Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata Batik ? Secara terminologi kata Batik berasal dari istilah amba (menulis) dan tik (titik), yang berarti menulis titik-titik pada kain. Istilah ini -tentu- belum baku, sebab ada istilah lain yakni Basmalah Titik
"Batik ialah Basmalah titik. Artinya, "kita diminta untuk memulai sesuatu dengan menyandarkan segalanya kepada Sang Pencipta", ujar sang Ibu yang menasehati Soeharsikin, karena sedang mencemaskan sang suami, Tjokroaminoto, yang tak kunjung kembali dari tetirahnya dalam misi memperjuangkan persamaan hak.
Kamus Bahasa Indonesia menjelaskan Batik (bahasa Jawa: ꌧęŚꦶęŚ꧀, translit. Bathik) sebagai kain Budaya Jawa yang memuat gambar, -yang- dibuat secara khusus lewat torehan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan.
Pada artikel ini, kita tidak akan membahas bagaimana teknik membatik, melainkan melihat lebih dalam Budaya Batik "Anjuk Ladang" yang menjadi karakter Nganjuk, sekaligus menjadi refleksi 1089 Tahun peradaban Nganjuk yang Adiluhung
Siapkan Kopi dan Camilan-nya, karena kita akan melakukan penelusuran fakta tentang budaya dan tradisi membatik di wilayah -yang kerap- disebut Kota Angin itu.
********
Membicarakan tentang Batik Nganjuk, tentu tak lepas dari pertanyaan paling mendasar, seperti apa motif ciri khas "Batik" Nganjuk? Sebelum dijawab, mari kita urai terlebih dahulu tentang Motif batik.
Dalam kaidah seni, motif bisa diartikan sebagai komponen berulang (gambar, suara, atau tema) yang di wujudkan dalam ornamen. Bagi para "kreator" desain batik, membuat motif kerap dibuat berdasarkan dorongan internal.
Syahdan, menentukan motif batik yang pas dan bisa dijadikan "Cultural Branding" tentu tidak mudah. Batik Khas Nganjuk sebagai aset budaya dapat mempengaruhi "citra unik" yang hendak di bangun sebagai branding agar Nganjuk bisa "Melesat"
Owner Batik Mangun Ayu Nganjuk, Ibu Sitta N Hasyim mengaku jika saat ini potensi Batik di Nganjuk belum "digarap" maksimal. Ia tidak menampik persepsi bahwa motif Batik Nganjuk masih dalam eksplorasi dan riset dari masing-masing pembatik.
"Selama ini yang jamak di pakai adalah simbol Jayastamba, saya sebut Simbol, sebab Prasasti itu mewakili kebanggaan - serta aset daerah yang selama ini telah di sepakati sebagai Ikonografi" ujarnya
Dalam perjalanan motif ini, Ibu Sitta menjelaskan ada beberapa jenis ikon yang dipilih sebagai simbol termasuk Angin dan Roro kuning juga dianggap ciri khas Nganjuk.
Di era Bupati Novi Rahman - misalnya - pernah diterbitkan simbol Nyawiji (7 element bersatu) yang saat itu akan di jadikan logo/motif khas Nganjuk. Dan di tengah polemik "motif" pilihan apa yang diputuskan, para pegiat Batik memilih pendekatan "inklusif" yang toleran terhadap -pesanan- konsumen.
![]() |
| Motif Bawang Merah |
Hingga akhirnya, cerita Nyawiji ikut tenggelam. Kini, di era Bupati Marhaen lebih memilih monumen "Jayastamba" sebagai icon khas pada Batik
"Jadi, motif batik -termasuk pilihan warna - apapun jika ada logo Jayastamba, maka layak di sebut batik khas Nganjuk.
********
Pelaku Seni Batik asal Nganjuk, Lamijan mengatakan setiap visualisasi yang dibuat sebagai "desain" harus memuat originalitas dan otentik
"Motif-motif batik itu umumnya berupa motif hewan, manusia, geometris, dan motif lain, namun khusus untuk Nganjuk, belum ada motif baku yang menjadi ciri khas atau menggambar karakter asli dari Nganjuk" ujar Lamijan.
Lantas apa ciri khas dari Nganjuk, saat di tanya demikian Lamijan mengatakan tren motif yang bersifat temporer dan bisa berubah - ubah sesuai pesanan.
"Jika ada pemesan, para pengrajin akan membuatkan desain, jika dianggap cocok oleh pemesan, langsung di produksi " ujarnya
BACA JUGA :
- Anjuk Ladang (1), Sebuah Akta Kelahiran di Tanah Kemenangan
- Hutan Bambu Petung, Solusi Krisis Air di Desa Ngepung
- Lukisan Abstrak, Memaknai Arti Sebuah Imajinasi
Para konsumen -kerap- memesan berdasarkan tema, sehingga corak, motif dan warna-nya dapat berubah, Karena alasan inilah, pegiat Batik asal Berbek ini menganggap motif Batik di Nganjuk masih prematur.
"Ya, kita (Nganjuk) belum memiliki desain motif yang orisinal, sehingga branding-nya lemah jika di bandingkan daerah lain" ujarnya.
Tantangan terbesar para seniman, lanjut Lamijan, justru terletak pada ide. Ia lantas membandingkan dengan desain parang, yang kini sangat populer -merupakan- hasil dari perjalanan panjang sejak era Kerajaan.
"Proses menemukan desain parang yang adiluhung itu, bukan hal yang instan, melainkan perenungan mendalam sehingga makna parang bisa diartikan secara universal" tandasnya
Ketika seniman memutuskan untuk membuat desain batik yang otentik. ia harus bergumul dengan batin dan pikiran, sebab menemukan "ide" corak dan motif di tengah ribuan motif yang sudah ada, memerlukan pendekatan yang memadukan riset sejarah, personalisasi narasi, dan inovasi teknis.
"Sebuah konsep desain Batik harus memuat hal universal dan asli, maka ia (batik) tak harus menjadi berbeda, namun -bukan berarti- meninggalkan tradisi, melainkan memberikan "ruh" atau spirit baru pada elemen yang sudah ada" tandasnya
Kini, lanjut Lamijan, desain Batik - yang banyak diadopsi-, memuat "simbol Jayastamba" Karena di dalamnya memuat spirit kemenangan, dan di harapkan bisa menjadi kebanggan warga Nganjuk agar tidak menjadi "inferior" sekaligus "superior", sebab faktanya hingga kini kesejahteraan warga, masih jauh panggang dari Api.
Lamijan secara khusus menyoroti penggunaan ikon Jayastamba yang disandingkan motif lain pada Batik khas Nganjuk. Hal ini, lanjutnya, sudah sangat pantas, dan masih butuh penyempurnaan bila di jadikan sarana "Cultural City Branding"
Bawang merah, porang, dll, di tempat lain pun ada komoditas itu. Bahkan jayastamba pun, seingatku ada prasasti berbentuk jayastamba di daerah yang lain. Artinya motif itu tidak dapat merepresentasikan / mewakili identitas atau ideologi atau apapunlah terkait orang Nganjuk.
"Kalau memang mau mengambil spirit kemenangan, coba diolah lebih mendalam. Apa yang bisa merepresentasikan spirit itu. " ujarnya
Ia pun teringat batik mega mendung yang muncul dari Cirebon. Dengan menggunakan momentum sejarah juga. "Namun, mereka bisa mengangkat batik mega mendung ke kancah yang luas dan cukup bisa merepresentasikan masyarakatnya" pungkasnya.
************
Sementara itu, Taqwa Putra Adiwijaya, praktisi desain mengatakan pemilihan ikon "Jayastamba" untuk sementara waktu bisa dijadikan diskursus "Culture Branding".
Bentuk Jayastamba, menurutnya, didominasi oleh Garis Lengkung Ogee (Ogee Arch) yang bertemu di satu titik puncak lancip.
Dalam teori desain, hal ini disebut simetri bilateral yang didalamnya memuat keseimbangan antara sisi kiri dan kanan, dan melambangkan keharmonisan, kestabilan, dan ketertiban alam semesta.
BACA JUGA :
Ia menambahkan, struktur Jayastamba dengan proporsi yang jauh lebih tinggi daripada lebarnya menarik mata ke atas, - secara- psikologis memberikan kesan megah, agung, dan transenden (hubungan antara bumi dan langit).
"Pada fraktal organik yang ada di Jayastamba, terdapat ornamen di dalamnya mengikuti pola sulur dan kelopak yang repetitif. Hal ini bisa dijadikan Isen -isen, agar motif yang di tampilkan tidak monoton, sebab kaya akan tekstur" ujarnya menyarankan
Hingga saat ini, beberapa motif Batik yang beredar di Nganjuk cukup bervariasi, mulai dari motif Brambang yang di perkenalkan oleh Butik Mangun Ayu Mangundikaran, ada juga motif Jati yang di buat oleh Butik asal Jati Greges, ada juga motif Porang yang di buat oleh Gallery Batik di Ngetos, hingga motif Angin.
Editor | Masardi








Posting Komentar