Tari Lemea, Wujud Perpaduan Gastronomi dan Koreografi

Tari Lemea, Wujud Perpaduan Gastronomi dan Koreografi

Daftar Isi

Apa jadinya jika Gastronomi Budaya bertemu dengan Seni Pertunjukan ! Inilah yang terjadi pada Tari “Lemea” yang ditampilkan mengangkat salah satu makanan khas masyarakat Rejang Lebong, yaitu lemea, makanan tradisional yang terbuat dari fermentasi rebung bambu dan ikan. 

Upaya melestarikan warisan gastronomi ini dilakukan lewat seni tari yang memperagakan gerakan energik, kompak, dan penuh makna, para siswa berhasil memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada seluruh hadirin. 

Suasana panggung semakin meriah ketika para penari tampil mengenakan busana bernuansa adat daerah dengan iringan musik tradisional yang memadukan unsur modern dan budaya lokal. 

Tepuk tangan penonton terus mengalir sepanjang pertunjukan berlangsung. Tidak sedikit wali murid yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka sebagai bentuk apresiasi atas penampilan para siswa.

Kreativitas dan kecintaan terhadap budaya daerah ini ditunjukkan oleh siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Rejang Lebong melalui penampilan tari daerah bertajuk "Lemea" dalam kegiatan Tasyakuran dan Pelepasan Siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2025/2026 

Penampilan yang dibawakan oleh siswa-siswi kelas 4A tersebut berhasil memukau para tamu undangan, wali murid, serta seluruh penonton yang hadir dalam acara - sekaligus menjadi bentuk upaya madrasah dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak usia dini.

Kepala MIN 1 Rejang Lebong, Mufidatul Chairi menyampaikan bahwa penampilan tari daerah dalam kegiatan madrasah merupakan salah satu langkah untuk melestarikan budaya lokal agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Ia mengaku bangga melihat antusias dan semangat para siswa dalam menampilkan tarian tersebut.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Tari Lemea ini menjadi salah satu bentuk pengenalan budaya lokal kepada generasi muda,” ujar Mufidatul Chairi.

Ketua Panitia kegiatan, Kurniati mengatakan bahwa penampilan tari daerah sengaja dipilih untuk memberikan warna tersendiri dalam acara tasyakuran dan pelepasan siswa. Menurutnya, penampilan seni budaya lokal mampu menjadi sarana edukasi sekaligus hiburan bagi seluruh peserta yang hadir.

Kami sangat mengapresiasi kerja keras siswa dan guru pembimbing yang telah mempersiapkan penampilan ini dengan baik. Semoga kegiatan seperti ini terus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah,”ungkap Kurniati.

Salah satu penari dari kelas 4A, Latifah mengaku senang dapat tampil di hadapan banyak penonton. Ia bersama teman-temannya telah berlatih secara rutin agar dapat memberikan penampilan terbaik dalam acara tersebut.

"Saya senang bisa ikut menari Lemea karena bisa mengenalkan makanan khas daerah kami kepada banyak orang. Walaupun sempat gugup, kami tetap semangat saat tampil,” tutur Latifah dengan penuh antusias.

Melalui penampilan tari “Lemea” tersebut, MIN 1 Rejang Lebong berharap siswa semakin mengenal dan mencintai warisan budaya daerah. Kegiatan tasyakuran dan pelepasan siswa tidak hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga sarana memperkuat karakter dan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal Rejang Lebong. (Randi/Edwinsya)

Posting Komentar

Flag Counter