Pranata Mangsa, Kalendar Jawa Prediksi Kekeringan Ekstrim 2027
Mas Heng, -begitu saya memanggil beliau -selama satu dasawarsa terakhir, sangat getol berkampanye tentang penggunaan pupuk organik cair. Beliau tidak sendiri, di temani mbah Parno (sesepuh Katobilan), dan Azwar (insiator TGO / Trenggalek Go Organik)
"Tahun 2025, akan terjadi kemarau basah, para petani tidak perlu takut kekurangan air" ujar mas Heng, dalam bahasa singkat padat dan jelas.
Sepintas, ucapan mas Heng -di bulan Maret 2025- itu mirip ramalan BMKG, namun karena penasaran, saya coba klarifikasi langsung dari mana informasi itu di dapatkan.
Dari mulutnya tak keluar sepatah katapun, dia merogoh tas, dan menunjukkan buku Pranata Mangsa yang ia susun sendiri dan sedang dalam proses montage.
Ya, buku mas Heng ini sudah masuk proses montage -sebuah teknik- menggabungkan berbagai sumber dan disusun secara rapi baik redaksional maupun visual untuk menciptakan karya baru yang bernilai estetika dan berguna bagi masyarakat
Pranata Mangsa, sebuah mahakarya dari para leluhur Jawa yang dijadikan pedoman baku untuk memprediksi cuaca agar memudahkan petani dalam pengambilan keputusan saat hendak menanam.
Syahdan, ketika BMKG maupun NOAA mengumumkan ancaman kekeringan berupa Badai El Nino pada tahun 2026, hal ini telah di prediksi oleh primbon Jawa.
Seperti apa Pranata Mangsa ini, dan mampukah ia memprediksi iklim secara akurat. Simak Editorial kali ini, siapkan kopi dan camilannya, karena kita membuka tabir rahasia kalendar Jawa yang bakal menjadi persaing weather forecast
******
Sistem penanggalan Pranata Mangsa, - secara epistemologi - yang kita kenal secara baku saat ini merupakan hasil kodifikasi resmi Sri Susuhunan Pakubuwana VII, Raja Kasunanan Surakarta. Kendati pengetahuan tentang musim sudah ada jauh sebelumnya, Pranata Mangsa secara formal dideklarasikan sebagai kalender administratif dan panduan pertanian pada 22 Juni 1856.
Raja Keraton Solo ini mengeluarkan kebijakan "agrikultur" berisi penetapan standar baku bagi para petani agar tidak lagi bingung menentukan masa tanam akibat variasi lokal.
Singkat cerita, tanggal 22 Juni sebagai titik nol (Mangsa Kasa) karena bertepatan dengan titik balik matahari musim panas (Summer Solstice), yang secara ekologis menandai siklus alam di Jawa.
Pakubuwana VII membagi satu tahun menjadi 12 mangsa (musim) dengan durasi yang tidak sama, mengikuti fenomena alam di tanah Jawa. Misalnya, Mangsa Katiga yang terjadi 25 Agustus - 17 September merupakan Puncak kemarau, panen palawija.
Namun, Mangsa Ketiga ini tidak berlaku mutlak setiap tahun, sebab dalam tradisi agraris Jawa, terdapat sebuah konsep siklus jangka panjang yang dikenal dengan nama Windu.
Satu Windu setara dengan 8 tahun, -yang dipakai - untuk menandai pergeseran energi alam, kondisi cuaca ekstrem, serta nasib pertanian melampaui siklus tahunan Pranata Mangsa.
Jika Pranata Mangsa berisi rekomendasi bulanan yang mencatat rasi bintang dan perilaku hewan dalam satu tahun - untuk menentukan kapan harus menanam -, maka siklus Windu adalah pengatur intensitas yang memuat rekomendasi tahunan.
BACA JUGA :
- Badai Super El Nino, Ancaman Kekeringan Parah 2026
- Ilusi Dana Iklim, Otak Atik Hutan Penyerap Emisi
- Agus Marlin : Pejuang Sunyi Asal Dusun Turi
Masyarakat Jawa Kuno menyakini jagad gede melakukan rotasi siklus arah perubahan setiap 32 tahun sekali. Dalam fase ini memuat 4 fase Windu yang masing-masing berdurasi 8 tahun. Setiap Windu memiliki karakteristik cuaca dan "watak" alam yang berbeda.
Kita mulai Pertama fase Windu Adi, yang melambangkan periode yang tenang, subur, dan penuh keselamatan. Curah hujan biasanya teratur dan mendukung hasil panen yang melimpah.
Kedua, disebut fase Windu Kunthara, yang memuat pertanda alam berupa cuaca sering berubah-ubah, namun tetap memberikan harapan bagi sektor pertanian jika dikelola dengan cermat.
Siklus Ketiga di beri nama, Windu Sangara, kerap dianggap sebagai periode yang sulit. Secara tradisional dikaitkan dengan risiko kekeringan, hama, atau anomali cuaca yang dapat mengganggu ketahanan pangan.
Dan Keempat, siklus terakhir, Windu Sancaya, merupakan periode konsolidasi alam, ditandai dengan cuaca -cenderung- stabil dan saat yang tepat untuk menata kembali sistem pengairan atau infrastruktur desa.
*********
Pada empat fase sebuah siklus setiap 32 tahun itu, di bagi lagi kedalam delapan tahun. Hal ini menandakan scara tradisional, masyarakat Jawa telah memiliki "sistem peringatan dini" melalui siklus 8 tahunan (Windu)
Dalam kajian kosmologi Jawa memuat siklus 8 tahun (Windu), yang didalamnya terdapat tahun-tahun yang secara spesifik diberi watak seperti "Anila" (Angin), "Anggara" (Panas/Membara).
Penamaan tahun yang telah di beri sifat, seolah menjadi bukti bahwa waktu (kala) bukan sekedar hitungan atau catatan diatas kertas, melainkan entitas yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat Jawa Kuno.
Lantas, bagaimana Leluhur Jawa melihat fenomena El NiĂąo -secara statistik - memiliki pola pengulangan berupa siklus antara 2 hingga 7 tahun.
Para leluhur sadar bahwa setiap siklus beberapa tahun sekali, akan ada "tahun panas" yang - dalam terminologi modern- kita kenal sebagai tahun - tahun El NiĂąo panas
BACA JUGA :
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
- Fitotoponimi, Daftar 73 Desa Nama Tumbuhan di Nganjuk
- Polemik Korelasi Festival Pu Tajum dalam Prasasti Anjuk Ladang
Jika kita kalibrasi -merujuk- prediksi BMKG di tahun 2026 (Tahun Ehe), potensi kemarau akan lebih panjang, pola hujan - di bulan November hingga Desember 2026- terkadang menjadi sulit ditebak karena sering "tertiup" atau bergeser oleh sirkulasi angin yang kencang.'
Prediksi iklim di tahun 2026, -masuk dalam siklus sewindu tahun kedua- leluhur Jawa memberi nama "tahun Ehe" yang berwatak Anila, yang ditandai dengan angin kencang atau badai.
Puncak El NiĂąo di tahun 2027 bertepatan dengan Tahun Jimawal, tiyang Jawa kuno menyebutnya kondisi Paceklik atau Gering yang ekstrem.
Tahun 2027, masuk tahun Jimawal, yang berwatak Anggara, para leluhur kerap mengingatkan kejadian pola berulang -seperti bencana sebelumnya - akan mengalami fase panas kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Memahami Titi Kala Mangsa berarti menyakini akan tiba suatu masa (kejadian) dan harus bersiap untuk menghadapi (mitigasi). Upaya ini erat kaitannya dalam menjaga keseimbangan kosmis -Jagad gedhe - makrokosmos, dan jagad alit mikrokosmos, serta berguna sebagai rujukan strategi pengurangan resiko bencana.
***********
Akhir kata, merujuk pada Kalendar Jawa ini, kita tentu patut mewaspadai kemarau dan angin di pertengahan 2026, dan ancaman kekeringan ekstrim siap mengintai di tahun 2027. .
Pranata Mangsa dan Siklus Windu bukan sekedar kalendar yang hanya di baca oleh petani, namun kitab (primbon) ini memuat prediksi akurat tentang iklim yang memuat pandangan hidup terkait penyatuan manusia, alam, dan Tuhan.
Melalui studi literasi -yang sehat- dengan pendekatan empiris dan dukungan data yang komprehensif, kita dapat belajar dan membuka kembali setiap lembar catatan para pendahulu kita.
Maka pesan untuk generasi muda sebagai tiyang jawi, sembari mengingatkan kembali bahwa istilah Tihyang, -bukankah itu- berarti Titisan Hyang.
Editor | Masardi





Posting Komentar