Petik Merah Buah Kopi, Ritus Menjaga Rasa dan Aroma
Penulis | Soufie - Roaster Retorika Kopi Lahat
Kopi - siapa yang tidak kenal buah ini, di balik buah yang hanya mengandung satu biji disebut dengan peaberry, menyimpan rahasia rasa dan khasiat, -bahkan candu bagi para penikmatnya.
Aroma kopi yang mengepul dari cangkir pagi itu bukan sekadar pembuka hari, melainkan gerbang menuju sebuah misi besar. Di bawah sisa temaram satu purnama menjelang Ramadan 1439 H, diskusi kami mengalir hangat.
Biasanya, waktu-waktu seperti ini saya habiskan di antara rimbun kebun, bercengkerama dengan ibu-ibu petani tentang asa yang mereka tanam di sela batang kopi. Namun, dering gawai pagi itu membawa saya ke sebuah pertemuan berbeda.
BACA JUGA :
- Napak Tilas Pasemah, Monumen Megalitik di Situs Talang Gardu
- Soufie Retorika, Kisah Perjuangan Literasi Kopi dari Lahat
- Budaya Ngopi, Kopi itu di Roasting bukan di Gunting
Di hadapan saya, dua anak muda duduk dengan mata berbinar saat bicara tentang "harta karun" hitam dari Semendo dan Lahat. Segala hal tentang kopi yang mereka sampaikan terasa - serupa catatan penting yang harus terpatri kuat dalam benak.
Salah satunya adalah Nopri (28), pemuda asal Tunggul Bute, Kota Agung, Lahat. Meski ia sehari-hari mengabdi sebagai pendidik di sebuah pondok pesantren, darah petani yang mengalir di tubuhnya tak bisa bohong. Perkenalan kami bermula dari niat sederhana: ia menjual kopi bubuk olahan orang tuanya kepada rekan-rekan sejawat.
"Lumayan, Yuk. Kopi bubuk buatan jeme tue (orang tua) disukai teman-teman," kenang Nopri dengan dialek khasnya.
Keinginan saya untuk mengajak Nopri membentuk kelompok belajar—demi menghasilkan seduhan yang lebih berkelas—bersambut gayung. Ia pun menarik Usman (28), kerabat sekaligus karibnya dari Semendo, Muara Enim, masuk ke dalam lingkaran diskusi kami.
"Yuk, ke rumah pagi ini. Ada saudara yang juga punya minat besar soal kopi," ajak Nopri. Itulah yang membawa saya kembali bertamu ke rumah kontrakan sederhana itu.
************
Di tengah obrolan, dari bibir Usman terucap potensi Robusta dan Arabika Semendo yang legendaris. Dengan penuh semangat, ia menghadapi tantangan terbesar, -bukan pada tanahnya yang subur, melainkan pada cara pandang para petani kopi.
Di desanya, Usman memulai pemberdayaan kecil-kecilan, targetnya - tidak muluk- hanya mengajak para perempuan desa mengisi waktu luang dengan memilah dan menjemur kopi secara lebih baik. Sebuah langkah kecil yang patut diberi jempol.
Namun, jalan menuju "kopi sempurna" tidaklah mulus. Saat saya menyinggung soal proses natural petik merah, raut wajah Usman berubah serius. Ada getir di balik keluhnya.
Rupanya, ketika petani mulai paham bahwa harga petik merah jauh lebih tinggi, tantangan baru muncul dari kegelapan: kriminalitas. Dengan nada getir bercampur kelakar, Usman bercerita tentang "musang berkaki dua" yang kerap beraksi di malam hari.
"Maling tahu kalau kopi petik merah itu mahal. Mereka menyaingi luwak, tapi yang ini kepalanya hitam dan kakinya dua," selorohnya.
Akibatnya, para petani harus berjaga ekstra ketat di talang—kebun yang jauh dari pemukiman. Seringkali, rasa was-was mengalahkan idealisme; kopi akhirnya dipetik sembarangan daripada raib digondol maling sebelum matang.
Realita pahit inilah yang jarang sampai ke telinga para pengepul di pasar atau penikmat kopi di kedai-kedai mewah kota. Pemberdayaan tak bisa berdiri sendiri; ia harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat agar kesejahteraan meningkat dan angka kriminalitas bisa ditekan.
Tugas saya, Nopri, dan Usman memang tidak mudah. Kami bergerak di wilayah yang berbeda, dengan tantangan geografis yang tak sederhana. Namun, semangat dua pemuda ini adalah bahan bakar yang tak kunjung padam. Memberdayakan petani kopi agar menjaga kualitas kopi lewat panen petik merah.
Ritual panen petik merah bukan sekadar teknik memanen, melainkan sebuah komitmen terhadap kualitas yang membutuhkan kesabaran ekstra. Setiap tangkai pohon kopi berjajar ceri, di pilih dan di pilah agar memastikan buah benar2 matang - yakni buah kopi (cherry) yang sudah berwarna merah penuh atau merah tua (matang sempurna).
Jika pada panen biasa (petik pelangi/asalan) semua buah di dahan di sapu bersih, Istilah ini disebut "meramban" (menarik semua buah sekaligus), maka petik merah memperlakukan setiap pohon secara personal. - dengan memutar buah secara perlahan menggunakan jari agar tidak merusak tangkai atau mata tunas.
Meski pelan, kami terus berbagi informasi dan cara, berikhtiar agar harum kopi dari tanah Sumatera Selatan tak lagi menyisakan getir di hati petaninya. (*)


Posting Komentar