Soufie Retorika, Kisah Perjuangan Literasi Kopi dari Lahat
Sore itu, senja masih belum -paripurna-, semburat jingga di langit Bumi Besemah masih samar terlihat. Jarum jam di ponsel menunjukkan pukul 17.15 WIB. ini adalah saat yang tepat untuk mamandang lembayung -jika berada- di pulau Jawa.
Di sebuah rumah sederhana, saya bertemu sosok wanita saat itu duduk santai di teras. "Dari mano mas," tanya dia dengan logat khas Sumsel. "Saya dari palembang, langsung menuju kesini" jawabku.
Syahdan, saya berkunjung ke rumah ini, karena -sebelumnya, telah membuat janji. Singkat cerita, ini adalah perjumpaan kedua, usai sebulan lalu, kami berkenalan di pendopo Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan
Wanita ini mempersilahkan duduk di kursi kayu. Dari dalam rumah, menyeruak aroma kopi yang kuat. Karena penasaran, saya pun melontarkan pujian, sambil berharap bisa mencicipi, "Aroma kopi nya harum banget mbak" ujarku. "Ya, saya baru selesai ngroasting kopi lahat, sebentar lagi saya buatkan" tandasnya
Oh ya, perkenalkan sosok sederhana ini bernama Soufie, ia pemilik Retorika Coffee and Roastery di Lahat, salah satu Kabupaten di kaki Gunung Dempo. - masuk dalam gugus gunung di Bukit Barisan.
Selain, sibuk mengelola bisnis usaha kopi, ia juga kerap mendampingi petani kopi di Kab. Lahat. Dan, karena sama-sama penyuka kopi, akhirnya -jadi salah satu- alasan "kenapa" saya sampai ke Bumi Swarna Dwipa.
![]() |
| Soufie Jilbab Merah saat launching Branding Kopi Lahat 2017 |
Ya, ketika Bupati Lahat, -kala itu tahun 2017- Aswari Rifai, meminta saya dan tim untuk membuat strategi kampanye "city branding". Di momen inilah saya di pertemukan dengan Soufie, hingga akhirnya -diputuskan- memilih kopi sebagai komoditas branding bernama "Kopi Lahat" ~ Seganti Setungguan
******
Lahat, sebuah kabupaten di Sumatera Selatan, diam-diam menyimpan pesona kopi. Bukan hanya dari aspek kuantitas, melainkan kini telah masuk dalam aspek kuantitas.
Di hamparan tanah subur dan udara sejuk pegunungan, Bumi Swarna Dwipa -tertulis dalam prasasti Nalanda, yang diterbitkan oleh Raja Devapala (810-850) dari Kerajaan Pala - di gambarkan sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang melimpah. Swarnadwipa - suvarna dvïpâ dhipa mahârâja - oleh Bangsa India masa sejarah klasik untuk menyebut Sumatra - yang kita kenal saat ini.
"Salah satu keunggulan kopi Sumatera adalah karakter "aroma" yang kuat" ujar Soufie yang juga dikenal sebagai penulis, jurnalis, dan pengumpul cerita rakyat.
Bicara tentang aroma kuat Kopi Lahat, bisa jadi -menurut asumsi penulis- karena letak geografis Lahat yang berada di dekat garis ekuator dengan paparan sinar matahari yang melimpah Di tanah ini lahirlah biji-biji kopi dengan karakter kuat yang kini semakin dikenal.
BACA JUGA :
Kopi bagi warga Sumatera, bukan sekadar sajian pengusir kantuk, tapi bagi Soufie, sebuah biji kopi dari Lahat, juga memuat cerita tentang budaya, kerja keras, dan rasa cinta pada tanah kelahiran.
Sejak berdiri tahun 2016, Retorika Coffee menemani banyak pecinta kopi dengan racikan khas, yang di hasilkan lewat sentuhan seni, kreasi bertemu teknik -skill - mengolah kopi yang telah menjadi tradisi di bumi Besemah.
Bagi Jeme -sebutan untuk orang- Lahat, tradisi meracik kopi, lanjut Soufie telah di wariskan turun temurun, dan minum kopi bukan sekedar ritual, melainkan telah menjelma menjadi budaya. Kata "Budaya" disini bukan sekedar memuat kebiasaan, melainkan filosofi yang berujung pada pemuliaan tanaman kopi, dan cara perlakuan biji kopi saat di olah, hingga di sajikan.
"Minum kopi itu nikmat saat masih panas mas, "ujarnya sambil menyeruput kopi panas yang baru saja ia suguhkan. Menurutnya, ini yang disebut teknik slurping, -menyeruput kopi panas yang benar-, dengan tujuan menyebarkan kopi ke seluruh lidah untuk merasakan aroma dan notes maksimal tanpa membakar lidah
***************
Sebagai pegiat Literasi dan Kopi, Soufie mengisahkan bagaimana perilaku para petani Kopi di Lahat, -dulunya- menjual biji kopi mentah. Kini, berkat edukasi dan literasi yang cukup, produk mereka (petani kopi) semakin berkembang.
Petani Kopi yang ia dampingi, terus meningkatkan kualitas dan skala produksi. Kini, hasil panen kopi petik merah, dalam rata-rata harian bisa mencapai 5–10 kilogram, sebuah angka yang membuktikan betapa besar peran Soufie dalam membangkitkan gairah pasar terhadap kopi Lahat.
Satu hal yang membuat olahan Kopi Retorika -semakin diminati- adalah ragam jenis yang mereka tawarkan. Soufie menjelaskan perkebunan Kopi Lahat menghasilkan varian single origin, mulai dari Arabika dengan rasa halus dan asam segar, Robusta yang pekat dan bertenaga
Ada juga si unik Liberika yang belakangan jadi primadona baru dengan aroma smoky dan karakter rasa yang berbeda dari yang lain . "Tak ketinggalan, ada juga Excelsa (Paco) yang menambah warna dalam daftar cita rasa kopi" tandasnya.
Kisah Kopi Lahat terus di kabarkan lewat tulisan, dan tidak sedikit artikel yang memuat -bagaimana- perjuangan Soufie saat mendampingi petani, melalui edukasi (teknik panen hingga pengolahan) serta terlihat aktif lewat promosi -baik- lewat daring maupun luring.
Kopi Retorika pun kini sudah meluas. Dari Lahat, kopi ini merambah ke Jawa, Jakarta, Batam, Pekanbaru, hingga Jawa Timur.
Perjuangan Soufie dalam mengenalkan Kopi Lahat akhirnya berhasil lewat pengakuan Kemenkumham yang resmi menerbitkan sertifikat pencatatan kekayaan intelektual Indikasi Geografis (IG) terhadap kopi robusta Kabupaten Lahat.
Itulah kisah Soufie Retorika, seorang ibu rumah tangga - penyuka traveling ke hutan, sungai dan pantai.-, yang mengajarkan kisah tentang secangkir kopi -dari Lahat -bukan sekadar minuman.
Lewat literasi yang baik, kopi mampu menjelma menjadi medium untuk bercerita—tentang tanah yang subur, para petani yang tekun, hingga semangat untuk memperkenalkan rasa lokal ke panggung yang lebih luas.
************
Akhir kata, pada titik ini kita bisa mengambil teladan dari sosok Soufie, bahwa upaya mengenalkan komoditas "kebanggan" suatu daerah, tidak dapat diraih dengan instan. Di dalam rangkaian perjuangan panjang itu, memuat kisah tentang pengorbanan waktu, tenaga dan pemikiran.
BACA JUGA :
- Agus Marlin : Pejuang Sunyi Asal Dusun Turi
- Ageng Priyatno, El Comandante OI Crisis Center Jateng
- Suwito, Penjaga Wana Gunung Argokelono
Bagi penulis, sosok Soufie bak pahlawan tanpa tanda jasa, namanya tidak sekedar di besarkan dalam bingkai pemberitaan media mainstream yang sarat advertorial, melainkan kiprah yang membumi.
![]() |
| Soufie Jilbab Merah saat launching Branding Kopi Lahat 2017 |
Ia -seolah- menjelma menjadi cafein, - bertindak- sebagai stimulan yang larut dan -berperan besar- menciptakan rasa, aroma, dari bean kopi yang dihasilkan di Bumi Seganti Setungguan.
Editor | Masardi





Posting Komentar