Napak Tilas Pasemah, Monumen Megalitik di Situs Talang Gardu
Artikel ini ditulis Soufie Retorika -bersama Amrita Rooh Hyang Terang yang ikut melakukan perjalanan dan membongkar banyak referensi bersama ibunya
Sebermula, jurnal Van Der Hoop, 1930-an memuat catatan berjudul Meghalitic Remains in South Sumatera tentang sebuah negeri Celeng. Istilah ini merujuk pada Situs Talang Gardu, di Dusun III (Talang Gardu), Desa Tanjung Menang, Kec. Tanjung Tebat Kab. Lahat, Sumatera Selatan,
Untuk sampai Situs Talang Gardu, setidaknya butuh waktu 1 jam tempuh dari Kota Lahat, dengan akses masuk -melintasi - perkebunan milik warga setempat. Dan penelusuran kali ini, saya ditemani ditemani Kadus III Arifin, bersama anaknya Finza.Sedangkan personil lain yakni Irfan Witarto, Yardi, Aan Jasudra, dan Amrita Rooh Hyang Terang yang merupakan satu tim Ini Lahat Nian, telah tiga kali turun di lokasi tersebut.
Penelusuran tim -akhirnya - berhasil menemukan 2 Lesung batu di pangkal kebun karet. Tak jauh -dari tempat itu- di dalam kebun yang juga ditumbuhi pohon kopi, ditemukan satu arca tanpa kepala yang dihiasi kalung di lehernya.
Satu arca yang rebah, dan satu batu datar yang digores, terdapat arca berbentuk dua kaki manusia dan sisi lainnya berupa kepala dan ornament lain tapi kini tertutup.
![]() | |
| batu tatahan (relief) yang dipahat hingga di sekeliling batu (Dok Pribadi) |
Dalam catatan A.N.J. Th. van der Hoop (1893–1950) juga menyebut batu datar ini memiliki panjang sekitar 1,4 meter persegi dan tinggi sekitar 1,2 meter.
Dari jurnal ini, kita bisa melihat bagaimana peran Van der Hoop -melakukan- riset mendalam mengenai kebudayaan megalitik di Sumatera Selatan.
Sebagai arkeolog dan perintis penerbangan Belanda-Indonesia, ia -tercatat- mendokumentasikan dan mempublikasikan karya penting mengenai prasejarah Indonesia, termasuk megalitikum Pasemah yang kita telusuri kali ini.
Penelusuran berlanjut, mendapati Lesung -dugaan sementara - ada 4 lubang dengan 2 lubang, di permukaan dan sebagian lubang di bawah permukaan tanah, satu lesung berbingkai sisinya dengan 4 lubang dan separuh lubang belum selesai ditatah sepertinya.
![]() | |
| lesung empat lubang dengan sebagian tertimbun dalam tanah (Dok Pribadi) |
Pemilik kebun Meti, menyebutkan di dekat arca tanpa kepala itu, -seharusnya- terdapat kepala yang berada tak jauh dari bagian badannya, namun saat penelusuran tim, kepala itu tidak ditemukan.
Sementara arca satu lagi terlihat gambaran manusia, yang sedang beraktifitas, namun relief batu - pahat 3-dimensi pada permukaan batu- memang nampak tidak begitu jelas.
**********
Hingga kini, kisah tentang Situs Talang Gardu ini tak banyak di ketahui. Menurut cerita yang beredar dari masyarakat setempat, tempat ini angker dan keramat, sehingga mereka enggan ke sana.
Kadus III Talang Gardu, Arifin menyebut daerah ini sebagai Dusun Bughuk, merujuk pada wilayah yang berada di seberang jembatan bambu dan dialiri Ayek (sungai kecil) Keruh.
"Dulu tempat ini adalah dusun lama atau Dusun Bughuk, atau pemukiman lama yang setelah itu warga berpindah ke tempat lain. Dari kecil kami lihat batu tanpa kepala ini, tapi takut dekat-dekat, sebab katanya keramat," jelas Arifin
Perjalanan dari pemukiman warga menuju Negeri Celeng di area kebun karet menempuh waktu kurang lebih 15 menit.
Ketua Tim Ini Lahat Nian, Irfan Witarto mengatakan karena lokasi tepat tidak diketahui maka dilakukan pembabatan rumput dan ilalang dan tim juga berpencar
BACA JUGA:
- Mahisa LalatÄáš , Kisah Penguasa Wilis Tulungagung
- Bluluk, Kilas Sejarah Kemakmuran Hijau di Lamongan
- Anjuk Ladang (1), Sebuah Akta Kelahiran di Tanah Kemenangan
Dalam 3 periode waktu yang berbeda, lanjutnya kami sudah tiga kali ke sini namun tak menemukan keberadaan Situs Talang Gardu, atau disebut Negeri Celeng.
"Akhirnya sama-sama berinisiatif berpencar dan menebas ilalang dan rumput lainnya. Hingga ketemu, beberapa batu megalith ini" ujarnya
![]() | |
| Arca yang tertimbun belum bisa diidentifikasi reliefnya (Dok Pribadi) |
Berdasarkan data dari BPCB Jambi menyebut Budaya Pasemah dikenal memiliki tinggalan megalitik yang unik.
Keberadaan Megalitik Pasemah merupakan situs kebudayaan batu besar berusia 3.000–4.000 tahun yang terletak di dataran tinggi Sumatera Selatan, khususnya Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, dan Empat Lawang.
Karena Keunikannya, membuat komplek Megalitik ini berbeda dengan tinggalan megalitik lainnya di Nusantara. Salah satu perbedaan "unik" yang mendasar terlihar dari bentuk arca manusia dan hewan dengan gaya dinamis
Temuan dolmen, serta kubur batu, menjadikannya salah satu pusat megalitik terpenting di Indonesia.
Secara teknis, pembuatan arca Pasemah mengikuti bentuk material batu, bahan yang ada sehingga secara visual menyebabkan bentuk arca yang bervariasi, tambun dan memiliki corak yang dinamis.
Arca megalitik Pasemah digambarkan sebagai figur manusia yang lengkap bagian kepala, badan, tangan, dan kaki. Arca seringkali digambarkan bersama hewan atau manusia lain yang lebih kecil.
Tidak hanya itu, jenis tinggalan Megalitik Pasemah terbilang beragam. Peninggalan megalitik yang ditemukan diantaranya adalah menhir, arca, dolmen, batu datar, batu gelang, bilik batu, lumpang batu, lesung batu, dan tetralith.
Selain temuan diatas, di Pasemah juga ditemukan "batu tatahan" yaitu sebuah karya seni rupa berbentuk goresan/pahatan pada permukaan batu yang menghasilkan gambar dua dimensi seperti yang ada di Talang Gardu dan Air Puar (Desa Air Puar, Kecamatan Mulak Ulu).
Masyarakat setempat mengenal lokasi tersebut sebagai "negeri celeng". Batu ini berbentuk persegi panjang dengan permukaan datar. Di atas permukaan batu ini terdapat goresan/tatahan yang menggambarkan bentuk manusia (2 dimensi).
Bagian perut hingga kaki tergambar pada permukaan batu pada posisi atas, sedangkan bagian perut-kepala berlanjut ke sisi batu yang lain (sisi utara).
Sehingga permukaan penampang batu seolah tidak cukup untuk menggambarkan tokoh manusia tersebut. Posisi kedua kaki tokoh pada permukaan batu ini digambarkan mengarah ke timur dan masing-masing memiliki 3 buah jari.
Pada kedua kaki mengenakan aksesoris berupa gelang kaki. Pada bagian pinggangnya digambarkan bentuk menyerupai nekara (?). Kedua tangan dalam posisi terangkat ke atas.
Sementara bagian kepala tidak utuh terlihat karena sebagian terbenam tanam. Bagian kepala yang terlihat hanya telinga kanan, sebagian kecil wajah yaitu bagian bibir dan sedikit ujung mata.
Van der Hoop, menyebutkan bahwa tinggalan megalitik Pasemah memiliki pengaruh kuat dari budaya perunggu.
Oleh karenanya manusia pendukung kebudayaan megalitik Pasemah dipercaya telah menggunakan peralatan yang terbuat dari logam. Dan diperkirakan peradaban Megalitik Pasemah dimulai pada abad ke-3 Masehi.
![]() | |
| arca manusia dengan ornamen kalung di leher dalam kondisi miring (Dok Pribadi) |
Arkeolog RR Tri Wuryani pernah mengidentifikasi bentuk arca Pasemah, yang dapat dikategorikan atas arca manusia, arca hewan, dan arca manusia dengan hewan.
Penggambaran arca yang bervariasi ini juga menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi -terutama- dalam bidang seni rupa atau seni pahat yang dimiliki pendukung budaya Pasemah pada waktu itu.
Bisa disimpulkan, di era kontemporer kala itu, komunitas pendukung budaya Pasemah merupakan suatu masyarakat yang sudah tertata mampu membuat seni arca yang cukup maju
Dari pahatan relief -nya pun nampak kemampuan seni pahat yang "kreatif" karena menyesuaikan dengan bahan material sehingga terkesan menimbulkan gerak miring ke samping, maju ke depan atau tegak, dan mengesankan adanya suatu aktivitas.
"Yang paling penting karakter kuat dari tatahan, yang disesuaikan dengan bentuk batu, sudah menjadi karakter khas dari Megalith Pasemah. Seperti pada batu datar yang dibuat goresan,relief, tatahan ini," ungkap RR Tri Wuryani dalam wawancara dengan penulis.
Daftar Pustaka :
- Batu Tatahan Negeri Celeng - Kebudayaan Kemdikbud
- RR Tri Wuryani, Arca-Arca Megalitik Pasemah, Sumatera Selatan: Kajian Semiotik, 2015, UI.
- Van Der Hoop, Meghalitic Remains in South Sumatera (terjemahan), 1932.







2 komentar