Arianto Dedi, Penjaga Wana Lambosir Gunung Ciremai

Arianto Dedi, Penjaga Wana Lambosir Gunung Ciremai

Daftar Isi

Pagi itu, lelaki muda sedang menapaki jalan, -sebuah jalur akses- menuju gunung Ciremai. Derap langkahnya pasti - seolah - sedang bergegas untuk tiba di lokasi tujuan. Yakni, Puncak Bukit Lambosir, yang berada kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai atau -disingkat- TNGC

Tugas rutin ini, ia ditemani beberapa tim Jaga Wana sekaligus pengelola Ciremai Green Lambosir - sedang melalui patroli rutin - di Bukit Lambosir masuk dalam TNGC. Sebuah kawasan di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Lokasi Bukit Lambosir, dikelola Koperasi Ciremai Green Lambosir bersama pihak TNGC sebagai destinasi wisata alam, perkemahan, dan pengamatan habitat hutan

Oh ya, perkenalkan lelaki penjaga Wana ini bernama Dedi Arianto, -penulis mengenalnya - sebagai sosok aktivis konservasi di gunung yang konsern dalam memberikan edukasi kepada anak muda -pendaki-, dan wisatawan yang berkunjung ke TNGC. 

"Aktivitas kami -sebagai Jaga Wana- di Bukit Lambosir, bukan semata-mata berorientasi ekonomi, sebab ada tanggung jawab menjaga kelestarian ekologi di Gunung Ciremai" ujarnya 

Pemilik nama lengkap Dedi Arianto itu menuturkan Budaya Pelestarian Alam -seakan- tidak bisa lepas dari "nafas" keseharian masyarakat di sekitar Gunung Ciremai. Ia seolah melekat dan menjadi tradisi -ritus- penganut faham ecosentris

BACA JUGA : 

Masyarakat Sunda percaya bahwa gunung seperti Ciremai merupakan tempat bersemayamnya para leluhur (Hyang), sehingga aktivitas merusak hutan di gunung Ciremai -dan gunung lain di tanah Sunda- itu sama halnya dengan menyinggung kehormatan leluhur. 

Ia mengutip pepatah Sunda yang berbunyi: "Gunung ka-itran, lebak ka-ancikan, lembah ka-awakan."

"Pepatah diatas berarti Gunung tempat berlindung, lembah tempat menetap, dataran tempat hidup." imbuhnya

Salah satu tradisi Sunda yang hingga kini masih lekat di Kawasan Gunung Ciremai adalah Upacara adat Kawin Cai. Kendati menggunakan kata Kawin, namun ritus ini tak ada hubungannya dengan pernikahan manusia, melainkan metafora dari ritual menikahkan Air.

"Ritual Kawin Cai dilakukan dengan mengambi air dari mata air Gunung Ciremai -karena dianggap suci-, kemudian dicampurkan dengan air yang diambil dari sumur warga. Setelah itu, air tersebut diarak keliling desa dan disiramkan ke lahan pertanian. 

Menurut kisah Folklor, ritus ini berakar dari kisah Resi Makandria (Sang Kebowulan). Sang Resi dipercaya -pernah- menjalani laku tapa brata di Talaga Balong Dalem. Saat bertapa inilah, beliau -konon- diejek sepasang burung lantaran tidak memiliki pasangan. 

Dalam keheningan "bertapa" inilah beliau mendapat petunjuk. Singkat cerita, ia memohon kepada Resi Guru Manikmaya dari Kerajaan Kendan, dan akhirnya - dijodohkan - putrinya bernama Pwah Aksari Jabung.

Karena merasa paras calon istrinya terlalu cantik, mereka akhirnya bertransformasi: Pwah Aksari menjadi kijang dan Resi Makandria menjadi kerbau bule. Hikayat masyarakat lereng Ciremai meyakini hasil pernikahan itu melahirkan Pwah Bungatak Mangalengale, yang kelak dipersunting pendiri Kerajaan Galuh, Sang Wreti Kandayun.

Terlepas dari kebenaran kisah itu, rakyat -hingga kini- masih memegang teguh tradisi itu. Pada saat memasuki musim tanam, masyarakat Desa Babakanmulya, Kuningan, menggelar - tradisi Kawin Cai. Mereka memanfaatkan air di Telaga Balong Dalem sebagai bentuk penghormatan terhadap Resi Makandria, sekaligus memuliakan mata air yang menjadi sumber kehidupan mereka.

********

Pria peraih penghargaan Teladan I Kader Konservasi Provinsi Jawa Barat ini pun menuturkan, dalam tradisi Sunda mengenal tigas istilah filosofi yang memiliki akar kuat dalam menjaga hutan yang disebut "Leuweung Ka'amanan" atau bisa diartikan sebagai Hutan adalah Amanah.

Struktur ruang peradaban Sunda, lanjut Arianto, membagi hutan menjadi tiga zona fungsional yang sangat ketat: Pertama, Leuweung Larangan, merujuk pada kawasan "Larangan" yang -sama sekali- tak boleh dimasuki atau dieksploitasi karena fungsinya sebagai pelindung hidrologis (sumber air) dan habitat plasma nutfah. 

Kedua, Leuweung Tutupan, merupakan Kawasan hutan "titipan" yang dijaga sebagai cadangan untuk masa depan, hanya boleh diambil hasilnya dengan izin tetua adat untuk kepentingan komunal.

Ketiga, Leuweung Baladahan, yakni istilah untuk area yang diizinkan untuk dikelola sebagai lahan pertanian atau pemukiman.

Ketiga Zona itu, menurut Arianto, telah di terjemahkan dalam bahasa modern, sehingga penetapan status Taman Nasional di Gunung Ciremai menjadi bukti kuat atas ruang konservasi yang bernama Hutan Leuweung Larangan. 

Namun, ia kini menyayangkan munculnya aktivitas penyadapan pinus di kawasan TNGC. Melihat aktivitas ini, Arianto secara tegas mengecam penyadapan getah pinus tersebut. 

"Kendati aktivitas itu dilakukan di Kawasan Leuweung Tutupan , yang merupakan zona tradisional, namun -jika terus berlangsung-, kegiatan tersebut dapat merusak ekosistem hutan di Gunung Ciremai" ujarnya

Kekhawatiran pria yang terpilih -menjadi teladan III-  kader konservasi Wana Lestari tingkat Nasional ini cukup beralasan, sebab jika pinus mati, maka fungsi ekologi di kaki gunung Ciremai akan terganggu

Menyikapi hal itu, ia bersama rekan aktivis di Ciremai terus melakukan advokasi dan mendorong pemerintah untuk bertindak tegas. 

**************

Berkat ketekunannya menjaga Hutan. Arianto bersama rekannya di koperasi Ciremai Green Lambosir (CGL) di beri amanah mengelola kawasan konservasi di Bukit Lambosir, TNGC. Amanah ini menjadi bukti serta bagian dari dukungan pemerintah dalam hal penguatan kapasitas sekaligus memberikan edukasi ke masyarakat. 

Dalam keseharian saat ini, Ia bersama Ketua Koperasi Ciremai Green Lambosir, Beni Putra Pamungkas, semakin sibuk mengembangkan Kawasan Wana Wisata itu. Berbekal surat izin resmi PB-PJWA dari Kementerian Kehutanan, pengelolaan wana wisata ini menjadi lebih tertata dan makin fokus mendukung kerja konservasi. 

BACA JUGA : 

By the way.. bagi pengunjung penasaran bertemu Kang Arianto, atau ingin berkunjung ke Bukit Lambosir, dapat menempuh jalur darat. Rutenya dari Linggarjati menuju gerbang Desa Setianegara

Rute menuju lokasi cukup menantang dan ekstrem, terutama bagi kendaraan bermotor, karena kondisi jalan yang terjal dan rusak parah dengan bebatuan.

Akses kendaraan bermotor -setidaknya- membutuhkan skill yang ekstra, sedangkan bagi pejalan kaki, waktu tempuh sekitar 2 jam - menapaki jalan menanjak - yang cenderung landai namun menantang. 

Panorama di Bukit Lambosir menyuguhkan pemandangan menakjubkan Gunung Ciremai yang berada tepat di depan mata. 

Menurut Arianto, pada bulan April hingga September, merupakan saat yang tepat berkunjung ke Gunung Ciremai, sebab inilah waktu terbaik melihat Milky Way (Bima Sakti)

"Sedangkan Juni-Agustus, di atas Bukit kita bisa menyaksikan  langit cerah tanpa awan tebal, sambil menatap pemandangan sempurna Galactic Core (pusat galaksi) " ujarnya sambil promosi .

Bagi pembaca Pena Budaya yang hendak berkunjung ke Wisata Alam Bukit Lambosir, silahkan bisa menghubungi https://wa.me/6282316263922 atau https://wa.me/6281394249364 , bisa juga langsung menuju ke lokasi dengan klik peta Google Map : https://g.co/kgs/JVyC1RG

Editor : Masardi

Posting Komentar

Flag Counter