melalui karya-karyanya, ia menunjukkan bahwa seni dapat tumbuh di mana saja—bahkan dari ruang-ruang yang sering kali tidak kita duga. Dan dari sana, lahir perspektif yang justru lebih dekat dengan kehidupan nyata.'

Editor | Masardi 

Posting Komentar

Flag Counter