Keuneunong, Manuskrip Pertanian Masyarakat Aceh

Keuneunong, Manuskrip Pertanian Masyarakat Aceh

Daftar Isi

Peradaban Aceh memiliki budaya peradaban Islam yang maju dan mengalami era kejayaan, hal ini di buktikan dengan karya literasi berupa manuskrip pertanian yang "konon" ditulis di era Kesultanan Aceh Darussalam

Manuskrip pertanian ini merupakan hasil Karya ulama dayah tempo dulu, dan salah satu karya literasi tanaman di Aceh yang menghiasi buah karya ulama Aceh seperti Tajul Muluk (Mahkota Raja). 

"Manuskrip ini menjadi referensi keilmuan tradisi pertanian di Aceh masa lalu, yang harus diketahui oleh pakar tanaman, intelektual dan generasi petani masa kini," kata Bustami Usman.[1]

Naskah tradisi bercocoktanam ini merupakan milik Tarmizi Abdul Hamid ini terdiri dari beberapa halaman.

BACA JUGA : 

Dari karakter tulisan dan bahasa menunjukkan usia lebih tua, sedangkan dari sisi kodikologi usia kertas berasal dari Eropa yang memiliki watermark (cap air) berbentuk Bulan Sabit Sejajar bersusun tiga [1]

Tarmizi Abdul Hamid menyebutkan, dari cap air dalam kertas tersebut dapat diketahui bahwa kertas manuskrip ini berasal dari Venice, Italia, produksi tahun 1725. 

Sementara teks tentang tanaman ini ditulis dalam aksara Arab-Jawi berbahasa Melayu dengan Karakter tulisan khat naskhi berwarna hitam dan rubrikasi merah," ujarnya lagi.

Bab tentang tanaman dalam manuskrip yang sudah sangat uzur ini, tersusun dalam satu bundel dengan judul atau pembahasan penting lainnya. 

Kondisi diatas, memperkuat dugaan bahwa teks ini menjadi bacaan harian sebagai ilmu pengetahuan ataupun pegangan dalam bercocok tanam pada masa lalu.

"Ini menunjukkan keseriusan para endatu (pendahulu) merekamnya baik melalui penuturan (lisan) maupun tulisan (naskah),."katanya. 

Pada manuskrip ini juga memuat sistem pertanian yang disebut keuneunong [2], -atau yang lazim di sebut Keunong- sebuah sistem kalender atau penanggalan oleh masyarakat Suku Kluet di provinsi Aceh

Isi manuskrip ini merujuk pada metode bercocok tanam serta instrumen pendukungnya, seperti arah angin, peredaran matahari, dan musim, dalam melakukan bercocok tanam. [2]

Sistem ini berkaitan dengan musim menanam padi atau bersawah, dan jenis tanaman pertanian lainnya yang didalamnya antara lain berisi [1]

  • Penentuan bulan dalam tahun Hijriah, hari, waktu ke waktu, permulaan menanam tumbuhan secara serentak. 
  • Efek samping terhadap tanaman, pencegahan segala penyakit dan musuh tanaman (hama).
  • Tanaman yang berbatang banyak baik ditanam pada hari Ahad. 
  • Tanaman yang berbuah di dalam tanah sangat baik ditanam pada hari Isnin (senin) dan seterusnya 
  • Tanaman kategori batang, berbiji, dan berbuah di atas tanah sebaiknya ditanam pada waktu bulan baik dalam Hijriah,”

Sistem Perhitungan atau penanggalan Keuneunong ini, juga memuat metode penentuan waktu bercocok tanam, secara khusus untuk melihat waktu yang tepat untuk turun ke sawah. 

Penanggalan Keuneuong ini merujuk pada kondisi musiman, di mana biasanya tanggal tersebut akan jatuh di tanggal ganjil.[2]

The Atjeher menyebut "Keuneunong" telah diawali pada Keuneunng dua ploh lhee (diartikan dengan tanggal 23 Jumadil Akhir, merujuk pada tahun Hijriah). [3]

Pada Keuneunong ini, biasanya padi-padi di sawah mulai menguning, banyak yang mulai rebah dan menjadi puso karena angin timur yang sangat kencang. 

Artinya bahwa, situasi di sawah juga dijadikan sebagai acuan untuk melihat waktu yang tepat untuk melaut. Jadi, dengan menanam padi sesuai Keuneunong, maka bisa digunakan juga untuk melihat tanda-tanda yang baik pergi berburu ikan di laut.[4]

Dalam bahasa orang Kluet [5] atau bahasa Jamee (Melayu), sawah biasanya disebut payo, dan dibagi menjadi dua golongan sawah, yakni "sawah tadah hujan" dan "sawah dengan irigasi". 

Keuneunong juga menginformasikan setiap kelebihan serta kekurangan selama menanam pada bulan-bulan tertentu. 

Para nelayan dan petani tradisional di Aceh juga hingga saat ini masih memakai keuneunong sebagai dasar perkiraan untuk melaut dan bertani jenis tanaman lainnya selain padi, misalnya pada bait berikut 

dalam "hadih maja": di mana "Keunong siblah tabu jareung", "keunong sikureung rata-rata", "keunong tujoh pih jeut mantong", "keunong limong ulat seuba".

Artinya : 

pada keunoeng sebelas (11) lebih baik benih padi disemai dengan jarak yang jarang. Lalu Keunong sembilan (9) arrinya harus ditabur rata. 

Lalu Keunong tujuh (7) juga diartikan masih bisa tabur, tetapi keunong lima (5) artinya masuk musim datang berbagai jenis ulat-ulat daun.[4]

Editor | Masardi 

Referensi 

  1. Bustami Usman, Kepala Dinas Badan Dayah Provinsi Aceh, "Badan Dayah Aceh Pamerkan Manuskrip Tanaman", 10 Mei 2017, Portalsatu.com
  2. Agnes, Priscila "Keuneunong, Sistem Kalende Persawahan Suku Kluet". www.wacana.co.
  3. Snouck Hurgronje, The Atjeher 1985, diterjemakan oleh NG Singarimbun, 
  4. "Keuneunong, Model KATAM Aceh Sejak Dulu". www.nad.litbang.pertanian.go.id.
  5. Suku Kluet, Aceh". www.wacana.co.

Keterangan :

Tajul muluk atau ilmu Tajul adalah istilah yang paling kerap dipakai untuk merujuk sistem geomansi Melayu yang berisi pengobatan herbal, astrologi, penafsiran mimpi. Sistem ini di pakai dan dipraktikkan oleh dukun atau bomoh dan arsitek Malaysia dan Indonesia untuk menentukan tempat atau merancang bangunan untuk memperbaiki dan mempertahankan keberadaannya. 

Khat naskhi, atau juga disebut badi’, muqawwar, dan mudawwar, merupakan salah satu jenis khat yang sangat indah dan mudah dibaca oleh siapapaun. Khat ini dinamakan sebagai khat naskhi karena tulisannya dipakai untuk menasakhkan atau membukukan Al-Qur'an serta berbagai naskah ilmiah yang lain.

Posting Komentar

Flag Counter