Perayaan "Flexing", Sebuah Tradisi sejak Era Klasik

Perayaan "Flexing", Sebuah Tradisi sejak Era Klasik

Daftar Isi


Mei 2026 - kita sedang berada di masa transisi dari bulan Sela (Apit) ke bulan Besar., Sela merupakan bulan kosong -yang dianggap kurang baik untuk menggelar hajat besar, namun tak berlaku bagi mereka yang sudah mulai "mencuri start" hajatan di bulan Mei ini karena sudah mendekati Bulan Besar.

Dalam primbon Jawa, Bulan Besar (yang jatuh pada Juni 2026) dianggap salah satu bulan terbaik untuk menikah. Pernikahan di bulan ini diyakini akan mendatangkan kekayaan, keselamatan, dan kebahagiaan yang melimpah.

Tapi kita tidak sedang membahas almanak Jawa - sebuah pengetahuan tradisional- yang erat dengan mitologi. Sebab, penulis akan mengajak pembaca untuk memahami satu fenomena di balik "megahnya dekorasi mantenan". 

Sebagai catatan penafian, artikel ini tak bermaksud menolak tradisi "budaya" Jawa yang kerap menggelar pesta manten geden (besar-besaran), namun lebih "tepat" di artikan sebagai dekontruksi berpikir. Perlukah menggelar sebuah "hajatan" pesta megah ?

Jamak kita melihat gemerlap pesta pernikahan yang "konon" membuat pada jomblo "minder". Bahkan, tak jarang - fenomena ini - malah membuat lelaki muda alih - alih melamar calon istri, justru sebaliknya memilih menunda pernikahan hingga batas waktu yang tidak di tentukan, atau setidaknya hingga punya modal cukup, agar tidak malu pada mertua

BACA JUGA : 

Pertanyaannya berikutnya, apakah ini budaya -yang melambangkan- kemewahan tradisi Jawa ini "wajib" kita lestarikan, dan seperti apa potret tradisi leluhur kita dahulu, sehingga kita "hari ini" harus mewarisi memori kolektif bernuansa "Royal Wedding

Simak ulasan berikut, jangan lupa siapkan kopi dan kudapannya karena kita akan menjelajah bagaimana sebuah ritus flexing itu bisa bersembunyi di balik akar budaya Jawa yang dikenal filosofi "sak madya" - apa adanya itu

***********

Pernahkah kita menyadari sebuah fakta mengejutkan di balik megahnya sebuah hajatan, tatkala sebuah kalimat "menjaga tradisi" justru di paksakan demi menjaga sebuah gengsi

Bayangkan, sebulan terakhir ini, Anda sedang sibuk mempersiapkan hari pernikahan anak perempuan -dalam tradisi jawa disebut Mantu-, yang akan di gelar Bulan Juni. 

Sebagai sosok Ayah, Anda harus memastikan semua "well prepare" mulai dari memilih dekorasi, menyiapkan daftar tamu yang akan di undang, memilih katering, hingga merinci setiap detil prosesi seperti siraman, midodaren, mapag manten, ijab kabul, hingga sinduran dan dulangan. 

Hasilnya, total biaya yang di habiskan senilai Rp 200 juta. Sejenak. Anda pun terdiam -sambil memegang kepala -  teringat seorang rekan yang bekerja di Bank Himbara untuk mengajukan pinjaman.

Ilustrasi diatas hanyalah realisme sosial yang sengaja -kami kemas- dalam prosa naratif yang mengandung unsur satire. 

Megahnya pesta pernikahan yang digelar dengan biaya mahal dan terkesan dipaksakan -menurut penulis- merupakan sebuah "ironi situasi", akibat biaya besar yang harus di tanggung demi sebuah kata "menjaga tradisi"

Fenomena diatas pernah disampaikan oleh Sosiolog Thorstein Veblen yang menyebutnya sebagai The Theory of the Leisure Class - atau Konsumsi Mencolok. Artinya, ketika orang kaya memamerkan kemampuan finansial demi mendapatkan pengakuan, di saat yang sama orang miskin "memaksakan diri" melakukannya (meski harus berutang) demi mendapatkan "citra" status yang sama.

Tradisi mempertahankan status sosial - lewat flexing- yang kita saksikan  ternyata bukan hal baru. Anda mungkin pernah mendengar anekdot tamu Majapahit yang disuguhi atraksi membuang peralatan makan berupa piring emas ke kolam Segaran di Trowulan

Dalam konteks itu, perilaku memamerkan kekayaan atau kekuasaan (flexing) -ala Majapahit - menjadi bentuk legitimasi politik. dan simbol kejayaan untuk menggentarkan nyali lawan atau membuat kagum tamu mancanegara.

Terlepas kejadian itu hanyalah fiksi atau benar terjadi, namun narasi itu seolah menunjukkan bahwa -bagi Majapahit-, emas hanyalah benda biasa yang melimpah ruah.

Sementara itu, jauh sebelum kisah "Jamuan Flexing Mewah" di kolam segaran di gelar, banyak prasasti dari abad ke-9 hingga ke-10 merinci pesta besar-besaran saat penetapan wilayah Sima (daerah bebas pajak). 

Jika kita kaitkan dalam konteks hari ini, perjamuan mewah dan pesta era Jawa Klasik, -tak ubahnya - serupa agenda seremonial yang jamak kita temui dalam kegiatan pemerintahan di era modern

Salah satu prasasti yang paling detail merinci perjamuan mewah dan jenis hidangan yang disajikan dapat dilihat dari teks berikut : 

"...muang kulasantana nira kabeh, matuha manuira, laki-laki waduan, mangan minum, tasyak, kuras, tuak, badhag, kinca..."

Berbagai bukti Prasasti juga mencatat hidangan yang luar biasa banyak, mulai dari berbagai jenis daging (kerbau, babi, kijang), ikan asin, hingga minuman keras (tuak).

Selain menyediakan hidangan mewah, para tamu yang hadir dalam perjamuan juga mendapatkan souvenir antara lain : kain pasilih (tekstil impor atau berkualitas tinggi) dan cincin emas kepada para saksi sesuai kasta tamu undangan - menjadi cara menunjukkan kemakmuran ekonomi kerajaan secara terbuka. 

Kini, tradisi memberikan "bingkisan" juga masih dilakukan. Jika dulu, Para tamu mendapatkan hadiah mewah, kini undangan yang hadir dalam pesta "hajatan" diberi Gift atau souvenir sebagai kenang-kenangan. 

Besaran nilai "buah tangan" menyesuaikan kondisi finansial -si empunya hajat- namun paling umum berupa barang yang bersifat fungsional dan estetis, seperti alat makan kayu, lilin aromaterapi, tanaman hias, atau sabun handmade.

********

Lantas apa sanksi yang harus di terima bila hajatan itu digelar biasa saja -bukan mewah- tidak sesuai ekspektasi masyarakat ? 

Jika itu Anda lakukan, maka bersiaplah untuk menjadi bahan rerasan, dan cibiran dari tetangga karena -dianggap - tak mau ikut dalam arus pemikiran, tren, atau budaya -dominan- yang di Jawa dan dianut oleh mayoritas masyarakat.

Di sisi lain, memutuskan untuk "memaksakan diri" meminjam uang di Bank demi menggelar pesta mewah justru menggambarkan ketakutan seseorang akan anggapan orang lain terhadap dirinya. 

Teori ini disampaikan Alain de Botton dalam bukunya berjudul Status Anxiety, sebuah kekhawatiran mendalam akan penilaian orang lain—apakah kita dianggap sukses atau gagal—yang dipicu oleh keinginan akan status sosial, cinta, dan rasa hormat

Bagi Anda yang "merasa kaya", tentu mengadakan pesta kecil dengan suguhan alakadarnya bisa memicu sumber kecemasan- takut- dianggap tak mampu atau tak menghargai tamu. 

Disinilah senjata "mematikan" itu hadir lewat cibiran tetangga, -yang menjelma menjadi - bentuk hukuman sosial karena gagal memenuhi "ekspektasi status" di lingkungan Anda.

Akhir kata, -sekali lagi- editorial ini bukan bermaksud menghilangkan tradisi pesta di Nusantara (khususnya Jawa) yang kerap di gelar dengan suasana megah dan mewah ala Kerajaan dulu. Kita tentu harus bijak memaknai setiap tradisi yang di wariskan leluhur Nusantara. 

Siapapun Anda, bahkan penulis sepakat bahwa sebuah perayaan (celebrate) harus di maknai dengan suka cita. Namun -yang patut di ingat-, kita bukanlah sosok selebritas, -dari kata celebrate yang artinya 'rayakan', 'merayakan'-  yang setiap gerak kita mendapatkan sorotan media massa dan tetangga. 

Editorial | Masardi

Posting Komentar

Flag Counter