Budaya Ngopi, Kopi itu di Roasting bukan di Gunting
"Coffee first, schemes later." - Mulailah hari dengan kopi, rencana akan datang kemudian. Kutipan ini begitu populer bagi para penikmat -jika tidak mau disebut pemuja - Kopi.
Tak berlebihan bila, para penikmat kopi merasa wajib melakukan "ritual" menyeduh kopi di pagi. Saat hendak ke sekolah, berangkat kantor, atau hendak memulai aktivitas lainnya
Kopi -yang kini- telah menjadi budaya di -hampir- penjuru dunia itu bermula dari tradisi minum "ngopi" sejak abad ke 15 dan kisah paling melengenda, adalah tentang Kaldi, seorang penggembala kambing di Abyssinia (sekarang Ethiopia). Ia memperhatikan kambing-kambingnya menjadi sangat lincah setelah memakan buah merah dari semak tertentu.
Pada fase awal di temukan, biji kopi dikonsumsi sebagai makanan (dicampur lemak hewan) sebelum akhirnya diolah menjadi minuman seperti yang kita nikmati sekarang.
Sejarah mencatat -bagaimana- kedai kopi menjelma menjadi "tempat bersejarah". Di London, -misalnya- kedai kopi menjadi lokasi kongkow para pialang saham, dan menjadi tempat para pemain saham, dan menjadi cikal bakal lembaga besar seperti London Stock Exchange dan Lloyd's of London.
Di Perancis, sebuah revolusi besar bermula dari kedai kopi di area Palais-Royal. Kala itu, Desmoulins, seorang Jurnalis "progressif" melompat ke atas meja di CafĂŠ de Foy dan berpidato di hadapan pengunjung yang sedang minum kopi
Pidato spontan di kedai kopi -yang kelak- tercatat dalam sejarah. Orasi itu berhasil menggerakkan massa -dua hari kemudian- untuk menyerbu Penjara Bastille 14 Juli 1789., dan manadai titik awal dimulainya Revolusi Prancis.
Kini, setelah 237 tahun berselang - kedai kopi- di seluruh penjuru dunia, tak berubah dan tetap menjadi ruang bertumbuh bagi para penikmatnya.
Kedai kopi - menurut Sosiolog, Ray Oldenburg - disebut sebagai ruang ketiga setelah rumah dan tempat kerja. Di tempat ini, terjadi pertukaran ide, diskusi komunitas, hingga penguatan ikatan sosial yang lebih intim dibanding -tanpa mengecilkan peran- warung kopi tradisional.
BACA JUGA :
- Hutan Bambu Petung, Solusi Krisis Air di Desa Ngepung
- Agus Marlin : Pejuang Sunyi Asal Dusun Turi
- Suwito, Penjaga Wana Gunung Argokelono
Di sejumlah daerah, popularitas Kopi "giling" mulai mendapat tempat, dan perlahan menggerus "budaya" minum kopi "gunting".
Pemilik Kedai Kopi Manis, Tri Jalu Ari Wahyudi mengakui kini bermunculan kedai baru dan menandai "budaya ngopi" meninggalkan kopi instan sachet. Kemunculan kedai di iringi dengan maraknya komunitas -ditempat kelahirannya - di Trenggalek, yang menggelar pertemuan dan diskusi di kedai.
![]() |
Jalu - Kedai Kopi Manis Trenggalek |
"Setiap kedai memiliki karakter yang spesifik, -misalnya- kedai yang menyajikan kopi giling dan di sangrai menggunakan tanah liat, hingga menawarkan space (ruang) yang luas plus view Indah di tepi sungai atau sawah" ujar Jalu pemilik Kedai di Jl. Jaksa Agung Suprapto No.49, Klampisan, Surodakan, Trenggalek
Saat ditanya tentang fenomena kedai kopi yang marak "berguguran", ia menilai hal itu sebagai akibat dari kegagalan Kedai kopi dalam membangun customer loyalty (pelanggan setia).
Tanpa pelanggan tetap yang datang setiap hari, biaya operasional (listrik, gaji, sewa tempat) tidak akan tertutup oleh kunjungan sesaat.
"Jika hanya bermodal ruang bagus - mengandalkan- desain interior yang instagramable guna menarik pengunjung saat awal pembukaan, apalagi di jual dengan harga terlalu mahal "untuk dibeli tiap hari" maka di pastikan kedai itu kehilangan pelanggan" imbuhnya
Penikmat kopi, menurut -penilaian- Jalu, akan memilih kedai yang menyajikan kopi berkualitas, artinya dengan kualitas yang sama, harga yang setara, para konsumen semakin di untungkan karena beragam pilihan tempat untuk ngopi
***********
Owner Triplekeys.co, Arya Mamba, menuturkan ada fenomena baru -jika tidak boleh disebut FOMO- yakni minat pengunjung kedai yang dulunya di dominasi kalangan dewasa, -bahkan tua-, kini telah makin banyak Anak muda yang nongkrong dan menjadikan kedai sebagai ruang segregasi sosial.
"Tren ini meningkat satu dekade terakhir, berkat akses informasi yang masif tentang edukasi "kopi" yang di tampilkan di ruang digital, baik itu lewat film maupun konten di media sosial" ujarnya
Argumen Mamba cukup rasional, sebab -kini- jamak di temui kedai kopi baru bermunculan bak Jamur di Musim hujan.
Kemunculan puluhan kedai baru itu, seolah bak oase baru "pemuja kopi" untuk meneguk kafein yang berkualitas, namun di sisi lain ada tantangan besar bernama Market Saturation.
"Ya, Kejenuhan pasar kerap membayangi industri FNB termasuk bisnis kedai kopi, dan bagi mereka yang konsisten dan punya segmentasi jelas, maka itulah yang bertahan" ujar Mamba di Kedai Triplekeys yang terletak di Jl. Lurah Surodarmo II no 4, Bogo Kidul, Nganjuk.
Sebagai pebisnis kopi, Mamba menilai jatuh - bangun kedai kopi adalah hal yang lumrah. Terlebih saat ini, kopi "roasting" masih tren baru -terutama- di Nganjuk.
"Ibarat anak kecil, bisnis kopi "fresh brew" yang di proses dari biji (bean) sedang berada di fase tumbuh kembang, namun tren-nya terus meningkat" tuturnya
Untuk menyiasati hal itu, di Kedai Triplekeys.co juga kerap menggelar event tematik seperti live music, stand up comedy bahkan sarasehan -yang digelar- sesuai tematik. Ia bersama komunitas Kopi juga menggelar event "menyeduh" kopi.
"Festival Menyeduh Kopi ini kami beri nama MKBMK, kependekan dari Mari Bersama Menyeduh Kopi, pada bath I di gelar di Triplekeys.co, dan Batch kedua di gelar di Kedai Pawinihan
*******
Menjamurnya kedai kopi juga membawa dampak positif bagi Petani Kopi yang selama ini menjadi pemasok biji (green bean). Salah satunya, Johan Ariesta, Pegiat Kopi asal Desa Kare, Madiun. Ia menilai popularitas Kopi yang langsung di petik dari Petani, akan terus meningkat.
![]() |
| Johan Ariesta - Kopi Kare Madiun |
Ketua Pelestari Kawasan Wilis Madiun ini bahkan memandang Kopi sebagai komoditas dengan tren pertumbuhan tercepat. Selama 8 tahun, ia mencatat tren harga kopi naik hingga 400%. Kendati sempat mengalami fluktuasi, namun harganya tidak pernah turun
"Dulu 2018, harga Green Bean Robusta Kare hanya berkisar 28 ribu rupiah, kini sudah mencapat 80 -90 ribu per kilo" ujarnya
Kini di Desa Kare, lanjut Johan, semakin ramai petani yang menanam kopi. Selain akibat perubahan Iklim yang mempengaruhi pohon Cengkeh (gagal bunga dan mati), ia bersama rekan lain di lereng Wilis kini sepakat untuk fokus mendampingi Petani Kopi agar menghasilkan produk yang premium.
"Harga Biji Kopi asalan -bukan petik merah- kini sudah menembus harga 60 ribu rupiah, namun dengan sedikit sentuhan edukasi mulai teknik petik, pengupasan kulit dan pengeringan, harganya bisa naik 50 persen" imbuhnya
BACA JUGA :
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
- Ritus Budaya Padi, Spirit Kembali ke Bahan Alami
- Pranata Mangsa, Kalendar Jawa Prediksi Kekeringan Ekstrim 2027
Hal senada diungkapkan Bambang Heru, Petani Kopi asal Desa Ngliman. Menurutnya, menjaga kualitas kopi menjadi prioritas para petani di lereng Wilis "Nganjuk".
![]() |
| Bambang Heru - Petani Kopi Ngliman |
Menurut, Ketua Kelompok Tani Hutan Desa Ngliman, Kec.Sawahan, Kab. Nganjuk, Jatim ini, Kopi Nganjuk tak kalah dalam hal cita rasa, hanya saja belum dikenal oleh para penikmat Kopi.
Menjaga panen "petik merah" selalu ia tekankan kepada petani, agar kualitas "terjamin" , sembari berharap terus mendapatkan dukungan banyak pihak, -pemerintah- sehingga kelak hilirisasi kopi Nganjuk bisa dikenal dan mampu bersaing di kancah nasional maupun Internasional.
**********
Akhir kata, meneguk "fresh brew" di kedai kopi favorit akan semakin membudaya, bak ritual yang wajib -bagi- penikmatnya. Pahitnya kopi tanpa gula, bukan sekedar "candu" . ia bak bait puisi yang memuat kejujuran. Mengutip idiom paling hype, biarlah kopi tetaplah apa adanya, sebab yang pahit itu kopi dan yang manis hanyalah Janji -politisi- eh
Editor | Masardi






Posting Komentar