Tabung Bambu, Literasi ala "Solep" di Dayak Ngaju
Kepercayaan Dayak, meyakini bahwa dunia terbagi menjadi tiga alam: dunia atas, dunia manusia, dan dunia bawah (air). Keberadaan tiga alam ini diyakini suku Dayak dan menampilkan dalam bentuk ilustrasi.
Ya, suku dayak memang tidak mengenal budaya tulis namun tradisi literasi -lebih mirip- seperti Indian, Mesir kuno yang menggunakan gambaran deskriptif. Jika tradisi mesir kuno, pun halnya kita lihat di Borobudur - memuat gambar rentetan -suksesi - suatu peristiwa.
Pada Dayak Ngaju juga mendokumentasikan suatu persitiwa bukan pada naskah, melainkan ilustrasi naratif -salah satunya- diaplikasikan pada tabung bambu (solep).
Menurut kepercayaan Dayak, tabung bambu semacam ini digunakan sebagai wadah penyimpanan ilmu pengetahuan dan hal tak kasat mata yang menjaga kesehatan dan kemakmuran pemiliknya. Tabung ini dihiasi dengan berbagai motif dan ilustrasi dengan tujuan tertentu, guna menjaganya dari roh jahat.
Tabung bambu ini memperlihatkan ikonografi atau simbol keagamaan Dayak Ngaju. Agar kita bisa membacanya, dibutuhkan cara sedemikian rupa dengan diputar dan dibalik.
Satu bagian menunjukkan adegan upacara kematian 'tiwah'. Pada adegan tersebut terdapat batang garing (pohon hayat) dan sanggaran, atau orang yang mati. Terdapat juga pendeta yang memimpin upacara dengan menabuh gong.
Selain itu terdapat pula kepala tanpa tubuh yang dikorbankan (kayau). Bagian lain dari tabung menunjukkan mihing, yaitu perangkap ikan mitologis yang mengandung barang-barang berharga, gerabah, dan sebagainya yang merupakan bekal kubur; juga makhluk-makhluk air yang mengantarkan ke alam kehidupan setelah mati.
DAFTAR PUSTAKA :
- Klokke, A.H. "Description of Bamboo tube (Solep) from Central Borneo (Kalimantan) depicting Ngaju Dayak Religious Iconography". pp. 59-68 in The Sarawak Museum Journal, The Museum Sarawak, Sarawak, 1993.
- Solep, Ilustrasi Naratif Dayak Ngaju Pada Tabung Bambu, budaya-indonesia.org




Posting Komentar