Persimpangan Jalan Pelestarian Aksara Jawa Kuno
Semoga - menjadi kata yang "pas" untuk menjadi pembuka tulisan kali ini. Sebab, jika membaca judulnya, bisa jadi akan membuat dahi Anda berkernyit -sembari bertanya- benarkah Aksara Jawa Kuna, sedang berada di persimpangan? satu jalan menuju pelestarian, satu jalan lagi menuju kepunahan.
Berangkat dari kekhawatiran inilah Yayasan Putra Nusantara menggelar Pelatihan Aksara Jawa Kuna -pertama kali - pada tahun 2022 yang digelar di Pendapa Pawinihan, Nganjuk.
Sebagai embrio gerakan melek Aksara Jawa Kuna, kegiatan ini -tentunya- harus terus di lakukan agar publik mendapatkan wawasan tentang ragam sistem tulisan tradisional (abugida) yang digunakan di Indonesia.
Apakah ini cukup? Ah, sebelum muncul selaksa tanya -dibenak Anda -itu terjawab, redaksi Pena Budaya hendak mengajak pembaca untuk mengurai satu per satu akar permasalahan ini.
Pertama, sebuah pertanyaan apakah pelestarian Aksara Jawa Kuna cukup lewat Pelatihan (short course) - tak cukup dijawab pemerintah lewat narasi "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa asing". Sebab bagi penulis, strategi pelestarian Bahasa (ibu) Daerah -lewat kebijakan bernama kurikulum muatan lokal, masih jauh panggang dari Api.
Disini, penulis tak bermaksud mendekontruksi cara berpikir yang -mungkin saja - dianggap kurang tepat, namun jika Mulok Bahasa Daerah (Carakan) saja masih belum maksimal, apalagi bahasa Jawa Kuna (Jakun).
Menanggapi hal tersebut, pegiat akᚣara Jawa Kuna, Lucky Mardianto mengatakan pembelajaran Aksara Jakun dibutuhkan untuk menyelamatkan literasi sejarah, sebab banyak prasasti, naskah, dan serat di Nganjuk pakai aksara Jawa. Contoh: Prasasti Anjuk Ladang 937 masehi.
BACA JUGA :
- Aksara jadi Algoritma, dari Lontar Menuju Unicode
- Diakritik Akᚣara Sirna, Bunyinya Tak Lagi Bermakna
- Karya Perupa, Dari Seni Benda Jadi Seni Data
Kendati kini -marak pelatihan Aksara Jawa Kuna yang digelar di sejumlah daerah, namun dampaknya -dirasa masih- belum signifikan.
Hal itu di akui oleh Lucky. Bahkan, saat di tanya bagaimana menyikapi rendahnya minat generasi muda untuk belajar Aksara Jakun, Lucky menyampaikan kiat khusus yakni dengan mengubah kata "melestarikan" menjadi "ngehack masa lalu buat masa depan". "Anak muda suka yang keren, eksklusif, punya value" ujarnya.
Kedua, rendahnya minat anak muda untuk belajar Aksara Jawa Kuna ini menjadi diskursus yang seolah tak ada habisnya. Beragam kiat dilakukan, strategi kampanye edukasi juga terus digelar lewat berbagai platform media, mulai dari konten di Medsos, Desain Kaos, hingga Sarasehan dan Pelatihan.
Hasilnya, seolah jalan di tempat dan -yang makin - mengkhawatirkan, para peserta atau pelaku-nya hanya segelintir orang yang "memang" berkecimpung dalam bidang ini, seperti Guru Bahasa Jawa, Dosen Sastra Jawa, hingga anak muda yang sekedar ingin "eksis" agar mendapat pengakuan bisa membaca prasasti atau manuskrip kuno.
*************
Sementara itu, dalam survei yang di gelar Yayasan Putra Nusantara -periode April - Mei 2026- berhasil menangkap tingginya keinginan publik terhadap belajar aksara Jawa Kuna, yang nampak dari jawaban 59 % responden dari 50 orang, menyatakan tertarik jika ada tawaran belajar Aksara Jakun.
Survei yang digelar -menggunakan metode survei daring (online survey) - juga menujukkan hasil sebanyak 35,9 % responden mengaku tertarik belajar Aksara Jakun di dorong atas motivitas rasa ingin tahu terhadap sejarah naskah kuno.
Melalui teknik CAWI (Computer-Assisted Web Interviewing), survei ini berhasil memotret minat ketertarikan akan Aksara Jawa Kuna - sebanyak 42 % responden mengaku terakhir menulis Aksara Jawa pada periode 2014 - 2022. Artinya, upaya untuk menulis Aksara Jawa yang rendah pada 2 tahun terakhir sebesar 32 % menunjukkan tingginya keinginan untuk melestarikan Aksara Jawa, tak diimbangi minat dan upaya untuk menuliskan aksara, bahkan Aksara carakan sekalipun.
Fakta ini -kendati masih prematur karena survei masih digelar - dapat di simpulkan bahwa upaya untuk pelestarian Aksara Jakun, serupa pungguk merindukan bulan.
Hal diatas senada dengan pernyataan seorang Pegiat Akᚣara Jawa Kuna, Ali Soejono, yang menyebut tantangan berat dalam upaya pelestarian Aksara Jakun terletak pada minimnya dukungan pemerintah -sebagai pemangku kebijakan- untuk memberikan ruang edukasi yang masif kepada generasi muda.
Pegiat Aksara Jawa Kuna asal Gresik ini juga mengatakan salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah melalui penambahan durasi pembelajaran serta menyediakan porsi lebih untuk belajar Aksara.
Sebagai seorang pendidik, Ali melihat kurangnya durasi materi kelas pembelajaran Aksara Jawa Carakan dalam kurikulum muatan lokal. Ia menyebut proporsi aksara Jawa Carakan hanya 15- 25 %.. Selebihnya, diisi materi membaca dan pelajaran subasita - tata krama.
"Harus ada kelas tersendiri, tak cukup mulok, dan idealnya 50 % pemahaman Jawa di perkuat Aksara CARAKAN, dan disaat itu juga bisa di selipkan Aksara Jawa Kuna" tandasnya
Ketiga, Pelestarian Aksara Jakun, lanjut Ali, dapat di lakukan lewat pemberlakuan aturan hukum, teknisnya dengan melakukan duplikasi kebijakan yang sudah ada lewat kebijakan -mewajibkan- Aksara Jawa Carakan di ruang publik.
"Pemberian nama Jalan di sejumlah daerah menggunakan Aksara Carakan, sudah mulai marak di sejumlah Kabupaten. Hal ini membawa tren positif sebagai bagian dari edukasi dan bisa dilakukan pada Aksara Jawa Kuna yang secara spesifik ditempatkan pada situs bersejarah" ujarnya
*************
Persoalan Jawa Kuna, lanjut Ali, terletak pada masalah pembakuan tata tulis. Sebab, kini muncul- penggunaan tata tulis aksara Jakun yang menggunakan tata tulis aksara CARAKAN dengan paugeran lawasan
Ia lantas membandingkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) di teken di tahun 1996, telah menetapkan pedoman standar penulisan aksara Jawa CARAKAN untuk pengajaran dan penggunaan umum. Melalui pedoman ini merumuskan penggunaan aksara dasar, sandangan, angka, dan tata cara penulisan kata serta kalimat yang seragam.
"Jika CARAKAN bisa memiliki pedoman standar, maka seharusnya Aksara Jawa Kuna juga bisa di rumuskan jenis font, dan pedoman bakunya. sebab dalam beberapa kasus pembelajaran, penggunaan titik 3 pada aksara CARAKAN tidak dapat di implementasikan pada Aksara Jawa Kuna" tandasnya
Jika Aksara Latin memiliki beragam variasi bentuk True Type Font seperti Tahoma, Times New Roman, hingga Sans dapat mendunia, tentu Aksara Jawa Kuna pun juga dapat di angkat -setidaknya- menjadi identitas otentik bagi masyarakat Jawa.
Sebab, A.ksara bukan sekedar fonetik, ia adalah DNA utama peradaban yang menurunkan genetika kebudayaan hingga kita jalani saat ini dan -hingga- nanti
Akhir kata, maraknya pembelajaran -kelas kursus -Aksara Jawa yang inisiasi oleh komunitas secara masif memberikan ruang terbuka untuk belajar, dan disinilah timbul pertanyaan. Apa upaya selanjutnya, dan apakah demi memperkuat literasi -lewat pembuatan karya tulis atau hanya sebatas ingin tahu saja? Semoga TIDAK
Editorial | Masardi
* Ilustrasi diatas merupakan Kaligrafi Aksara Jawa Kuna karya Ali Soejono



Posting Komentar