UNESCO Anniversary 2026: Digitalisasi Manuskrip Syekh Yusuf Al-Makassari

UNESCO Anniversary 2026: Digitalisasi Manuskrip Syekh Yusuf Al-Makassari

Daftar Isi

400 tahun lalu - sosok ulama besar, pejuang, sekaligus pengembara lintas benua bernama Syekh Yusuf Al-Makassari, di lahirkan.  Nama beliau bukan sekadar nama dalam buku sejarah. 

Beliau adalah jembatan spiritual antara Nusantara, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan. Dunia pun mengakuinya. Sidang Umum UNESCO ke-43 tahun lalu telah menetapkan momen ini sebagai UNESCO Anniversary 2026.

Kini, 2026 di tempat yang sarat sejarah - bernama Kawasan Cagar Budaya Banten Lama, Serang, Selasa (28/4/2026) aroma masa lalu seolah kembali terasa - nampak suasana tidak sekedar khidmat dalam doa, namun juga penuh semangat pelestarian intelektual. 

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menyampaikan bahwa peringatan ini memiliki arti penting di tingkat global.

"Sidang Umum UNESCO ke-43 pada tahun 2025 telah menetapkan Perayaan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai UNESCO Anniversary 2026. Penetapan ini menjadi pengakuan dunia atas peran dan pemikiran Syekh Yusuf sebagai ulama, pejuang, dan tokoh perdamaian Nusantara,"ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan peran strategis Perpusnas dalam pengelolaan manuskrip. "Perpusnas menjalankan mandat pelestarian dan digitalisasi manuskrip ulama nusantara, termasuk karya Syekh Yusuf Al-Makassari, agar tetap relevan dan dapat diakses lebih luas oleh generasi masa kini,”terangnya.

BACA JUGA : 

Dalam pameran yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, Perpusnas turut menampilkan lima koleksi terkait Syekh Yusuf Al-Makassari serta tiga naskah kuno nusantara hasil digitalisasi. Menurutnya, partisipasi ini menjadi wujud kontribusi nyata Perpusnas dalam memperkenalkan khazanah manuskrip kepada publik.

Sebagai informasi, Perpusnas mengedepankan empat pendekatan utama. Pertama, konservasi untuk menjaga keaslian naskah. Kedua,  digitalisasi guna memperluas akses. Ketiga, pemanfaatan melalui layanan baca dan kajian. Keempat, serta alih wahana melalui pengembangan konten seperti buku anak, komik, hingga film animasi berbasis naskah.

Langkah ini adalah upaya "memulangkan" pemikiran Syekh Yusuf ke panggung dunia. Melalui digitalisasi, sekat geografis antara Jakarta dan Leiden runtuh. 

Kini, Generasi Z kini tak lagi perlu terbang ke Belanda hanya untuk melihat goresan tangan sang ulama; cukup melalui layar gawai, warisan intelektual itu hadir di depan mata 

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani, lahir di Moncong, Loe, Gowa, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. 

Berkat jasa beliau pada bangsa ini, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 071/TK/1995 pada 7 Agustus 1995. Dan, di tahun 2009 Afrika Selatan juga memberikan gelar Pahlawan Nasional. (AKN/Ed:DRS/Dok:PHP)

Baca Arsip Syekh Yusuf Al Makassari Al Bantani (1626-1699)

Editor | Masardi

Posting Komentar

Flag Counter