Budaya Padi, Sinkretisme Ritual Pemuliaan Dewi Sri di Nganjuk

Penulis | Masardi
Titi Kala Mangsa, Nganjuk 1089 Tahun lalu - sebuah Titah Sri Maharaja Pu Sindok diterima oleh dua pejabat tinggi (Hino dan Wka), agar di teruskan (surat perintah) kepada Rakai Kanuruhan untuk memerintahkan (eksekusi) terhadap tanah sawah Kakatikan
Sejarah mencatat, tanggal 12 Kresnapaksa bulan Caitra tahun 859 Saka, yang jika dikonversi jatuh pada 10 April 937 Masehi - menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk. Situasi kala itu, juga nampak jelas tergambar pada kalender siklus Kronogram yang masuk dalam perhitungan Windu Sangara.[1]
Di bawah tatapan langit CaitramÄsa, Sri Maharaja Pu Sindok menetapkan status Tan Kolahulaha - sebuah janji suci bahwa tanah ini tidak akan diganggu gugat peruntukannya.
Hari itu, seluruh tanah sawah lmaḼ sawaḼ yang dikerjakan oleh petani kakaášikan (katik - kelompok pekerja tertentu) yang berada di Anjuk Ladang (Nganjuk) °iy-aĂąjukladaĹ dan beserta seluruh jajaran pejabat bawahannya tutugan-i taášá¸a, [2]
[Maka] di ucapkanlah sumpah kepada dewa i bhaášÄra (persembahan kepada entitas suci) i saĹ hyaĹ prasÄda -bertempat di sebuah pemujaan prasada -merujuk pada bentuk fisik candi yang bertingkat/menara -.yang suci kabhaktyan Jaya Kemenangan i ĹrÄŤ jayÄmášáša Keabadian Air kehidupan
Berhentilah (statusnya) -mÄri ta yan, menandai penetapan status tanah lama yang dicabut dan di ganti dengan status baru.
Tanah kakatikan yang awalnya dikelola untuk kepentingan umum/kerajaan, diubah statusnya menjadi sima untuk membiayai Prasada (Candi).
Dalam konteks saat ini -bak "dejavu" karena mirip dengan Larangan mengalihkan lahan pertanian demi kemakmuran lokal dan pelestarian ekosistem seperti pada pasal 40 Perda LP2B 2025 yang memuat penetapan Lahan Sawah Dilindungi demi menjaga keberlangsungan -kemandirian pangan. [3]
Berikut bunyi kutukan penguasa Nganjuk -kala itu : yÄwat °ikanaĹ waĹ durÄcÄra... brahmaáša kᚣatriya weĹya sudra - Barang siapa orang yang berperilaku jahat (melanggar), baik dari golongan kasta manapun.
Hal ini bermakna jika "ada" pejabat yang mencoba - umulahulaḼ °ike lmaḼ sawaḼ kakaášikan °iy-aĂąjukladaĹ- mengubah (alih fungsi) dengan mengganggu tanah sawah Kakatikan di Anjuk Ladang - akan di kenakan kutukan
Keberadaan Lahan Sawah Kakatikan -dalam prasasti diatas, menjadi bukti bahwa sebelum prasasti Anjuk Ladang di tetapkan - masyarakat di utara gunung Wilis telah mengenal domestifikasi spesies bernama Oryza sativa itu. [4]
BACA JUGA :
- Anjuk Ladang (1), Sebuah Akta Kelahiran di Tanah Kemenangan
- Anjuk Ladang (2), Tanah Dimuliakan Untuk Lumbung Pangan
- Anjuk Ladang (3), Pemuliaan Padi dan Janji Abadi di Lahan Sawah Dilindungi
Dan bagi masyarakat Nganjuk -bahkan hingga kini - masih menyimpan memori kolektif serta efikasi yang kuat terhadap "entitas" bernama Dewi Sri - yang terus dimuliakan, karena diyakini menjelma menjadi Padi .
*************
Selama ribuan tahun, tradisi pemuliaan Padi tetap dilakukan petani Nganjuk - dalam bentuk ritus budaya padi. Pengetahuan tradisional yang memuat tata cara, bahan ritual masih kita jumpai dalam tradisi budaya padi - di Jawa khususnya Nganjuk.
Dalam praktek ritual rutin inilah warga menggunakan bahan seperti Dupa, Takir, dan material organik lain. Material ini diyakini manjur bahkan wajib - sebagai syarat mendukung proses komunikasi kosmis - yang seakan telah menyatu dalam nafas dan keringat petani.
Di Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ritual Padi yang berakar pada tradisi leluhur masih dilakukan petani -saat mengolah lahan sawah. Ritual serupa juga dilakukan pada wilayah kecamatan dengan topografi dataran - dalam ilmu pertanian dan pemetaan, sebaran ini diklasifikasikan ke dalam agroekologi atau kelas kesesuaian lahan.
Dengan areal lahan pertanian seluas 46.072 ha [5], Kecamatan Rejoso menjadi kawasan sawah paling luas Kab. Nganjuk. Selain Rejoso, para petani di kecamatan lain juga melakukan ritual serupa, antara lain Tanjunganom, Gondang, Pace, Sukomoro, Loceret, Prambon, Bagor, Ngronggot, Baron dan Berbek
Secara spesifik, Budaya Padi yang dilakukan saat menanam padi mencakup beberapa tahapan utama, yakni Bubak Bumi (Ngladoni), Tjok Bakal (Tandur), Sum Suman (Pari Mliler), Keleman, (Pari Meteng), Wiwit (Metil), Boyong Mbok Sri . Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah petani Nganjuk menggelar Ritual Budaya Padi yang bermakna pemuliaan Sri dan Sedana [6]- kian hari semakin berkurang. Hal ini menjadi tantangan untuk mengembalikan tradisi "adiluhung" yang di wariskan oleh leluhur.
*******
Pagi itu, sang bagaskara manjer kawuryan, semburat sinar mentari berpendar menerangi tlatah anjuk ladang. Jarum jam menunjukkan pukul 04.30 WIB tatkala Mbah Suyadi sedang berkemas -menuju ke sawah. Sehari sebelumnya, ia mendapat undangan sebagai Mathoklek, sebutan atau gelar tokoh adat - untuk memimpin Ritual Bubak Bumi.
Di Desa Ngadiboyo, Ritual Bubak Bumi jamak digelar sebagai persiapan awal pada lahan. Areal sawah yang akan di tanami harus bersih, bahkan ritus ini "wajib "di lakukan sebelum bajak pertama menyentuh tanah sawah.
Bagi mbah Suyadi dan para Petani di Desa Ngadiboyo. memohon izin kepada sang Khalik dan Danyang (roh penjaga) lahan adalah syarat "wajib" agar proses pengolahan tanah berjalan lancar dan tanah menjadi subur.
Di bawah terik mentari pagi itu, Mbah Suyadi melangkah menyusuri galengan (pematang) sawah yang masih basah oleh embun. Di pojok lahan dekat pengaturan - saluran air masuk, tepatnya di sisi timur laut - ia berhenti
"Ujub dungo, panggenanipun sisih lor etan (tempat ujub berada sebelah timur utara sawah. " ujarnya.
Sejenak, mbah Suyadi terdiam, suasana pagi itu begitu hening - kemudian beliau mengucap bait-bait mantra - suaranya lirik seakan berbisik, hampir serupa desau angin yang membelai telinga :
Bismillahirrahmanirrahim Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaahu, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah. - Danyang Sabin, Danyang Asmoro Bumi kulo badhe Bubak Bumi, kulo nyuwun Idi pangestu, Mugi pinaringan rahayu widodo Nir ing sambikolo. Kulo badhe mbuka bumi olah tetanen
Bait awal mantra itu terdengar familiar bagi umat Muslim, sebuah Kalimat Syahadat. Dan bait selanjutnya, Mbah Suyadi menyebut "Danyang Sabin, Danyang Asmoro Bumi" sebuah entitas - dalam kosmologi Jawa di percaya sebagai "penjaga lemah sawah"
![]() |
| Mbah Suyadi - Mathoklek Rejoso Nganjuk |
Namun dalam prakteknya, ritus yang juga kerap disebut Ngladoni ini, - dinilai oleh kelompok Islam Puritan, sebagai tradisi yang tidak sesuai syariat Islam. Argumen ini merujuk pada tradisi "memohon sesuatu" kepada selain Allah bisa diartikan perbuatan syirik. Disisi lain, jika ditelaah dalam bingkai kosmologi Islam-Jawa, - kita bisa menyaksikan telah terjadi re-interpretasi atau pergeseran status bagi para Danyang.
Entitas "Danyang" yang dulu menjadi elemen utama dalam setiap ritus, seakan mulai memudar. Argumen ini berdasarkan mantra dari Mbah Suryadi.
Jika kita amati kembali, pengucapan Basmalah dan kalimat Syahadat - menegaskan sub-ordinasi yang menempatkan makhluk gaib di posisi bawah. Sedangkan keberadaan Allah tetap diposisikan sebagai Penguasa Tertinggi (Gusti Allah Ingkang Maha Agung).
Dalam budaya "pemuliaan" Padi, praktik pencampuran ini tidak bisa dimaknai secara serampangan, sebab Sinkretisme yang terjadi - merupakan sebuah strategi kultural, teologis, dan ekologis yang dilakukan oleh masyarakat agraris Jawa untuk merangkul agama baru (Islam) tanpa harus membuang akar spiritualitas lokal (penganut Hindu-Buddha).
**********
Praktek Sinkretisme pun nampak pada ritual Budaya Padi yang di gelar selanjutnya, yakni tahap Penyemaian Benih yang dilakukan saat benih padi (winih) hendak disebar di media semai.
Cikal Bakal merupakan ritual yang memilki satu kesatuan dengan ritual tandur. Karena diawali dengan melakukan persemaian benih di sawah, maka lazim disebut juga Tjok Bakal - dalam tradisi agraris di Nganjuk -dan Jawa pada umumnya.
Istilah Tjok Bakal inilah yang kemudian populer sebagai cikal bakal sawah. Di beberapa tempat, Tjok Bakal juga dikenal sebagai ritus dengan penyediaan sesaji inti . Media yang digunakan adalah wadah daun pisang - disebut takir, berisi sejumput nasi ditambah telur, dan bunga dengan aroma yang kuat dan di letakkan di sudut sawah.
Di titik inilah, sains pertanian modern dan spiritualitas Jawa yang diajarkan leluhur menyatu dalam budaya padi. Tatkala sesaji diatas wadah takir yang diletakkan pada sudut sawah - di pojok lahan -saluran air masuk, kelak di hanyutkan bersama, maka sisa-sisa nasi dan bahan organik perlahan akan melarut ke dalam tanah, menjadi stimulan alami bagi spora-spora jamur mikoriza dan mikroba tanah untuk membantu menyuburkan tanah
Dalam beberapa ritual - para mathoklek tidak menjelaskan fungsi takir dalam perpektif biologi tanah, bisa jadi karena spirit tradisi yang digelar hanya menitikberatkan pada ontologi mistis, berupa penghormatan terhadap "entitas" mistis yang diyakini menjaga sawah, melindungi padi agar hasil panen melimpah
Sementara di saat yang sama, perspektif ritus dalam pokok pikiran pemajuan kebudayaan justru mendorong upaya untuk membuka "kotak pandora" pengetahuan tradisional sehingga muncul kesadaran logika. Pemajuan kebudayaan juga memuat sebuah asa yang tak lagi bertumpu ritual -berisi dogma yang diulangi- tanpa memahami narasi epistemis. Sebab di balik komponen ritus agraris Jawa, sebagai sebuah praktik sains mutakhir yang diajarkan leluhur Jawa.
Artinya, bila setiap komponen bisa diurai secara ilmiah, maka tudingan ritual yang dianggap sebagai perilaku musyrik, yang selama ini di sematkan sebagian penganut Islam puritan - tentu akan terbantahkan, dan secara tidak langsung menguatkan justifikasi - leluhur Jawa adalah Ilmuwan hebat dalam bidang kimia atau biologi tanah.
Ritual saat memulai Tandur - menurut Mbah Suyadi, mutlak memuat properti (ubo rampe), berupa Ayam Buceng yang diletakkan pada tampah bundar. Diatasnya terdapat satu ekor ayam kampung utuh yang dipanggang, disajikan bersama nasi kerucut (buceng/tumpeng), dan lauk tambahan seperti urap-urap, mi goreng, serta sambal.
Pagi itu, petani penggarap - dalam sistem patron klien disebut mondok empok [6] - telah berkumpul di tepi sawah, sementara bibit padi di sudut persemaian pun siap di tanam
Perjonggo bertanya kepada petani penggarap. "neptunipun jenengan jumlahe pinten", hal ini untuk memastikan perhitungan nilai numerik atau bobot sakral tidak bertentangan dengan tradisi Jawa.
Di momen ini, petani penggarap lahan "wajib" menjawab saat di tanya berapa jumlah hari dan pasaran - oleh Mathoklek. Misalnya Kamis : 8 dan Kliwon : 8, maka di jumlahkan menjadi 16. Maka, selanjutnya proses semai padi yang mulai ditanam -harus berjumlah 32. Angka kelipatan dua ini bermakna sebagai pasangan.
"Niku parine sampun 16 jodoh, di salap ten ler etan " (ada 16 pasang dan mulai tanam di sisi timur laut).
************
Syahdan, 15 haripun berlalu. Mbah Suyadi pun di panggil kembali untuk memandu ritual sum suman - merujuk pada istilah (pari mliler) pertama di lahan sawah. Momen ini merupakan salah satu fase kritis saat pengisian bulir padi (fase pemasakan atau matang susu).
Prosesi ini juga dilanjutkan dengan syukuran jenang Sumsum - bubur dari tepung beras yang disiram gula merah. "Mbok sri lan Joko sedono, dino iki tak sum sumi" ucap Mbah Suyadi saat merapal mantra.
Ritual Sumsuman di Rejoso - tak jauh berbeda dengan tradisi Jawa pada umumnya. Ritual ini mengizinkan orang hadir di ritus itu untuk makan bersama, menikmati jenang sumsum (bubur sumsum).
Dalam perspektif naratif- Mathoklek menyebut bahwa bubur sumsum diberikan untuk "ngadem-ademi" -mendinginkan entitas Mbok Sri yang diyakini kepanasan karena hamil tua (padi meteng mrapak). Sementara dalam tinjauan sains, ritual ini bisa di maknai sebagai metafora - visual, untuk menggambarkan keadaan padi dalam fase generatif [7] - pengisian bulir
Fase generatif dimulai dari terbentuknya malai hingga berbunga dan berlangsung sekitar 35 hari baik pada varietas padi berumur pendek maupun panjang. [7]
Disinilah kita akan kembali di perkenalkan Sosok Sri dan Sedana yang disebut dalam mantra ritual sumsuman . Kedua "entitas" dwitunggal itu merujuk pada personifikasi Dewi Sri dan Dewa Sedana, sebagai manifestasi Hyang Widhi. [8]
Dewi Sri melambangkan kemakmuran, kehidupan, dan kesuburan, sehingga dikenal sebagai dewi pertanian, padi, dan sumber pangan. Sementara Dewa Sedana melambangkan keberlimpahan dan sumber harta (dana), sebagai asal tunggal rezeki dan kekayaan. [8]
Disinilah entitas lokal yang masih lekat dengan dewa-dewa Hindu, berpadu dalam konsep tasawuf Islam. Kendati tidak saling bertabrakan, namun upaya melebur pada satu wadah estetis dalam bingkai sinkretisme Agama, kerap menjadi perdebatan dan memantik diskursus yang lebih mendalam.
**************
Hari itu, usia padi sudah berumur 50 hari setelah tanam. Saat padi genap berumur 2 bulan, tampak batang membengkak atau "hamil" (meteng) - padi mulai berisi. Mathoklek di undang kembali ke Sawah untuk bersiap menggelar ritual Keleman, - di sejumlah tempat disebut Pari Metheng atau Mapag Mbok Sri.
Menurut Mbah Suyadi, ritual ini merupakan momen sakral paling krusial menentukan hasil panen maksimal atau justru sebaliknya. Ia pun menolak gegabah menentukan tanggal ritual. Sehingga harus disesuaikan berdasarkan neptu -saat prosesi Keleman
Sejenak mbah Suyadi terdiam, jari tangannya mulai menghitung kombinasi dina (hari masehi/tujuh) dan pasaran (hari Jawa/lima). Tiba-tiba bibirnya terucap "Wiji dadi sudo wurung,- Sepuluh" ujarnya memutuskan ritual Keleman digelar besok hari Minggu Legi, . Perhitungan ini merujuk pada pasaran minggu : 5 dan legi : 5 hasilnya 10, di bagi 4, maka sisa 2 yang berarti Dadi.
**********
Saatnya hari panen raya tiba, suasana Desa Ngadiboyo terasa berbeda. Aroma harum Nasi Gurih, berpadu aroma "bakaran" ayam ingkung, menyatu dengan di udara pagi itu. Beberapa orang telah bersiap menuju sawah, membawa berbagai macam sesaji sebagai ubo rampe Upacara Boyong Mboksri.
Di antara warga, juga nampak Mbah Suyadi, yang di percaya warga untuk memimpin ritual yang dikenal sebagai Tradisi Wiwitan - secara etimologi berasal dari kata Wiwit yang berarti memulai untuk memotong padi.
Setiba di sawah, beragam sesaji mulai dari cok bakal, sego taruk, emping, jadah, karuk, jenang, hingga pisang telah tersaji dan siap di persembahkan. Sejurus kemudian, beliau melangkah menuju galengan sawah.
Di pinggangnya terselip Ani - Ani, sementara tangannya membawa sesaji. Dari kejauhan, para petani menyaksikan beliau meletakkan sekeranjang sesaji (uba rampe) beralaskan daun pisang. Jemari tua yang legam itu mulai menyalakan lidi kemenyan.
Asap putih khas dupa itu menyatu - bergumul dengan udara pagi, menjadi saksi Mbah Suyadi saat berucap Basmalah, diikuti suara lirih berbisik mantra :
Kupat Lepet pinangka mbrokohi anggenipun mboyong Mbok Sri Sedana lan Jaka Sadana asih dumateng si mas bagus dumunung ingkang estri
Sejurus kemudian, Mbah Suryadi memotong beberapa ikat padi terbaik menggunakan ani-ani (ketam), Padi ini dibungkus kain mori putih dan dibawa pulang ke rumah. Saat memboyong Sri Sedana ke rumah pemilik sawah, - menurut Beliau, harus di perkenalkan dulu. Dan mantra diatas menjadi salam perkenalan antara entitas Sri Sedana kepada Mas Bagus dan sang Istri pemilik lahan
Ketika ritual telah purna, si pemilik lahan memberikan mahar berupa "Gedang setangkep - satu tandan penuh, kepada perjonggo / mathoklek.
Pada momen ini, dilanjutkan ritual boyongan padi ke lumbung - tempat menyimpan padi, - kendati saat ini sulit kita jumpai keberadaan lumbung padi, mungkin karena keterbatasan lahan, maka sebagai gantinya adalah puluhan karung yang diangkut ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Ikat padi Pari Penganten - yang diambil saat Wiwitan, wajib diletakkan di tempat paling atas atau di tengah lumbung sebagai "pemimpin" bagi padi-padi lainnya. Jika petani tidak memiliki lumbung - biasanya di tempatkan pada area Senthong Tengah Rumah [9] kamar tengah disakralkan
Ritual ini merupakan puncak fase "spiritual dan material" dalam budaya padi di Jawa. Usai acara ini, Mbah Suryadi - selaku perjonggo, memimpin doa kepada TUHAN serta memohon agar persediaan pangan di dalam lumbung tetap awet, berkah, tidak cepat habis, dan pada yang berada di lumbung tidak dirusak dimakan hama seperti kutu atau tikus.
DAFTAR PUSTAKA :
- Sistem Penanggalan dalam Serat Mustaka Rancang, Acmad Saeroni, Universitas Diponegoro
- Jan Laurens Andries (J.L.A) Brandes, 1887 - Oud Javansche Oorkonden, laporan inventaris tahun 1913, prasasti Jayastamba ini tercatat dengan kode inventaris D.59 1913
- Perda Kabupaten Nganjuk Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B)
- Padi, Oryza sativa - Wikipedia.org
- Badan Pusat Statistik Nganjuk, Luas Penggunaan Lahan Menurut Kecamatan (Ha), 2023
- Stratifikasi Sosial dan Penguasaan lahan dalam masyarakat agraris tradisional di Jawa, Wahyono 2017
- Fase Generatif pada Padi, Rahayu, 2017
- Bhatara Sri Sedhana, Kalarahu Kumpulan Cerita Rakyat Jawa oleh Mardiyanto
- Senthong Tengah, Rumah Tradisional Jawa Dalam Sudut Pandang Religi - Joko Budiwiyanto, S.Sn.,M.A. Staf Pengajar Prodi Desain Interior Jurusan Desain FSRD ISI Surakarta


Posting Komentar