KPOTI, Bangkitkan Kembali Budaya Permainan Tradisional

KPOTI, Bangkitkan Kembali Budaya Permainan Tradisional

Daftar Isi

 
Kuambil buluh sebatang, kupotong sama panjang, kuraut dan kutimbang dengan benang, dan kujadikan layang-layang. 

Kutipan lirik lagu ini begitu populer di era 80 an. dan kerap dinyanyikan anak-anak kala itu. Cara menyanyikannya, tirulah nada pada syair lagu Kampuang Nan Jauh Di Mato. 

Penggalan awal lagu Bermain Layang-Layang diatas, mengajak anak-anak berkreasi -membuat sendiri- memanfaatkan bambu untuk dijadikan layang-layang. 

Momen indah masa kecil itu -bagi penulis - terasa begitu membekas. Dan, kini  -semua seolah- berubah, tatkala kita jarang menemui permainan layangan di sekitar kita, kendati pada prakteknya, permainan tradisional mengajarkan kita untuk dekat kepada alam

Sebaliknya, jamak kita temui anak kecil -masih duduk di bangku - SD lebih tertarik dengan permainan di gadget

Faktanya, anak sekarang semakin menjauh dengan dunia nyata, bahkan beberapa permainan tradisional yang dahulu -bukan bermaksud mengenang masa lalu- mulai di tinggalkan dan diganti oleh Gadget

Bagaimana kita menyikapi fenomena dibalik perubahan perilaku budaya digital ? 

Yuk simak ulasan ini, siapkan kopi dan camilan karena kita akan belajar -untuk kembali -bemain di ruang terbuka bersama Narasumber kita, Ridho Saiful Ashadi, Praktisi Pembelajar Budaya Permainan Tradisional. 

************

Layangan, sebuah permainan tradisional yang pernah populer di Nusantara, -menjadi ritual- setiap musim angin muson timur berhembus. Di musim ini, angin berhembus dari timur Indonesia, membawa udara kering (gurun australia) dan menandai terjadinya musim kemarau 

Secara prinsip, Layangan merupakan -salah satu- permainan kreatif, ia bahkan lebih dari sekedar adu ketangkasan, karena melibatkan skill membuat rangka dari Bambu -di rakit - dengan perhitungan presisi agar setimbang dan stabil saat berada di angkasa

Saat menerbangkan layangan, pemain pun bertindak -layaknya- sebagai pilot handal yang tak perlu -melihat - anemometer, untuk mengetahui kemana arah angin berhembus

Seorang Joki "Layangan" juga dituntut mahir menguasai teknik mengendalikan ketinggian dan posisi. Bahkan tak jarang, saat layangan beradu di udara, ia wajib menguasai teknik sentakan atau snap, agar benang layangan lawan terputus.

Lewat permainan layangan, anak2 di ajak bermain logika dan belajar fisika, sebab banyak falsafah menarik dari layang2 selain terbang tinggi dengan melawan arah angin, ia pun hadir dalam prinsip aerodinamika

BACA JUGA : 

Di balik tarik ulur benang layangan itu, kini kita sedang dihadapkan dengan kebijakan pemerintah yang - seolah - menjauhkan anak dari dunia luar ruang. 

Tarik ulur kebijakan daring dan luring, kerap mewarnai sebuah proses belajar mengajar, dan -tak jarang- membingungkan orang tua

Hingga akhirnya beberapa waktu lalu, angin segar -mengembalikan Budaya permainan tradisional- berhembus, Pemerintah melalui KemenPPPA, akhirnya mendorong upaya mengenalkan kembali budaya lokal, lewat penyelenggaraan lomba atau festival permainan tradisional -seperti- gobak sodor, egrang, bakiak

*****************

Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia Prov. Jawa Timur, Ridho Saiful Ashadi menanggapi serius peralihan budaya permainan tradisional ke permainan modern. 

Mantan Direktur WALHI inipun menyoroti pentingnya permainan rakyat sebagai sarana edukatif yang mampu membangun karakter, kerja sama, sportivitas, serta kecerdasan sosial anak di tengah tantangan era digital.

Selaku Presiden Republik Dolanan yang konsern terhadap peletarian budaya dolanan, ia menegaskan permainan tradisional merupakan budaya yang tumbuh di masyarakat, yang diciptakan dari cipta rasa karsa para leluhur yang sarat nilai dan sumber pemikiran di dalamnya.

Guna melestarikan permainan tradisional di Jawa Timur, Republik Dolanan mempopulerkan festival yang bertajuk ELINGPIADE (Eling Permainane Dewe) 

Di Tahun 2025 mulai mempopulerkan OLIMPORA (Olimpiade Olahraga Tradisional) di wilayah Kab. Sidoarjo 

Lewat sebuah permainan, ujar Saiful, para leluhur kita mengajarkan 3 prinsip yang harus di miliki yakni Olahraga, Olahrasio, dan Olahrasa. 

Ketiganya, menjadi satu dalam sebuah permainan yang menuntut gerak tubuh, (Olah Raga), serta displin terhadap aturan permainan yang disepakati (Olah Rasio), hingga mengajarkan pemain -anak anak- untuk menjunjung tinggi sportifitas saat bermain (Olah Rasa

"Ketika ada anak yang pupuk bawang (atau sering disebut "anak bawang") dalam sebuah permainan tradisional , maka ada kesepakatan para pemain untuk tetap di perbolehkan main, namun tidak di hitung pointnya, ini mengajarkan kita sebuah sportifitas dalam konteks masyarakat yang berbudaya di Nusantara" ujarnya 

Pria yang kerap di sapa Cak Ipoel itupun menjelaskan Anak Bawang, memiliki privelege -sejumlah keistimewaan- seperti tidak bisa kalah, bebas hukuman, dan dianggap sebagai pelengkap untuk meramaikan suasana permainan.

Prinsip ini, imbuh Saiful, mengajarkan kita untuk Tepo Seliro atau Tenggang Rasa, dan -bahkan- ketika salah satu pemain tak sengaja terjatuh akibat kesalahan rekan atau lawan, maka mereka meminta maaf dan saling memberi maaf. 

"Inilah Tradisi dan Budaya adiluhung Nusantara, yang seolah kini jarang di jumpai anak muda meminta maaf jika berbuat kesalahan" ujarnya

Saiful mengakui permainan seperti ini sudah jarang, namun ia tidak menepis jika atraksi permainan tradisional masih nampak dimainkan pada masa-masa tertentu seperti saat tujuh belas agustusan.

Disinilah pergeseran itu mulai nampak, dan jika permainan tradisional tidak di pertahankan, kelak akan punah seiring dengan pergantian generasi.

Kedepan, ia bersama KPOTI terus menggalakkan gerakan permainan tradisional. Sebab, saat ini makin banyak generasi muda yang kecanduan gim online atau gadget, dibanding permainan yang mengutamakan interaksi sesama manusia secara langsung.

Dalam berkiprah di KPOTI, Saiful telah aktif sejak Munas I tahun 2019 yang di gelar di Gunung Salak. Pada tahun 2025, ia terpilih jadi ketua KPOTI Prov Jatim periode 2025-2030. Kepengurusan baru ini di pimpin Arsjad Rasjid selaku Ketum DPP hasil Munas II

Saat ini fokus KPOTI JATIM sedang memperkuat kelembagaan, program dan perluasan struktur kab/kota se Jatim.

****************

Permainan tradisional adalah warisan budaya takbenda yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu, ia berakar pada ritual, aktivitas sehari-hari, dan nilai-nilai masyarakat kuno. 

Sejarah -nya pun tidak tunggal, melainkan merupakan jalinan cerita yang berbeda-beda untuk setiap jenis permainan dan di setiap wilayah.

"Sejarah mencatat, mainan layangan tertua ada di Suku Muna Sulawesi Utara, namanya kaghati kallope terbuat dari daun umbi hutan (uwi) dan benangnya dari serat kulit pohon" ujar Saiful

Di Jawa ada legenda layang seto dan layang kumitir. Serta legenda sungging murbengkoro yang di terbangkan dengan layangan.

Gobak Sodor misalnya, di klaim berasal dari Bahasa Belanda Ga Terug Door De Deur, Jika ucapkan bahasa Inggris maka berbunyi Go Back To Door, kemudian diadaptasi oleh lidah masyarakat Indonesia menjadi "Gobak Sodor"

Permainan tradisional ini melatih kelincahan, kerja sama tim, dan strategi. Untuk memainkan dibutuhkan dua tim -yang terdiri dari -penjaga & penyerang, berjumlah 3-5 orang

Para pemain -di kedua kubu - akan berkompetisi dalam lapangan berpetak -umumnya- berukuran 15 x 9 m. Agar bisa menjadi pemenang, penjaga di Tim A berbaris di garis horizontal & vertikal untuk menghalangi - mencegah - penyerang Tim B yang berusaha -kembali menembus- melewati garis -pintu- tanpa tersentuh.

Jika tim B yang bertindak sebagai penyerang, berhasil menembus pertahanan tim A -tanpa tubuh yang tersentuh- maka Tim B di nyatakan sebagai pemenang

Fenomena menghilangnya budaya permainan tradisional yang dilakukan secara luring ini, dijelaskan dalam Teori Simulakra dan Hiperrealitas, yang di gagas Jean Baudrillard. 

Argumen Baudrillard menjelaskan bahwa "simulasi" -dunia digital)- di era modern, menjadi lebih nyata ketimbang kenyataan itu sendiri (hiperrealitas). Anak muda lebih peduli pada skin karakter game mereka daripada kondisi lingkungan fisik di sekitarnya.

Menghadapi hal ini, tentu kehadiran KPOTI dibutuhkan untuk mengajak masyarakat kembali melestarikan Budaya Permainan Tradisional. Semua pihak tentu sangat mendukung apa yang dilakukan KPOTI untuk mendekontruksi teori Baudrillard, dengan cara menggelorakan kembali gerakan kembali ke alam 

Selain permainan tradisional, memperbanyak aktifitas luar ruang seperti ekspedisi budaya (memetakan situs sejarah atau konservasi sungai) adalah cara untuk memaksa individu kembali ke "realitas primer" yang tidak bisa disimulasikan oleh layar.

Semoga kelak kita bisa melihat anak muda, -mengutip pepatah cak ipoel- bermain melampaui permainan

Editorial | Masardi 

Posting Komentar

Flag Counter