Fitotoponimi, Daftar 73 Desa Nama Tumbuhan di Nganjuk
Titi Kala Mangsa, -ini adalah awal mula- kisah seorang putri perantau yang menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda dari Desa Jatirejo yang merujuk nama sebuah desa di Nganjuk. Kisah -tragedi romantis -ini tak kalah dengan romansa Romeo dan Juliet, karya William Shakespeare.
Disini penulis hendak menggaris bawahi bahwa kedua kisah ini berakar pada motif sastra yang dikenal sebagai "Star-Crossed Lovers" atau sepasang kekasih yang nasibnya ditentukan oleh pertentangan eksternal.
Jika Romeo dan Juliet berlatar roman pertentangan keluarga Montague dan Capulet, yang saling bermusuhan di Verona, Italia. Maka, Kisah roman asal Nganjuk ini, memuat pertentangan dua pihak -yang hingga - kini masih pantang untuk disatukan.
Syahdan, kembali ke Wiracarita -petualangan seorang tokoh- lelaki asal Jatirejo ini. Karena tidak diizinkan menikah, maka keduanya sepakat melakukan bentuk perlawanan- lewat ikrar sumpah -tidak akan menikah seumur hidup. Sang gadis menjalani hidup sebagai Lanjar (wanita yang tidak bersuami), sementara pemuda menjadi Wadat (pria yang tidak menikah).
Seiring berjalannya waktu, sang gadis jatuh sakit. Dalam kondisi lemah, ia sering duduk merenung di bawah pohon Lo - atau Loa (genus ficus)- sambil membawa tempat minum dari aluminium yang disebut Ceret.
Menjelang akhir hayatnya, Sang gadis bersumpah jika meninggal, maka wilayah tersebut harus dinamai Desa Loceret—diambil dari perpaduan nama pohon Lo dan wadah Ceret.
********
Kisah diatas adalah Folklor -kebudayaan tradisional yang diwariskan turun-temurun secara lisan, - hingga kini masih di jadikan rujukan terhadap "pantangan" pernikahan, lelaki Loceret dilarang menikah dengan gadis asal Jatirejo, pun begitu sebaliknya.
Apa makna kisah diatas, selain memuat keyakinan kolektif sebuah kisah romansa ? Atau justru ada pesan terselip "subliminal message" di dalamnya?
BACA JUGA :
- Fitotoponimi, Daftar 72 Desa Nama Tumbuhan di Kediri
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
- Anjuk Ladang (1), Sebuah Akta Kelahiran di Tanah Kemenangan
- Anjuk Ladang (2), Tanah Dimuliakan Untuk Lumbung Pangan
Sebelum pertanyaan diatas di terjawab, pernahkah kita menyadari bahwa fenomena penamaan suatu tempat kerap merujuk pada unsur-unsur alam seperti flora, fauna, atau bentang alam. Sebuah fenomena -yang dikenal dengan istilah nama Ekotoponimi.
Dalam konteks kebudayaan Jawa, nama daerah bukan sekedar tetenger, karena di dalamnya memuat kejadian atau peristiwa yang melibatkan unsur flora berikut keterkaitan humaniora di dalamnya
Dalam Buku Sutanaya Dhadhap Waru - pemberian nama tempat mengusung pesan bawah sadar - seperti di epos roman Loceret- , yang di dalamnya memuat "Bagaimana" identitas pemukiman menyatu dengan nama tumbuhan
Untuk mengurainya, mari kita buka Jurnal karya Iman Budhi Santosa itu. Tetenger atau statue - pada pola penamaan yang di sematkan leluhur di Pulau Jawa, sering memuat rujukan nama Tumbuhan (Flora) antara lain Turi, Gondang, Bendo, Pace, Lo Cepoko, Gandu, Gebang hingga Kepuh.
Pola pemberian nama itu disebut sebagai Fitotoponimi - merujuk pada istilah dari bahasa Yunani, yaitu phyton (tumbuhan), topos (tempat), dan onoma (nama).
Di balik semua ini, -penulis menyakini Leluhur kita memiliki efikasi kuat, yang bertujuan untuk menyusun database arsip alamiah, sebab -mungkin saja - menyimpan pesan "pusaka ekologis".
Bayangkan saja, ketika Anda sebagai Bupati - sedang berkunjung ke sebuah Desa -sebut saja - Cerme, namun disana tidak kita jumpai satupun pohon Cerme, maka apa yang Anda pikirkan ?
Sebelum Anda jauh memberikan penilaian, tak ada salahnya kita kembali membuka relung ekologi - disebut juga- ecological niche dalam skala yang lebih luas di kenal sebagai sistem biogeokimia lokal. Kajian ini memuat hubungan timbal balik dan keterkaitan yang sangat spesifik antara tumbuhan (terutama endemik) dengan kondisi tanah, mikro-iklim, serta komunitas mikroorganisme di suatu lokasi.
Ketika sebuah desa dinamai "Desa Tegaron", maka -dalam alam bawah sadar- nenek moyang tlatah Anjuk Ladang telah memahami konsep diatas, dan hal itu bisa diartikan -instruksi implisit -bahwa tanah di Desa itu cocok untuk habitat tumbuhan bergenus Nauclea tersebut.
Disisi lain secara historis, kajian fitotoponimi juga berfungsi sebagai "catatan botani". Sebab kendati, kini tanaman Tegaron - mungkin- sudah langka atau punah di daerah tersebut, namanya tetap abadi sebagai pengingat akan kekayaan ekosistem masa lalu.
Akhir kata, tulisan ini hanyalah bahan kajian dan telah dijadikan diskursus oleh lembaga Pelestari Kawasan Wilis untuk memberikan wawasan sebagai upaya mengembalikan spirit Tanah Kemenangan melalui pendekatan ekologis. Sebab, ketika kita melakukan kegiatan penghijauan, maka disaat yang sama kita -tidak bisa sekedar- menanam pohon tanpa memastikan kondisi alami di lokasi.
Artinya, keberadaan tumbuhan Endemik yang -dulu pernah - dicatat leluhur Anjuk Ladang, telah selaras dengan komunitas Mikroba yang telah berkembang biak.
BACA JUGA :
- Fitotoponimi, Daftar 72 Desa Nama Tumbuhan di Kediri
- Ritus Budaya Padi, Spirit Kembali ke Bahan Alami
- Hutan Bambu Petung, Solusi Krisis Air di Desa Ngepung
Sedangkan, dalam kajian lebih spesifik, keberadaan tumbuhan endemik dapat mendukung pemetaan Bio-Indikator. Sehingga, lewat penggunaan spesies tumbuhan tertentu, serta kajian mikrobiologi yang lebih "intensif" dapat menciptakan alat sensor alami, serta rujukan bahan "raw material" ketika hendak mengembangkan "pertanian ramah lingkungan" di Kab Nganjuk.
Editor | Masardi




Posting Komentar