Festival Gir Sereng, Pesta Rakyat Merawat Tradisi di Pesisir Probolinggo

Festival Gir Sereng, Pesta Rakyat Merawat Tradisi di Pesisir Probolinggo

Daftar Isi

Pagi itu, deru ombak dan bisikan angin pesisir Pantai Permata Pilang menjadi saksi riuhnya kebersamaan warga. Di bawah naungan pepohonan dan bentangan alam yang hijau, Kelompok Masyarakat (Pokmas) Laba-laba RW 01 Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, menggelar sebuah Festival Gir Sereng.

Perayaan ini menjadi arena pesta rakyat yang mengusung spirit harmonis antara pelestarian budaya lokal, pemberdayaan ekonomi, dan kesadaran menjaga kelestarian alam.

BACA JUGA : 

Diresmikan langsung oleh Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin, festival ini menghadirkan suasana kekeluargaan yang begitu kental di ruang terbuka hijau pesisir.

Kawasan Pantai Permata Pilang yang asri mendadak riuh oleh derap langkah para seniman lokal. Pembukaan festival diawali oleh keanggunan lima penari dari Sanggar Tri Sukma dan gemulai tarian solois dari Sanggar Puri Rahayu.

Suasana semakin mistis sekaligus memukau saat Sanggar Gunung Gembok menampilkan drama kolosal bertajuk "Buto Ijo dan Roro Anteng". Berlatar alam terbuka, kisah asal-usul Gunung Batok di kawasan Bromo itu seolah hidup kembali, mengingatkan pengunjung akan kekayaan legenda lokal yang mengakar kuat pada alam sekitarnya.

"Melalui kegiatan seni dan budaya seperti ini, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempererat persaudaraan dan kebersamaan," ujar Wali Kota Aminuddin dalam sambutannya.

Pemanfaatan kawasan Pantai Permata Pilang sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Probolinggo menegaskan rencana strategis untuk memperluas kawasan wisata berbasis lingkungan ini hingga 34 hektare. Langkah ini disiapkan sebagai destinasi ekowisata, ruang penghijauan, sekaligus motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Semangat ramah lingkungan ini berpadu manis dengan geliat ekonomi kerakyatan. Sebanyak 23 stan UMKM dan pedagang kaki lima (PKL) menyajikan aneka kuliner serta produk lokal.

Salah satunya adalah Bu Toyibah, warga RW 03 yang sehari-hari berjualan rujak cingur. Spesial di festival ini, ia menjajakan Rujak Cingur khasnya seharga Rp10.000—lebih terjangkau dari harga biasanya.

Rujak Cingur itu dinikmati langsung di area terbuka pesisir. "Tidak apa-apa lebih murah, saya senang bisa ikut kumpul-kumpul memeriahkan lingkungan sosial melalui kuliner tradisional," tutur Toyibah penuh senyum.

Lurah Pilang, Iwan Cahyono, menekankan bahwa Festival Gir Sereng merupakan bentuk revitalisasi budaya sekaligus wujud rasa syukur warga atas rezeki dan alam yang melimpah.

"Harapannya, festival ini mampu menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas budaya Kelurahan Pilang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekowisata dan ekonomi kreatif," jelas Iwan.

Keceriaan festival ditutup dengan Lomba Tari tingkat SD se-Kecamatan Kademangan. Gelak tawa dan antusiasme anak-anak menjadi penanda optimistis: tradisi dan kepedulian lingkungan Kota Probolinggo berada di tangan generasi penerus yang tepat. (*)

Posting Komentar

Flag Counter