Penjaga Arus Zaman, Jejak Naditira Pradeca di Tangan Mukhid

Penjaga Arus Zaman, Jejak Naditira Pradeca di Tangan Mukhid

Daftar Isi

Penulis | Suyono 

Di tepian Sungai Bengawan Solo yang tenang namun menyimpan tenaga purba, seorang pria berdiri kokoh di atas geladak kayu. Namanya Mukhid. Bagi warga Desa Kemiri dan Ngraho, pria berusia 35 tahun ini adalah jembatan hidup yang menghubungkan dua daratan. 

Namun, di mata sejarah, Mukhid adalah pewaris garis keturunan yang jauh lebih tua dari usia kemerdekaan republik ini; ia adalah pengejawantahan modern dari para petugas perahu penyeberangan Naditira Pradeca.

Mukhid mulai akrab dengan kasarnya jalinan tali tambangan sejak duduk di kelas 3 SD. Saat anak-anak sebayanya asyik bermain, ia sudah setia mengekor di belakang Pardi, bapaknya. Pardi, yang lahir sekitar tahun 1955, menghabiskan seluruh hidupnya melawan arus sungai demi mengantar warga. 

Bak Tali yang tak pernah putus, estafet profesi ini bukannya tanpa hambatan. Sepeninggal Pardi, kedua kakak Mukhid—Parji dan Suki—sempat memegang kendali perahu. 

Namun, panggilan tanah rupanya lebih kuat bagi mereka; keduanya memilih alih profesi menjadi petani. Akhirnya, beban sejarah itu mendarat di bahu Mukhid. Selama 20 tahun terakhir, ia telah berganti empat perahu, menjaga agar denyut nadi transportasi sungai di Kemiri-Ngraho tidak berhenti.

Kesetiaan Mukhid dan para pendahulunya, seperti sosok Baman yang tercatat telah menarik tambangan sejak era 1930-an, bukanlah sekadar perjuangan mencari nafkah. 

Jika kita membuka lembaran sejarah ke masa silam, tepatnya tahun 1358 Masehi, Raja Hayam Wuruk dari Majapahit mengeluarkan Prasasti Canggu (Prasasti Trowulan I).

BACA JUGA : 

Dalam prasasti tersebut, disebutkan istilah Naditira Pradeca, yakni desa-desa yang terletak di pinggir sungai yang diberi hak istimewa untuk mengelola penyeberangan sungai (tambangan). Para pengelola jasa penyeberangan ini disebut sebagai Pambanyaga

Gema Prasasti Canggu di atas Bengawan di gaungkan oleh mereka yang menjalankan tugas sebagai abdi negara yang bertugas memastikan kelancaran distribusi logistik dan pergerakan manusia di sepanjang jalur transportasi utama kerajaan: sungai.

"Bukan sekadar mengantar orang, profesi ini adalah penjagaan atas sebuah mandat kuno yang tercatat dalam tembaga sejarah."

Rutinitas di Antara Dua Desa

Setiap hari, tepat pukul 05.00 pagi saat kabut masih mendekap sungai, Mukhid sudah berada di posnya. Ia menarik tali, melawan arus, dan memastikan keselamatan setiap jiwa yang naik ke atas perahunya. Pekerjaan ini seringkali menahannya hingga pukul 22.00 malam.

Meskipun teknologi jembatan mulai mengepung berbagai sudut sungai, jasa tambangan seperti yang dijalankan Mukhid tetap menjadi pilihan utama bagi warga lokal yang menginginkan efisiensi waktu. Di sana, di antara tarikan tali dan deburan air, ada memori kolektif yang terjaga.

    BACA JUGA : 

    Penelusuran tentang garis keturunan penambang di kawasan ini membawa kita pada nama-nama besar di masa lalu. Sebelum Mukhid, ada Pardi. Sebelum Pardi, ada generasi yang lebih tua. 

    Di sisi lain, muncul nama Baman yang sudah melegenda sejak 1930. Sayangnya, lapisan waktu yang terlalu tebal dan keterbatasan catatan membuat silsilah ini sulit dilacak lebih dalam.

    Namun, satu hal yang pasti: saat Mukhid berdiri di atas perahunya, ia tidak sendirian. Ada bayang-bayang para penambang dari zaman Majapahit yang berdiri bersamanya. Ia adalah mata rantai terakhir yang memastikan bahwa warisan Naditira Pradeca tidak tenggelam ditelan arus modernisasi. (*)

    Posting Komentar

    Flag Counter