Anyaman Bantunan, Artefak Budaya Menolak Pudar dari Lahat
Daftar Isi
Artikel ini di tulis Soufie Retorika - yang kini sedang menyusun kembali serpihan artefak Budaya Lahat yang menolak punah.
Di tengah megahnya lanskap rural Bukit Barisan, terdapat wilayah yang berdiri sebagai gerbang budaya - yang hingga kini menolak pudar. Sebuah desa kecil dalam jajaran perbukitan di ketinggian sekitar 800 mdpl itu, -bak saksi bisu- menyisakan salah satu pilar budaya material paling mendasar.
Sebermula, di pertengahan Maret 2022 -angin bertiup dari barat, membelai punggung bukit barisan.Aplikasi weather forecast mencatat hembusan angin 5 knot, seakan setia menemani -momen pencarian- saya tentang keberadaan sebuah warisan budaya yang -hingga kini- menolak punah di Desa Bantunan, Kecamatan Pajar Bulan.
Sekedari informasi, Kec. Pajar Bulan, Lahat, Sumatera Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Pseksu, kecamatan Gumay Ulu, Kota Pagaralam, dan Kecamatan Sukamerindu dengan kondisi juga berbukit-bukit. Banyak peninggalan sejarah megalitik di 20 desa yang ada.
BACA JUGA :
Bukti sejarah menorehkan tinta tentang tanah Pajar Bulan sebagai saksi bisu peradaban besar. Jejak jemari para pengrajin rotan -hingga kini masih menyimpan kisah "kreatif" di tengah bentang alam dan membisunya artefak megalitik yang menyebar merata di dua puluh desa -di kecamatan itu- selama ribuan tahun.
Tradisi Menganyam -diperkirakan- sudah ada sejak zaman Paleolitikum atau setidaknya Mesolitikum. Ketika itu, manusia purba mengamati sarang burung, dan meniru teknik anyaman untuk membuat jebakan ikan, keranjang pengumpul buah, atau alas tidur sederhana dari ranting dan daun.
**********
Sepanjang perjalanan menuju kesana, kita disuguhi panorama kebun kopi yang asri. Suasana ini membuat perjalanan selama satu jam -jarak 80 km- dari Kota Lahat, terasa singkat.
FYI, komoditas Kopi masih menjadi primadona Lahat, dan kondisi ini menyimpan potensi agrowisata yang bisa dipadukan dengan wisata belanja kerajinan tangan.
Jalanan lengang berpadu sejuknya udara pegunungan, -seolah- memaksa kami untuk membuka jendela. Suasana ini makin lengkap, tatkala menyaksikan pemandangan sawah, kebun kopi -terutama yang kini- dipanen, hingga aroma mewangi dari bunga putih kopi itupun menyergap - menyelinap masuk ke kabin kendaraan roda empat yang kami tumpangi
Merujuk pada data -yang di himpun penulis- terdapat 19 usaha anyaman rotan yang aktif di Desa Bantunan dan Desa Pajar Tinggi. Produk utama yang dihasilkan meliputi antara lain, Kinjar (keranjang punggung), Bake (wadah anyaman) serta Piring dan Bakul
Meski bahan baku rotan kini sulit didapat dan harus didatangkan dari luar daerah (seperti Tanjung Sakti hingga Manna), namun warga tetap bertahan, mengingat permintaannya meningkat tajam saat musim panen kopi.
Kendala bahan baku tak saja dialami pengrajin rotan, hal yang sama menimpa pengrajin anyaman tikar purun, terlebih ketika tanaman purun -batang berserat mirip pandan- yang biasa hidup liar di dekat air atau rawa-rawa mulai sulit dicari.
Di tengah gempuran material plastik, pengrajin rotan juga tidak didukung oleh model pemasaran yang memadai. Dampaknya, usaha anyaman yang diwariskan turun temurun itu -kendati masih bertahan- semakin tertatih. (jika tidak mau dikatakan sekarat)
Hal ini makin di perparah oleh dukungan aksesibilitas yang minim. Bayangkan saja, dengan jarak tempuh yang jauh, di butuhkan biaya pengangkutan yang -tentunya- berimbas pada harga jual
"Masyarakat tidak bisa mengandalkan Pasar Kalangan saja, sebab hanya seminggu sekali saja:" ujar salah satu pengrajin
Salah satu pengrajin, Hasan mengaku bahan baku rotan tidak hanya didapat dari hutan di Pajar Bulan, namun mereka terpaksa membeli dari Tanjung Sakti, Muara Payang, Empat Lawang hingga ke Manna.
"Meski cukup jauh, lanjut Hasan, warga terpaksa membeli bahan baku rotan itu, sebab saat masa panen kopi seperti sekarang, peralatan Kinjar sangat laku dibeli masyarakat
"Iyo, ini mata pencarian pokok dan turun-temurun,walopun sudah sulit cari bahannye," ungkap Hasan (45) warga Bantunan. Mereka membanderol harga dari 50 ribu hingga ratusan ribu sesuai dengan besar kecil yang dipesan, tambah Hasan.
Kendala lain, belum ada koperasi yang menampung hasil anyaman mereka, sekaligus berperan dalam pembinaan. Sebab, jika di perhatikan, teknik "menganyam" yang sederhana itu membutuhkan pembinaan berupa pendampingan sekaligus bimbingan dari berbagai pihak, seperti Koperasi atau OPD terkait
"Warga sangat setuju jika ada bimbingan dan pemasaran yang terkoordinasi dan terarah, sehingga bisa mempertahankan usaha turun temurun supaya tak punah" tutur Wati (55)
Ia mengaku hampir seluruh rumah masih terlihat dalam kegiatan menganyam, dahulu memang menjadi sentra industri anyaman rotan di sini. "Yang jarang di jumpai kini, nganyam tikar purun, dekbedie bahannye," tutur Wati (55)
Industri kecil seperti ini jika dijaga bisa menurunkan angka kemiskinan sebab rakyatnya sudah mempunyai kemampuan, ketrampilan alamiah. Peran pemerintah sangat di nantikan untuk mempertahankan "Artefak Budaya" asal Lahat ini. Sebab ada UU Pemajuan Kebudayaan yang bisa dijadikan konsideran hukum untuk pijakan melangkah melalui kebijakan politik Anggaran. (*)




Posting Komentar