Polemik Korelasi Festival Pu Tajum dalam Prasasti Anjuk Ladang

Polemik Korelasi Festival Pu Tajum dalam Prasasti Anjuk Ladang

Daftar Isi

Peringatan 1089 Tahun, Prasasti Anjuk Ladang di Kabupaten Nganjuk dirayakan cukup meriah. Beragam kegiatan di gelar mulai manusuk sima, hingga festival Pu Tajum. 

Nah, festival yang di sebutkan terakhir ini menjadi sorotan berbagai pihak -bukan karena acaranya, melainkan tagline acara yang -oleh sebagian pihak- dianggap kurang tepat bila di kaitkan dengan kelahiran Anjuk Ladang

Festival Pu Tajum, merupakan sebuah festival budaya untuk mengenang sejarah, melestarikan tradisi, serta mengangkat potensi seni dan UMKM lokal.-begitu bunyi flyer yang kami terima.  

Pencatutan Nama Pu Tajum, inilah yang kemudian memantik polemik. sebab sosok Pu Tajum, yang menjadi "Tagline Festival" dianggap sebagai sosok yang jauh berbeda zaman -bila dikaitkan dengan prasasti Anjuk Ladang.

Hal ini disampaikan Sukadi, salah satu Anggota Pemerhati Sejarah Kota Nganjuk (KOTA SEJUK). Menurutnya, Korelasi keberadaan Candi Ngetos terlalu jauh dengan sejarah Mataram Kuna. Sehingga, jika dalam tagline itu disebut "Mengawal sejarah berdirinya bumi Anjukladang" tentu tak memiliki korelasi dalam catatan sejarah - se zaman. 

Sosok Pu Tajum, lanjut Sukadi, sangat tidak relevan, dan tidak memilki dasar yang kuat. "Jika memang nama itu diambil dari kata Kasaiwan Tanjung dengan tokohnya Mpu Mahaguru, maka tidak serta merta merujuk pada personifikasi sosok memiliki hubungan dengan Ngetos" tandasnya. 

*************

Festival Pu Tajum yang sedianya di gelar besok, Kamis, 23 April 2026 - memuat tagline "Pu Tanjum mengawal sejarah berdirinya anjuk ladang" Kata ini Tajum inilah yang menjadi perdebatan bagi para pegiat sejarah di Kab. Nganjuk

Jika kita melihat Prasasti Anjuk Ladang, pada baris ke 48 - 49 " mpu mahāguru °i saŋ hyaŋ dharmmaya °iŋ kasaiwan °iŋ tajuŋ - dapat di artikan sebagai Mpu Mahaguru yang merupakan Tokoh pemimpin keagamaan kasaiwan tajung. 

Frasa tajuŋ - merujuk pada sistem transliterasi bahasa Jawa Kuna ke alfabet Latin, huruf "ŋ " adalah simbol untuk bunyi "ng" (sengau velar), seperti pada kata "burung" atau "layang". Sehingga, frasa Tajuṅ seharusnya dibaca Tajung.

BACA JUGA : 

***********

Sementara itu, Arlo Griffiths, dalam studi literasi "Reign of Mpu Sindok" melakukan transliterasi dan terjemahan kalimat  °pinakamaṅgalya rikaŋ susukan sima sira mpu mahāguru °i saŋ hyaŋ dharmmaya °iŋ kasaiwan °iŋ tajuŋ mu°aŋ sira mpu gokᚣandha °i saŋ hyaŋ dharmma °i jayāmṛta 

Mereka yang memimpin dalam penetapan batas sÄŤma adalah mpu Mahāguru dari yayasan kerajaan suci yang mendukung kaum Śaiva -penganut ajaran Siwa- di Tajuṅ, mpu Bhekᚣandha (?) dari tempat -institusi- suci Jayāmr̥ta

Dalam Jurnal ini, Arlo Griffiths menyebut keraguannya terhadap frasa (?) sebab Eko Bastiawan membaca bhekᚣandha, sedangkan Brandes membaca gokᚣandha. "Apapun itu, nama tersebut tampak tidak lazim" tulis Griffiths

Dalam paper lengkap berjudul The Terms Kuᚭi and Vihāra in Old Javanese Epigraphy and the Modes of Buddhist Monasticism in Early Java tahun 2023 itu, secara khusus Arlo Griffiths menyebut Kasaiwan sebagai lingkungan penganut Siwa yang taat, yang merupakan aliran dominan di Jawa pada masa itu.

"Penyebutan iŋ tajuŋ atau tanjung - dalam konteks ini, -kemungkinan merujuk pada personifikasi -sosok- Mpu Goksanda" tulisnya.

*************

Akhir kata, terlepas dari polemik frasa Tajung atau Tajum, yang menjadi perdebatan para pegiat sejarah di Kab.Nganjuk, maka setidaknya kita bisa mawas diri untuk lebih bijak menyikapi tatkala hendak menggelar sebuah perhelatan seperti festival atau agenda perayaan sejenis. 

Dalam artikel ini, kita -bukan sedang- mencari kesalahan, dan tidak pula mengamini sebuah pembenaran, melainkan mencari jalan tengah terbaik untuk memberikan wawasan agar tidak kebablasan. 

Editor | Masardi

Posting Komentar

Flag Counter