Cabai Berjaya, Gerakan Tanam Cabai dan Kelola Sampah jadi Pupuk

Cabai Berjaya, Gerakan Tanam Cabai dan Kelola Sampah jadi Pupuk

Daftar Isi

Sore itu - mendung menggelayut di langit Surabaya. Beberapa sebelumnya, Kota Pahlawan sempat di guyur hujan  dengan intensitas sedang. Kendati, bukan hujan lebat- rintik air yang jatuh di persada Sukomanunggal, bak oase pelepas dahaga di tengah panasnya kota. 

Alhamdulillah," ujar Yudi, mengucap hamdalah- tatkala Air hujan membasahi puluhan tanaman cabe yang ia tanam pada lahan kosong di sudut sebuah Gang, Kec. Sukomanunggal, Surabaya

Rasa syukur yang meluncur dari bibir Yudi, -seolah menjadi jawaban atas kekhawatirannya terhadap kondisi tanaman Cabai yang terus terpapar panas menyengat. Suhu udara rata2 di Surabaya, pada bulan Mei 2026 tercatat di angka 31 - 33 derajat celsius. 

Awalnya, Yudi sempat pesimis dengan kondisi tanaman cabai ini, apalagi prediksi BMKG menyebut fenomena iklim ekstrim yang disebut Godzilla El Nino, yang konon memicu kemarau lebih kering, suhu lebih panas, dan durasi musim yang lama. 

Jika cabai ini mendapat siraman air hujan, lanjut Yudi, kondisinya lebih menyuburkan karena secara alami bebas dari kaporit, mengandung nitrogen yang siap diserap tanaman, dan memiliki tingkat keasaman (pH) yang ideal.

*************

Syahdan, kegiatan menanam Cabai di Sukomanunggal merupakan salah satu gerakan "swadaya" yang di inisiasi oleh Yudi, Padri dan Kuswari  - serta mendapat dukungan penuh dari Wardi, Ketua RT 06 RW 02 Sukomanunggal. Dalam implementasi di lapangan, lanjut Yudi, dilakukan dengan memanfaatkan botol plastik sebagai wadah media tanam

BACA JUGA : 

Kenapa memilih Cabai ? saat ditanya demikian Yudi mengaku terinspirasi dari keluh kesah warga (ibu rumah tangga) di RT 06 yang kerap resah ketika harga Cabai di pasaran terus mengalami fluktuasi. "Selain karena alasan harga yang tidak bisa di prediksi, Yudi juga ingin memastikan bahwa tanaman -yang ia budidaya menghasilkan- Cabai Sehat yang bebas dari kimia dan pestisida

"Di lahan seluas 400 meter persegi ini, - sengaja di kembangkan pola tanam organik. Karena lahannya sempit - banyak orang (instansi) menyebutnya urban farming, padahal kalimat itu terlalu mewah bagi kami, sebab gerakan cabai berdaya ini hanya sekedar pemanfaatan lahan tidur" tandas Yudi 

Gerakan ini, lanjut Yudi, dimulai dengan mengelola sampah plastik (galon bekas), serta mengubah sampah organik -limbah rumah tangga menjadi kompos, bahkan di proses menjadi pupuk organik cair. "Ketersediaan pupuk dilakukan secara mandiri lewat proses fermentasi bahan organik dan 100 % tanpa pupuk kimia, sehingga cabai yang di hasilkan lebih sehat" imbuhnya

**********

Ketua RT 06 RW 02 Sukomanunggal, Wardi menegaskan pemanfaatan lahan tidur, sebagai lokus gerakan Cabai merupakan inisiasi dari warga. "Sebuah langkah kecil - dimulai dengan mengubah lahan tidur menjadi lahan produktif untuk pertanian perkotaan ini diharapkan mampu menjadi sumber pendapatana tambahan untuk kas RT.

BACA JUGA : 

"Jadi limbah sampah botol-botol plastik bekas itu kita tampung dulu, nanti selanjutnya kita pres sebagian kita manfaatkan untuk media penanaman Cabe. Dari limbah botol plastik itu yang sudah kita pres sebagian kita jual hasil penjualan kita masukkan ke kas RT sebagai uang donasi sampah," ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Sukomanunggal Fidelia Septi Verlaidi, ST yang ditemui saat berkunjung di lahan "Cabe Berjaya Sukomanunggal" menyampaikan apresiasi atas peran warga yang mau "tandang gawe" untuk meningkatkan pendapatan sekaligus berkontribusi untuk mengurangi sampah di tingkat tapak. 

"Harapan saya tidak hanya berhenti pada penanaman pada satu jenis cabe saja tapi nantinya bisa berkembang pada jenis lain dan langkah atau gagasan warga di RT 06 RW 02 ini bisa mengurai darurat sampah limbah plastik dalam botol bukan sebagai halangan atau kendala sehingga bisa bermanfaat,” ujarnya, Rabu (20/05).

Sebagai informasi tambahan, kini  RT 06 RW 02 menjadi rintisan percontohan kampung proklim - sebuah gerakan nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong masyarakat di tingkat dusun atau RW untuk berperan aktif dalam mitigasi serta adaptasi perubahan iklim, serta menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor sampah dan serapan karbon lewat kegiatan penanaman. (*)

Posting Komentar

Flag Counter