Rekonstruksi Literasi, Peran Penulis dan Pergeseran Budaya Baca
Ada apa dengan budaya literasi kita ? - pertanyaan besar ini -seakan - terus menggelayut dalam benak penulis. Kata "literasi", kian jamak menjadi "jargon" program pemerintah yang dimaknai sebagai ajakan untuk giat membaca.
Tengok saja program Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang fokus pada peningkatan budaya baca-tulis, numerasi, dan literasi digital untuk memperkuat SDM, -seolah- menjadi tameng untuk menjawab tamparan keras UNESCO yang memuat fakta minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%
Data ini menempatkan Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam riset World's Most Literate Nations, berada di bawah Thailand. Artinya, dari 1.000 warga Indonesia, hanya 1 orang yang gemar membaca. selebihnya, mereka memilih "gaduh" di medsos -hingga menempatkan Netizen Indonesia sebagai pengguna paling cerewet.
Mari kita urai satu persatu, sebuah fakta tentang pergeseran budaya baca ini dengan kacamata penulis. Kuy, siapkan Kopi tanpa Gula serta kudapannya, karena kita akan membedah fakta budaya literasi di Nusantara
*******
Secara historis, literasi baca - tulis -membaca serat atau kakawin- di masa lalu seringkali hanya terbatas di lingkungan keraton (kaum bangsawan/pujangga). Hal ini -konon- menjadi salah satu penyebab minimnya budaya literasi di Nusantara.
Sejumlah jurnal menyebut, masyarakat kita lebih akrab dengan seni pertunjukan seperti wayang kulit, ketoprak, dan dongeng adalah media penyampai pesan moral utama. Hal ini -juga - di perkuat lewat kredo ala Mataraman yang menyebut "wayang itu tontonan sekaligus tuntunan"
Budaya "menonton" ini pun mengalami transformasi, jika sebelumnya aksi panggung hanya bisa di saksikan secara luring, maka kini telah bergeser ke ranah daring.
Fakta yang lebih mengerikan -justru datang dari - kebiasaan rata-rata screen time masyarakat Indonesia yang mencapai lebih dari 7,5 jam per hari. Netizen lebih suka duduk berlama-lama di depan layar yang menampilkan narasi visual dan auditif (suara).
Itulah mengapa Gen Z lebih betah menonton clipper (video singkat) dan terus mengusap layar, hingga mendengarkan podcast, ketimbang membaca artikel panjang.
BACA :
- Soufie Retorika, Kisah Perjuangan Literasi Kopi dari Lahat
- KPOTI, Bangkitkan Kembali Budaya Permainan Tradisional
- Stop, Budaya "Bekali HP" Pada Anak
Syahdan, di era 80 - an, kita masih akrab dengan kalimat "Membaca adalah Jendela Dunia" seolah kembali mengingatkan kita tentang pentingnya budaya membaca. Tapi, faktanya, rakyat jelata lebih akrab dengan budaya panggung, mereka rela duduk berlama-lama, menonton seni pertunjukan wayang, -alih alih- memilih membaca sebagai media untuk mengumpulkan informasi.
Disinilah muncul paradoks Infrastruktur yang menjadi dalih -pemangku kebijakan- untuk menyikapi minat baca yang sangat rendah. Sebab, faktanya, kualitas infrastruktur pendukung literasi di Indonesia justru -dinilai- lebih baik dibandingkan beberapa negara Eropa.
*********
Kini, ruang literasi -terdengar - riuh dengan upaya membangkitkan budaya menulis dan membaca, jamak kita lihat kegiatan bertajuk "Membangkitkan Budaya Literasi" di gelar di kafe, hingga perpustakaan.
Padahal jika diamati lebih dalam, literasi seringkali hanya -narasi - pemanis (lipstik) yang terjebak pada aktivitas mekanis membaca dan menulis, tanpa menyentuh substansi. Di sisi lain, kita juga perlu intropeksi -menyadari- adanya jurang pemisah antara idealisme penulis yang sibuk dengan gagasannya sendiri dan realitas rendahnya minat baca masyarakat.
Menanggapi hal itu, pegiat literasi. Arfan Fathoni menolak anggapan yang menyebut penulis hanya sibuk berdialektika dalam ruang idealisme-nya sendiri
Pria pegiat sastra dan aktif dalam Lembaga SARBI - Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen- ini menambahkan sosok penulis harus menyadari bahwa tingkat pemahaman setiap individu (pembaca) yang berbeda. Oleh karena itu, penyederhanaan penyampaian tanpa mengurangi esensi gagasan menjadi kunci agar buku "menemukan jalannya sendiri" menuju pembaca yang tepat.
"Sebuah karya akan dianggap bernilai dan laku di pasaran jika mampu memenuhi dua fungsi psikologis: representasi diri mewakili perasaan -pribadi- pembaca sekaligus pemandu -guide- bagi persoalan hidup pembaca." ujarnya
Di tengah gempuran judul clickbait dan narasi instan, Arfan melihat sosok penulis bukan lagi sebagai pertapa sunyi, melainkan seorang koki yang harus turun ke jalan, menjajakan resepnya dengan strategi 'roadshow' demi mencuri hati generasi yang haus akan eksistensi
"Penulis sekarang tidak boleh lagi menjadi "menara gading". Sebab, keberhasilan literasi bukan diukur dari seberapa rumit diksi yang digunakan, melainkan seberapa mampu penulis beradaptasi dengan dialektika zaman yang serba cepat dan visual, tanpa kehilangan kedalaman substansi." pungkasnya.
Akhir kata, rendahnya minat baca di Indonesia bukan akibat malas semata, melainkan kita -mungkin- telah menjadi bangsa yang "betah mendengar namun lelah membaca."
Kita -tentu- tak menampik budaya tutur dan getok tular, yang -justru- berada di garda depan, dalam mengambil peran memajukan budaya literasi. Ketika, Ia menjelma menjadi sistem informasi sosial, maka tantangan kedepan adalah bagaimana menyisipkan "literasi" ke dalam "budaya tutur" tersebut—mengemas gagasan berat menjadi narasi -mudah diceritakan kembali - namun tetap memuat bobot kebenaran.
Sebab, ketika budaya "Word of Mouth" tak dibarengi literasi kritis, -alih alih menjadi gerbang pembuka informasi pengetahuan - Getok Tular justru meluncur menjadi "Budaya Rerasan" -bergunjing atau gosip- yang mencari "mangsa" dan berujung pada menebar kebencian, fitnah dan Hoaks.
Editor | Masardi



Posting Komentar