Suluk, Kidung Surgawi Pitutur Tinular

Suluk, Kidung Surgawi Pitutur Tinular

Daftar Isi

Di bawah temaram lampu blencong, malam itu -  dalang tampak sibuk menggerakkan jemarinya di atas batang pisang (gedebog).

Di tengah suara jangkrik, dan hembusan angin, suasana tiba - tiba hening ketika sang Dalang melontarkan sajak indah. Meskipun begitu yg sudah sempurna - PrandĂŠnĂŠ kang wus sampurna,  dalam pengetahuan (kebathinan) tak ragu menyatunya diri - ing pangawruh tan samar woring dhiri, yang menghalangi sudah terlihat - kang ngalingi wus kadulu,

Tatkala suasana mendadak hening, gamelan merendah menjadi sayup-sayup, dan sebuah suara bariton mulai melantunkan bait-bait puitis yang menyayat kalbu ; jelas tidaklah samar-samar ngĂŠla tan kalamatan, tahu akan tirai pembukanya- wruh ing wrana pambukanĂŠ, tidak salah dan dapat merasakan dalam keadaan antara tidur dan sadar - tan kaliru jro liyĂŞp layap karasa, dari hati yg telah mendapat penerangan (pencerahan). - saking prana pranawaning.

Itulah salah satu contoh Suluk—nyawa dari setiap- pertunjukan wayang yang membawa penonton melintasi batas dunia fisik menuju alam kontemplasi.

Dalam dunia pedalangan wayang Jawa, Suluk adalah tembang atau nyanyian dalang yang berfungsi mengatur suasana hati (emosi) pertunjukan, biasanya diiringi gamelan terbatas seperti rebab, gender, gambang, dan gong

Dalam dunia sastra, Suluk pedhalangan dapat sejajarkan dengan puisi atau sajak. Struktur Katanya halus dan indah, disusun sedemikian rupa dengan kosakata dan rima yang sama, sehingga dalam ilmu komunikasi, berfungsi sebagai penyampai pesan yang efektif

Dalam tradisi Jawa yang lebih suka mendengar -ketimbang membaca-, peran Suluk, yang di ucapkan lebih mengena ketimbang di tulis dalam lontar, yang -mungkin saja- tergeletak karena tidak ada dalang yang membacakannya

*********

Secara etimologi, Suluk berasal dari kata "su = indah , baik , lebih , utama” , dan “luk = lekuk , suara " , maka suluk bisa diartikan sebagai : "suara yang indah"

Bahasa suluk adalah bentuk tutur yang selaras dengan situasi panggung, karakter tokoh wayang, dan suasana batin yang ingin disampaikan oleh dalang kepada audiensnya. Dalam linguistik terapan khusus bahasa Jawa, ini sering disebut sebagai Laras Pawayangan. Laras berarti kesesuaian atau harmoni konteks. 

Bak kicau burung, Suluk adalah suara yang dihasilkan melalui resonansi yang diatur oleh otot-otot di sekitar syrinx dan saluran udara. Penyesuaian otot ini mempengaruhi nada yang dihasilkan. Jika -penulis- boleh mengartikan, sosok dalang harus menjelma bak burung yang berkiau merdu, hingga memikat siapapun yang mendengarnya 

Dalam sejarah perkembangannya, Suluk menggunakan Jawa Kuno, misalnya dari Kakawin Bharatayudha  - karya Empu Sedah hingga di ambil dari Arjunawiwaha atau Kakawin Ramayana. 

Maka tak mengherankan bila -sebagian - pegiat Sasta Jawa Kuno mengartikan suluk sebagai 'puji,  mengingat seloka dalam kakawin bersifat doa , puja dan pujian.

BACA JUGA : 

Pada masa awal perkembangannya di era Kerajaan Kediri dan Majapahit, suluk berfungsi sebagai pengantar suasana adegan ini di sebut sebagai Suluk Pakem. 

Namun, seiring pengaruh Islam melalui Wali Songo, -menyebar ke tanah Jawa- fungsi suluk mengalami transformasi besar. Para wali khususnya Sunan Kalijaga menggunakan suluk sebagai media dakwah, menyisipkan ajaran tauhid dan filsafat hidup ke dalam bait-baitnya tanpa menghilangkan estetika Hindu-Budha yang sudah eksis berabad - abad

Dalam perjalanan Suluk -dari masa ke masa  -telah mengalami tranformasi berupa adaptasi -frasa yang luar biasa. Di era Klasik misalnya, Suluk sangat terikat pada pakem bahasa Kawi yang berat dan penuh simbolisme, yang membuat Penonton masa itu memahami suluk sebagai mantra suci.

Bahasa yang digunakan -dalam suluk Pakem - memiliki kosakata, struktur, dan intonasi yang berbeda dari bahasa Jawa percakapan sehari-hari karena fungsinya yang sangat spesifik untuk membangun suasana pertunjukan.

Dalam kaidah Bahasa, Suluk -pakem- yang kerap disebut Arkais ini mulai mengalami pergeseran. Arkaisme ini di tandai dengan penggunaan kosakata atau bentuk tata bahasa yang berasal dari masa lampau dan sudah tidak digunakan lagi dalam komunikasi modern

Dan, kini di tengah era modern, ketika Bahasa Jawa Kuno tak lagi di pakai dalam kehidupan sehari-hari, maka terjadilah era Transisi, yang nampak dari munculnya aransemen baru dari beberapa dalang -misalnya Ki Nartosabdho & Ki Sukron Suwondo

Dan disinilah kita memasuki Era Suluk Garapan, yang memakai Bahasa yang -terkadang lebih- komunikatif tanpa kehilangan nilai estetikanya. Seperti yang dilakukan oleh Ki Sukron Suwondo, yang berhasil mengemas suluk -sedemikian rupa - sehingga pesan sosial dan religiusnya langsung menyentuh logika penonton modern.

Secara garis besar, perbedaan antara suluk pakem dan suluk garapan terletak pada kepatuhan terhadap tradisi dan kreativitas dalang. 

***************

Menyikapi fenomena ini, Ahmad Mugsan, seorang pelestari bahasa Jawa Kuna yang fokus dalam penelitian Suluk dalam Wayang merilis jurnal tentang penggunaan bahasa yang spesifik dalam pertunjukannya, 

Keterarikannya, pada Suluk -Jawa Kuno, membawa pena tajam untuk mengupas secara mendalam tentang Basa Suluk Pedhalangan (bahasa suluk pedalangan) yang digunakan oleh Ki Sukron Suwondo dalam pertunjukan Wayang Kulit Purwa

Penelitian Ahmad Mugsan ini -sengaja- berfokus pada Ki Sukron Suwondo yang memiliki ciri khas unik dalam setiap pertunjukannya. Selain mementingkan aspek estetika (keindahan), ia juga sangat menekankan penyampaian pesan moral kepada penontonnya. 

Ki Sukron Suwondo adalah salah satu dalang yang memiliki ciri khas dalam penampilannya. Selain keindahan, ia juga menekankan pesan yang dapat disampaikan dari penampilannya. 

Bahasa yang digunakan juga istimewa, sehingga Mugsan mengambil judul Basa Suluk Pedhalangan Ki Sukron Suwondo dalam Pagelaran Ringgit Purwa dan di tinjuai lewat pendekatan deskriptif kualitatif yang berkaitan dengan analisis stilistika. 

Stilistika dipilih karena didalamnya membahas gaya yang dapat menggambarkan komposisi yang dipilih guna menggambarkan peristiwa dalam puisi dan lagu, dan gaya tersebut dapat menggambarkan gaya dan kualitas penulis.

Dari data yang diperoleh, dapat dilihat bahwa Bahasa Suluk Pedhalangan Ki Sukron Suwondo menggunakan suluk pakem dan suluk garapan. Sedangkan unsur bahasa yang digunakan adalah metafora, diksi, dan preposisi

Selain berfungsi untuk menyampaikan suasana hati, Suluk juga memuat makna tertentu. - yang terkandung dalam pedhalangan Ki Sukron Suwondo, antara lain religius, sosial, historis, dan didaktik.

Akhir Kata, Suluk merupakan bagian integral dalam sebuah pertunjukan (tontonan), kehadirannya, memuat tuntunan, Inilah yang membuat wayang dinobatkan sebagai warisan dunia. Jika gerakan wayang adalah "tontonan" bagi mata, maka suluk adalah "tuntunan" bagi telinga dan jiwa.

Suluk sering kali mengandung ajaran Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia). Ketika dalang melantunkan suluk tentang keadilan atau kerendahan hati, ia -bak guru- sedang memberikan wejangan namun tidak sedang menggurui

Di sanalah letak transformasi wayang: penonton pulang tidak hanya membawa tawa, tetapi juga membawa perenungan tentang hakikat diri dan Sang Pencipta.

Melalui suluk, wayang membuktikan bahwa seni yang luhur adalah seni yang mampu menyelaraskan antara hiburan mata dengan kebutuhan batin.  Kendati kini, Bahasa Suluk telah di kombinasikan antara bahasa Sansekerta. (Jawa Kuno), dengan Bahasa Jawa Krama, namun Kehebatan dalang menjadi kata kunci untuk memberikan kosakata (vocabulary) dalam bahasa Ibu yang mudah di pahami oleh "anaknya

Suluk bak sebuah kidung yang memastikan bahwa Suluh -cahaya blencong tetap menyala di hati setiap penikmatnya, jauh setelah pertunjukan "wayang" itu usai. 

Editor | Masardi

Posting Komentar

Flag Counter