Kartini Masa Kini, dan Refleksi Panggilan Hati

Kartini Masa Kini, dan Refleksi Panggilan Hati

Daftar Isi

JEPARA, 1903. Di sebuah ruangan yang pengap oleh tradisi partriarki, sosok wanita muda menatap jendela yang tertutup rapat. Namanya, Raden Ajeng Kartini, dan hari kelahirannya- 21 April 1879 - bak ritual tahunan- yang selalu di peringati seluruh Rakyat Indonesia

Di balik belenggu era Kolonial, Kartini - menjelma menjadi sosok pelopor gerakan feminisme di Indonesia, ia hadir dalam ruang sunyi, di tengah paradigma bahwa sosok wanita harus di rumah saja

Lewat pena tajam, Kartini melawan, dan di dalam "gelap",  ia bergerak memberikan edukasi, berbagi wawasan dan mengajar para perempuan muda Jawa kala itu

Di tengah Budaya Patriarki - sebuah sistem ini menempatkan laki-laki dalam posisi superior, pusat kekuasaan, dan pengambil keputusan utama dalam berbagai aspek kehidupan, Kartini - menantang arus zaman, bukan sedang meruntuhkan tembok patriarki, melainkan menentang kebodohan -yang dianggap -penjara.  

Pendidikan, -bagi siapapun-, khususnya wanita adalah kunci kebebasan. Ia mendobrak dogma bahwa wanita tak perlu pandai. Kala itu, Kartini mengajar di tengah bisik-bisik miring sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pusat semesta.

Kini, setelah 123 tahun  - menandai gerakan awal emansipasi wanita, muncul tantangan baru. Hal itu nampak dalam acara peringatan hari Kartini yang digelar oleh Gugus 7 PAUD Loceret, di Kedai Pawinihan, 24 April 2026. 

Agenda peringatan itu sekaligus sebagai Refleksi peran, kontribusi dan tantangan Kartini di era Modern. Semua nampak "terang" dalam "musikalitas puisi" yang di bacakan salah seorang Guru Paud 

Di antara alunan musik yang diputar, terdengar sayup suara, sosok wanita membacakan puisi diiringi irama melengkapi suasana, -sekaligus - memperkuat makna, dan emosi yang disampaikan. 

Puisi yang di baca di hadapan Guru PAUD itu, seolah mengambarkan perjuangan keras -jika tidak boleh dikatakan berat- sosok Kartini modern.

Di sebuah ruang kelas berdinding kusam, lantai keramik -bahkan semen- yang mulai retak, seorang wanita sedang duduk mengajar, terlukis dalam bait puisi berjudul  "Kartini Masa Kini"  sebuah potret -seorang pendidik Anak Usia Dini (PAUD). 

Kartini -kini- tak lagi dipingit, tapi ia sedang bergelut dengan "pingitan" ekonomi yang tak kalah menyesakkan.

BACA JUGA : 

Puisi itu juga menggambarkan tantangan Kartini -sebagai pendidik, - masa kini justru terletak pada honor guru yang terbatas, namun memikul tanggung jawab besar dalam mencerdaskan bangsa. Sebuah metafora yang melukiskan betapa perjuangan kartini dulu dan kini, seolah tak jauh berbeda

Dan, betapa kuat Kartini (pendidik PAUD) masa kini, ketika menjalankan peran atas panggilan hati, bukan materi 

Syahdan, Refleksi Hari Kartini yang digelar Gugus 7, Kec. Loceret, Kab. Nganjuk ini menggambarkan jika Kartini dulu - bergerak karena kegelisahan intelektual melihat kaumnya tertinggal, kini pendidik PAUD -bergerak karena panggilan eksistensial.

Di saat dunia makin pragmatis,- mendewakan materi- sebagai takaran kesuksesan, Kartini-Kartini di ruang PAUD ini justru menunjukkan kekuatan yang melampaui logika ekonomi. Mereka membeli krayon, kertas lipat, dan lem menggunakan uang pribadi demi memastikan anak didik mereka agar bisa mengenal warna dunia.

Dalam bait puisi yang di bacakan, kita bisa merasakan tugas sosok pendidik - Guru-  yang tidak sedang mengejar kekayaan, mereka sedang menanam benih, sebuah tugas pengabdian Mulia. Jika bukan Guru, siapa lagi yang mau hendak menyiapkan generasi emas untuk Indonesia yang lebih baik. 

Hingga pada titik ini, kita bisa mengerti - bahwa dibalik peringatan Kartini yang identik dengan lomba berkebaya atau sanggul yang rapi, ada kiprah yang tersembunyi rapi, jauh dari hingar bingar - melebihi- esensi perayaan seremonial belaka

Menghargai Kartini masa kini berarti mengakui bahwa tangan yang mengayun ayunan anak-anak di sekolah adalah tangan yang sama yang sedang membangun fondasi moral, akhlak, -bahkan- ekonomi dan sosial negara ini.

Jika dulu Kartini menulis "Habis Gelap Terbitlah Terang", maka hari ini kita patut bertanya: Kapan cahaya kesejahteraan itu benar-benar terbit bagi mereka yang menghabiskan hidupnya demi menerangi jalan anak-anak bangsa?

Hingga saat itu tiba, para guru PAUD akan terus mengajar. Bukan karena mereka lemah dan tak punya pilihan, namun, justru mereka terlalu kuat untuk membiarkan masa depan bangsa ini layu hanya karena masalah angka dan beban biaya pendidikan yang tak bisa di bilang murah. 

Ketua Panitia, Perayaan Hari Kartini Gugus 7 PAUD Loceret, Ibu Yenni mengatakan acara ini digelar untuk merefleksikan perjuangan Kartini, sebab beliau bukan saja di kenal sebagai tokoh emansipasi wanita, melainkan juga pelopor pendidikan yang di inisiasi oleh perempuan

Itulah kekuatan Kartini sesungguhnya: Mencintai tanpa syarat, mendidik tanpa batas. Selamat Merayakan Hari Kartini - Panjang Umur, Berkah Rezeki Melimpah untuk Ibu Guru PAUD se Indonesia

Editor | Masardi 

Posting Komentar

Flag Counter