Imam Rosi, Pionir Gerakan Kepanjen Kota Seni
Penulis | Triswan Hadi
Kepanjen - sebuah nama kecamatan di jantung pusat administrasi Kabupaten Malang, menyimpan sebuah mutiara yang memancar dalam diri seorang pelukis. Di tengah hiruk pikuk keseharian warga, dan pekatnya aroma deru kendaraan bermotor, ada denyut nadi "seni" yang nyata dalam sapuan warna dan goresan kuas yang "menuntut" untuk bicara
Di tengah geliat seni, ada nama Imam Rosi, dan baginya kepanjen bukan sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah kanvas besar yang sedang menunggu untuk diwarnai lewat sapuan palet.
Nama besar Imam Rosi telah nyata dan di kenal di jagad "seni rupa", ia melanglang buana dari galeri di Jakarta, Yogyakarta, hingga Bandung. Satu "karakter" yang tepat adalah "cara ia memandang dunia lewat sebuah karya.
Ketika, orang lain melihat pasar yang berdebu atau sawah yang terik, Imam justru melihatnya sebagai sebuah harmoni. Hal itu nampak dari teknik palet dan aliran impresionisme, ia menangkap momen-momen itu secara spontan.
Impresionisme adalah salah satu aliran seni lukis abad ke-19 yang berfokus pada penangkapan kesan cahaya, warna, dan suasana sesaat, bukan detail bentuk objek
"Lukisan adalah cara saya merayakan kehidupan sehari-hari," ujarnya
Karya-karyanya tak berjarak dengan rakyat. Ia melukis gedung-gedung tua yang bisu, keramaian pasar tradisional, hingga damainya suasana panen di sawah. Di tangannya, objek-objek sosial tersebut menjadi hidup, seolah mengajak siapa pun yang memandang untuk berhenti sejenak dan mensyukuri keindahan di depan mata.
Kendati, sosoknya telah dikenal di kancah "seni rupa" nasional, Jiwa dan Hati Imam tetap tertambat di Kepanjen. Ia memiliki sebuah ambisi yang mulia: menjadikan Kepanjen sebagai Kota Seni.
Ketika, karya seni hanya menjadi hiasan dinding di rumah-rumah mewah, Ia justru menginginkan lebih, - yakni seni sebagai sebuah identitas, dan menjadi "nyawa" untuk menghidupkan karakter kota.
"Saya ingin Kepanjen punya identitas budaya yang kuat. Seni bisa jadi denyut nadi kota ini—tempat lahirnya kreativitas dan bertumbuhnya seniman muda," tuturnya penuh keyakinan.
Bagi Imam, pameran lukisan reguler yang ia gelar bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan wahana silaturahmi. Ia ingin meruntuhkan sekat antara seniman dan masyarakat awam. Respons positif warga selama ini menjadi bahan bakar baginya untuk terus bergerak.
Visi Imam Rosi - tidak berhenti di atas bingkai lukisan. Ia sadar bahwa sebuah "Kota Seni" membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan. Bersama komunitas kreatif setempat, ia mulai menjajaki langkah konkret, seperti Menggelar workshop dan diskusi terbuka
BACA JUGA :
- "Dance of Inflation", Tarian Simbolik dari Sudut Pandang Seniman Rakyat
- Lukisan Abstrak, Memaknai Arti Sebuah Imajinasi
- Dunia Monokrom, Budaya Warna Minimalis
Tak jarang ia pun kerap menjalin kolaborasi dengan merangkul sekolah hingga pesantren untuk mengenalkan dunia seni rupa, hingga kaderisasi, dengan cara membuka ruang seluas-luasnya bagi seniman muda untuk tumbuh.
Kepanjen saat ini mungkin sedang bersolek secara fisik dengan berbagai pembangunan. Namun, lewat tangan dingin Imam Rosi dan kawan-kawan seniman lainnya, Kepanjen sedang dipersiapkan untuk memiliki jiwa.
BACA JUGA :
- Karya Perupa, Dari Seni Benda Jadi Seni Data
- Aksara jadi Algoritma, dari Lontar Menuju Unicode
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
Di balik perjuangan keras itu, kini ada harapan besar sedang dirajut; yakni Kepanjen Kota Seni! Tujuannya, agar kelak, tatkala wisatawan menginjakkan kaki di Kepanjen, mereka tak -sekedar -melihat bangunan, namun larut dalam nuansa kehangatan budaya dan kreativitas yang hidup dari generasi ke generasi. (*)




Posting Komentar