Upaya Mengangkat Ukiran Rumah Tuo ke Kain Batik

Upaya Mengangkat Ukiran Rumah Tuo ke Kain Batik

Daftar Isi

Penulis | Teguh Dayat

2009 - adalah tahun bersejarah bagi Batik Indonesia, ketika ditetapkan Unesco menjadi Warisan Budaya Tak Benda. Kini, 17 tahun berlalu - Batik di Indonesia, tak juga -setidaknya belum- menjadi pilihan utama bagi anak muda Indonesia, saat memutuskan untuk membeli pakaian

Sejarah panjang Batik, yang identik dengan seni lukis ini terus di gali, terutama dari sisi motif yang beragam, dan kaya akan filosofi. Salah satunya, adalah motif ukir pada Rumah Tuo Rantau Panjang. 

Di halaman Situs Budaya Perkampungan Tradisional Rumah Tuo Rantau Panjang, Senin (27/4), Upaya mengembalikan Motif Batik ini mulai bangkitkan lewat pelatihan keterampilan membatik. 

Di halaman Rumah itu, suara canting dan perbincangan warga menyatu dalam suasana hangat pelatihan membatik. Ya, Rumah Tuo Rantau Panjang -bukan sekadar bangunan tua, ia merekam memori lama yang berupa ukiran- selama ratusan tahun menempel di dinding dan tiang rumah. 

Secara historis, Rumah Tuo Rantau Panjang diperkirakan berasal dari abad ke-18 hingga awal abad ke-19, meskipun beberapa bagian telah mengalami perawatan dan pembaruan seiring waktu.

Merujuk pada Informasi Situs Budaya Indonesia, Rumah tuo secara administratif terletak di Provinsi Jambi, Kabupaten Merangin, Kecamatan Tabir, tepatnya di Desa Baruh. Di komplek perkambungan tua ini, terdapat 80 rumah tradisional, walaupun sebagian rumah sudah ada yang menggunakan batu sebagai dinding dan pondasi rumah yang berada di kawasan rumah tuo Desa Baruh.

Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, rumah-rumah ini dibangun pada masa ketika struktur adat masih menjadi pusat pengaturan kampung. Karena itu, Rumah Tuo tidak hanya penting sebagai peninggalan arsitektur, tetapi juga sebagai arsip hidup tentang cara masyarakat lama menata ruang dan kehidupan.

BACA JUGA : 

Namun yang paling menarik dari rumah tradisional ini bukan hanya bentuk bangunannya, melainkan ukuran-ukuran arsitektural yang menyertainya. Dalam tradisi Rumah Tuo—yang juga dikenal dalam lingkungan pemukiman talang tuo atau kampung tua—ukuran bukan semata soal panjang dan lebar. Ukuran adalah simbol keteraturan hidup.

Setiap tiang, balok, tinggi lantai, lebar pintu, hingga jumlah anak tangga biasanya dibuat berdasarkan hitungan adat. Ukuran tertentu dipercaya membawa keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. Karena itu, rumah tidak dibangun asal jadi. Ia dirancang dengan pertimbangan nilai spiritual, sosial, dan fungsi bersama.

Motif "ukuran " ini kemudian menjadi inspirasi batik. Garis-garis simetris, susunan bidang berulang, serta pola geometris yang berasal dari proporsi bangunan Rumah Tuo diterjemahkan ke atas kain. Ketika dicanting, ukuran rumah berubah menjadi motif batik, yang di dalamnya memuat ketelitian, kesabaran, dan penghormatan pada warisan nenek moyang.

Keterlibatan peserta dari berbagai usia—anak-anak hingga orang dewasa—menunjukkan bahwa budaya tidak sedang dipajang, tetapi dipraktikkan. Anak-anak belajar bahwa motif batik bukan gambar sembarang. Orang dewasa menyadari bahwa sehelai kain bisa menyimpan cerita rumah tua.

Di tengah arus modernisasi, warga Merangin -lewat pelatihan membatik- seolah memberi pesan sederhana: warisan budaya tidak harus diam di museum. Ia bisa dikenakan, dipelajari, dan menjadi sumber ekonomi kreatif.

H. A. Khafidh Wakil Bupati Merangin bersama warga peserta pelatihan Batik
H. A. Khafidh Wakil Bupati Merangin mengatakan Rumah Tuo Rantau Panjang merupakan penanda perjalanan masyarakat Merangin, tempat nilai adat, tata hidup, dan identitas diwariskan lintas generasi. Dan di Rantau Panjang hari itu, dari canting yang menetes pelan, ukuran-ukuran lama di Rumah Tuo kembali menemukan napas barunya.

Hadir pula Ketua TP PKK Merangin Hj. Lavita Syukur, General Manager Badan Pengelola Geopark Merangin Jambi Agus Zainuddin, serta sejumlah pejabat daerah.

Editor | Masardi

Posting Komentar

Flag Counter