Piil Pesenggiri, Falsafah Hidup yang Wajib dilestarikan di Lampung

Piil Pesenggiri, Falsafah Hidup yang Wajib dilestarikan di Lampung

Daftar Isi

LAMPUNG - Pembangunan daerah harus berjalan seiring dengan upaya menjaga dan melestarikan budaya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan zaman, masyarakat Lampung harus tetap berpegang pada nilai-nilai budaya sebagai identitas daerah.

Hal ini disampaikan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri perayaan Begawi yang digelar di Sesat Agung Komering, Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (18/7/2026)

"Kita ingin Provinsi Lampung terus maju, tetapi kemajuan itu tidak boleh menghilangkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Generasi muda harus tetap memahami dan mengamalkan Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, serta Juluk Adek sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat," katanya, seperti lansir laman lampunprov

Piil Pesenggiri adalah falsafah hidup dan pedoman moral masyarakat adat Lampung. Konsep ini mewajibkan setiap individu menjaga harga diri, kehormatan, dan tata krama dalam bermasyarakat. 

Falsafah ini menjadi landasan berpikir serta bertindak agar seseorang dapat hidup harmonis dan bermartabat, yang didalamnya mencakup empat nilai utama dalam kehidupan sosial

  1. Juluk-Adek: Menghargai nama dan gelar adat.
  2. Nemui-Nyimah: Selalu bersikap ramah, terbuka, dan murah hati kepada tamu.
  3. Nengah-Nyappur: Pandai bergaul, toleran, dan mudah berbaur dalam lingkungan masyarakat.
  4. Sakai-Sambayan: Semangat gotong royong, solidaritas, dan saling tolong-menolong.

Gubernur Mirza mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari lembaga adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah, untuk terus bersinergi dalam menjaga persatuan dan melestarikan adat istiadat sebagai warisan budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. (*)

Posting Komentar

Flag Counter