Gapura Paduraksa dan Filosofi Terpendam di Makam Sendang Duwur Lamongan
Gapura - bagi masyarakat Islam Tradisional Jawa kerap diartikan sebagai "ghofura" (atau ghafur) sebagai bentuk etimologi rakyat (folk etymology) atau metode cocoklogi budaya yang sangat populer dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, khususnya saat era Walisongo.
Secara linguistik dan filosofis, kaitan kedua kata ini kemudian dijabarkan dalam dua konteks bahasa yang berbeda. Gapura berasal dari Bahasa Sansekerta, gopuram (gerbang menuju kompleks suci/pintu gerbang utama). Dalam arsitektur Hindu-Buddha, gapura berfungsi sebagai pembatas antara area luar (profan) dan area dalam yang suci.
Sedangkan Ghofura / Ghafur (Bahasa Arab), berasal dari akar kata ghafara, yang berarti mengampuni atau menutupi dosa. Al-Ghafur artinya Yang Maha Pengampun.
Ketika dua kata ini kemudian di lekatkan pada satu "konteks: ibadah, maka terjadilah apa yang disebut "Sinkretisme" pada kedua kata ghafara (Arab-Islam) dan gopuram (Sansekerta-Hindu).
Dalam konteks ruang peribadatan, padanan kata ini bisa dijadikan contoh paling jenius dari akulturasi linguistik dan spasial di Nusantara - yang di lakukan oleh penyebar ajaran Islam di era Walisongo.
Ketika para penyebar Islam di tanah Jawa mendapati masyarakat sangat menghormati gopuram sebagai struktur yang megah dan sakral, mereka tidak meruntuhkannya secara fisik maupun kultural. Para pendakwah ini membangun narasi yang memuat pesan sublimasi (bawah sadar)
Dan benar saja, narasi ini terus memiliki efikasi yang kuat sebab dalam kajian secara akademis dan filosofis, titik temu kedua konsep ini tidak hanya terjadi pada kemiripan bunyi (fonetis), melainkan pada pergeseran fungsi ruang profan-sakral yang dijembatani oleh ajaran mistisisme (tasawuf).
Sinkretisme ini mewujud secara visual pada Gapura Paduraksa Bersayap (seperti yang ada di Sendang Duwur, Lamongan, atau Masjid Menara Kudus). Secara struktur fisik, Paduraksa adalah gopuram Hindu berbentuk punden berundak yang memiliki atap menyatu. Namun, relief dan simbolismenya dimaknai ulang melalui kacamata Islam:
Simbol Sayap dalam kosmologi Hindu, sayap sering dikaitkan dengan Burung Garuda atau kendaraan para dewa (wahana). Sedangkan dalam tafsir Islam, lambang ini disinkretiskan dengan konsep Buraq (kendaraan mi'raj Nabi) atau sayap malaikat yang menaungi orang-orang yang mencari ampunan.
Melewati gapura bersayap diartikan sebagai simbol "terbangnya" atau lepasnya jiwa manusia dari belenggu keduniawian menuju hadirat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Ghafur). Maka benarkah ini hanya sekedar - othak athik gathuk ? Wallahu a'lam bish shawab
**************
Membahas Filosofi Gapura tentu tidak lepas dari dua jenis yakni Bentar dan Paduraksa. Dan, jenis terakhir inilah yang akan kita bahas kali ini. Paduraksa yang berdiri kokoh di komplek makam Sendang Duwur hingga sekarang, bukan hanya sebagai peninggalan masa lampau yang diam tanpa ada arti khusus bagi Lamongan.
BACA JUGA :
- Lamongan di Bingkai Sejarah dan Politik Ingatan
- Bengawan Jero, Nadi Peradaban Lamongan yang Tergenang
Lebih dari itu, gapura yang terletak di Desa Sendang Duwur, Paciran, Lamongan sebagai rangkaian budaya penting dengan akulturasi budaya yang kuat menjadikannya memiliki nilai sejarah tinggi.
Untuk membedah itu, Tunas Mandiri bekerjasama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, menggelar seminar kebudayaan bertajuk "Bedah Sejarah, Makna, dan Fungsi Gapura Paduraksa Bersayap Sebagai Ikon Budaya Kabupaten Lamongan” yang dihelat di Auditorium Gedung Manakib Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan, Minggu, 17 Mei 2026.
Praktisi dan Peneliti Tipologi Nisan, M. Yasir Arafat mengatakan Makam Sendang Duwur merupakan kontinuasi dari peradaban sebelumnya. Dan memang seperti itu paugeran (aturan, pedoman, atau ketentuan yang mengikat) peralihan peradaban yang diawali oleh para pendahulu peradaban Islam di Jawa.
"Lanjutan warisan itu dilakukan dengan tidak merusak. Pemberian tafsir atau makna baru yang terjadi dalam rangka mendekatkan masyarakat Jawa untuk tidak menghilangkan kebaikan-kebaikan yang sudah ada sebelumnya,” ungkapnya
Gapura Paduraksa, lanjut Yasir bukan hanya sekedar ornamental atau maskot kabupaten. Ada upaya-upaya untuk menghidupkan agar masyarakat dapat berinteraksi dengan waktu.
"Salah satu yang bisa dilakukan atau mengaplikasikannya dengan slametan yang mempunyai pola tersendiri. Itu bisa menjadi pelengkap, sehingga gapura ini tidak hanya diadaptasi menjadi ornamen," terangnya.
Penggalakan tradisi Ngangsu Kaweruh (menimba ilmu atau mencari pengetahuan) tentang kebudayaan kuno kepada masyarakat menjadi kaitan kuat dalam menjaga peninggalan.
"Ngangsu Kaweruh sedapat mungkin digalakkan kepada masyarakat , supaya pemahaman seperti konservasi situs bisa dijaga bersama-sama,”tambah Yasir.
Dosen UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta ini menambahkan pemahaman peninggalan kebudayaan, tidak hanya pada masa lalu, tapi di masa kini bisa kita perjelas untuk meletakkannya sebagai warisan dari para pendahu kita
Sementara itu, Tim Ahli Cagar Budaya dan Dosen UII Dalwa, Rakai Hino menjelaskan tinjauan prasasti atau sumber tertulis, Sendang Duwur jelas dapat ditemukan di masjid, pada Candra Sengkala yakni tahun 1483 Saka atau 1561 Masehi. Untuk Gapura Paduraksa, jika dilihat dari peninggalannya, seperti arca-arca dibawah pelataran menunjukkan keberadaannya sebelum masa Islam.
Sumber tertulis jelas bisa dilihat pada Candra Sengkala. Dari angka tahunnya jelas itu masa Islam atau peralihan Kerajaan Hindu Budha, Kerajaan Islam masa klasik ke masa madya.
"Tapi kalau dilihat dari peninggalan lain, seperti arca Shiwa atau Wisnu di bawah pelataran, dan yang lainnya yang identik dengan Budha menjelaskan keberadaan Gapura Paduraksa sebelum masa Islam, terang Rakai Hino.
Penyajian data dari para narasumber menunjukkan Gapura Paduraksa telah menjadi gerbang sejarah dan identitas kabupaten Lamongan. Namun sejarah lokal yang telah tergali masih belum banyak menyentuh pelajar.
Penelitian Sejarah Lamongan ini perlu di giatkan, sebab menurut Dosen Unisda, Bisarul Ihsan - pelajar di Lamongan masih kurang mengetahui budaya lokal. Mereka lebih mengetahui budaya luar. Kearifan lokal sebenarnya bisa dimasukkan dalam materi pembelajaran di sekolah.
BACA JUGA :
- Bluluk, Kilas Sejarah Kemakmuran Hijau di Lamongan
- Lesbumi - Arpusda Lamongan, Inventarisasi Naskah Kuno
"Anak-anak kita ini, khususnya di Lamongan kurang mengetahui budaya lokal. Padahal di Lamongan memiliki banyak kearifan lokal yang patut dipelajari, namun mereka lebih mengetahui budaya di Lamongan.
Alangkah lebih baiknya jika kearifan lokal itu disisipkan pada materi yang diberikan di lingkungan sekolah melalui bahan ajar yang dibuat oleh guru ataupun instansi-instansi lembaga pemerintah yang terkait. Jadi mereka langsung mengetahui apa saja yang ada di Lamongan.
Dengan mengetahui kearifan lokal tersebut, tentunya budaya-budaya yang ada akan hidup, karena generasi-generasi ini mengetahuinya,” terangnya.
***********
Pada kesempatan akhir, Sahrul Munir mengatakan, selanjutnya bisa diteruskan dengan kajian dari yang telah disampaikan narasumber. Sehingga Paduraksa tidak hanya sekedar gapura namun penuh makna.
"Usai seminar ini, maka bisa di follow up dengan membuat kajian-kajian yang telah disampaikan oleh para narasumber, baik tentang sejarah maupun nilai-nilai yang ada di Sendang Duwur, dimana memiliki beberapa nilai yang bisa kita implementasikan secara mendalam sehingga, Padureksa tidak hanya sekedar gapura, tetapi di dalamnya penuh dengan makna seperti sisi mistika dan tasawuf juga ada di dalamnya,”tuturnya.
Dalam kesempatan ini juga, ia mendorong adanya kajian dalam tiga bulan sekali yang dilakukan dinas terkait, dan siap untuk mediasi.
"Kalau itu dikaji, misalkan tiga bulan sekali, saya yakin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan siap. Nanti bisa berkolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, dan Insya Alloh saya siap untuk mediasi biar keduanya bisa bergiliran untuk melaksanakan diskusi kajian secara mendalam dalam triwulan atau momen padang bulanan,”pungkas Gus Sahrul sapaan akrabnya.
Seminar membahas Gapura Paduraksa ini sebagai pelaksanaan program Tunas Mandiri secara roadshow dari kampus ke kampus dengan mengangkat tema sejarah dan kebudayaan di Lamongan.Hadir dalam seminar, Muhammad Hafidh Nashrullah (Rektor Unisda), Bustanul Habibi (Tunas Mandiri), M. Yasir Arafat (Praktisi dan Peneliti Tipologi Nisan dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Rakai Hino (Tim Ahli Cagar Budaya dan Dosen UII Dalwa), Bisarul Ihsan (Dosen Unisda), Sahrul Munir (Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan), Lesbumi Lamongan, Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, wakil Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, wakil Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan, mahasiswa Unisda serta para pegiat sejarah. (*) Alineasatu




Posting Komentar