Cak Ipoel, Inisiator Elingpiade - Eling Permainane Dewe
Hari menjelang siang, tatkala saya tiba di sebuah pelataran luas. Di sudut lapangan itu, berdiri bangunan megah mirip candi, menghadap ke timur.
Itu bukan gerbang" gumamku, melainkan sebuah panggung -yang dibuat- mirip Lawang Bentar namun beratap, ia memiliki struktur atap penutup, sering ditemukan di pura, pura, dan kompleks Kraton.
Ya, Anda tidak salah baca, Saya berada di Kraton - sebuah nama desa - di Kec. Krian, Kab. Sidoarjo. dan bangunan yang saya jumpai itu disebut Paduraksa, kelak diakhir tulisan ini, kita akan mengetahui kenapa bangunan itu bukan menghadap ke jalan raya, melainkan ke Alun-Alun
Siang itu, saya berjumpa dengan Ridho Saiful Ashadi, Praktisi Pembelajar Budaya Permainan Tradisional. Perjumpaan ini telah di jadwalkan, sebab di tengah kesibukan Cak Ipoel -sapaan akrabnya- berkenan menyempatkan diri untuk menerima jadwal wawancara ekslusif bersama Pena Budaya.
"Selamat datang di Kraton, " ujarnya menyapa. "Suwun cak, sepurane wis ngenteni suwe (terima kasih mas, maaf sudah rela menunggu lama)" jawabku dengan rasa bersalah sebab janjian pertemuan itu pukul 10.00 namun saya baru tiba di lokasi pukul 12.00 WIB
Singkat cerita, Mas Ipul memesan kopi untuk kami berdua, sambil menyalakan rokok kretek, ia pun mulai membuka pembicaraan tentang permainan tradisional yang kini mulai ditinggalkan. Dari raut wajahnya, saya bisa melihat ada sebuah asa yang ingin ia wujudkan, tentang spirit mengembalikan kembali Permainan Rakyat.
Menurut Cak Ipoel, dalam sebuah permainan rakyat yang dulu populer hingga era akhir 80 an, banyak terkandung nilai "Cipta Rasa Karsa" para leluhur yang dirancang untuk membangun manusia secara utuh. Ia lantas mencontohkan, Permainan seperti bentengan, gobak sodor, atau engklek adalah bentuk olahraga yang sempurna.
Anak yang ikut bermain, lanjutnya, secara alami dilatih melakukan koordinasi fisik yang lincah (motorik kasar) sekaligus menyusun strategi cepat untuk memenangkan pertandingan (kognitif).
"Jika kita amati seksama, berbagai permainan rakyat yang kita kenal dulu, selalu melibatkan beberapa orang, sehingga tidak bisa di mainkan individu" tuturnya, membandingkan permainan game di gadget yang bersifat individualis -kendati ada interaksi dengan pemain lain, maka itu hanya interaksi semu.
FYI, secara terminologi, permainan rakyat - folkgames atau permainan tradisional, merujuk pada aktivitas permainan yang tumbuh, berkembang secara turun-temurun. Dan untuk memainkannya, Cak Ipoel - sekali lagi- menggaris bawahi - wajib interaksi tatap muka.
"Saat kita bermain, ada negosiasi, ada tawa bersama, dan ada nilai yang kita pelajari, tentang bagaimana menjaga nilai sportif di dunia nyata". ujarnya sembari menjelaskan bahwa permainan rakyat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, telah membentuk benteng sosial yang kuat dalam suatu tatanan masyarakat
BACA JUGA :
- KPOTI, Bangkitkan Kembali Budaya Permainan Tradisional
- Stop, Budaya "Bekali HP" Pada Anak
- Quo Vadis Literasi dan Tantangan Edukasi
Nilai sportifitas dan "fair play" inilah yang lantas di implementasikan dalam bentuk komunitas Republik Dolanan,-Mantan direktur Walhi Jatim ini - mengkampanyekan permainan rakyat sebagai obat penawar bagi kecenderungan anak-anak masa kini yang kian gemar menyendiri.
Untuk mengelorakan permainan Rakyat, Cak Ipoel juga menginisiasi kompetisi dengan nama ELINGPIADE, sebuah akronim dari Eling-eling Permainane Dewe (ingat-ingat permainan sendiri), sebuah festival yang bertujuan melestarikan kearifan lokal dan membangun karakter anak.
Sejak 2015, sejumlah kota telah menggelar Elingpiade, antara lain Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Banyuwangi, Probolinggo, Batu, Gresik, Bojonegoro, Semarang, Magelang, Cirebon, Bekasi.
Diantara kota tersebut, bahkan ada yang menggelar festival beberapa kali dan berulang sejak medio 2016 hingga akhir tahun di 2025 -di titik distrik yg berbeda- yakni Pasuruan dan Sidoarjo, di daerah Kejapanan dan Kebun Raya Purwodadi dan di stadion kota Pasuruan.
Bahkan, di Kota Mojokerto, kebijakan penerapan pendidikan kearifan lokal telah dimulai sejak 28 Maret 2022, mulai PAUD/TK, SD dan SMP Negeri maupun swasta se-Kota Mojokerto. Pendidikan berbasis budaya lokal ini sudah dituangkan dalam surat nomor:420/1146/417.501/ 2022 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto
************
Keunikan Elingpiade ini terletak pada tahapan seremonial yang menjadi ritus dolanan rakyat. Jika Anda membayangkan Olympic Ceremonies yang digelar 4 tahun sekali sebagai penghormatan kepada dewa tertinggi mereka, Zeus, maka di permainan rakyat - sebagai embrio Elingpiade ini - acapkali digelar saat Bulan purnama yang terjadi pada hari ke-14 atau ke-15 -dalam kalender candra -sistem penanggalan Jawa.
Bayangkan, Anda seorang atlet sedang berada di panggung utama Olympiade, dan speaker raksasa memberikan tanda untuk mengucap motto " Citius, Altius, Fortius - Communiter (Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat - Bersama-sama).
Sebuah momen sakral serupa, juga bisa kita saksikan di permainan rakyat - dengan nama salam kawitan - disebut Hompimpah Alai Hom Gambreng yang di bacakan beberapa kali.
Ritual ini diikuti oleh atlit dan semua penonton atau pengunjung Elingpiade." ujarnya
Sebagai sosok atlet, momen berikutnya -Anda harus melakukan defile - parade atlet dalam upacara pembukaan Olimpiade, tapi di Elingpiade ini versi lite -jika tidak boleh dikatakan extend version- . Parade pun berhenti dan para pemain masuk Gerbang Pambuko. Anda menyanyikan tembang :
Yo 'pra kanca dolanan ing jaba padhang wulan padhange kaya rina. Rembulane e sing awe-awe ngelingake aja padha turu sore
Tembang itu wajib di nyanyikan para atlit dan para pemandu bermain, kira - kira mirip momen saat atlet menyanyikan Himne Olimpiade dan dilanjutkan Proklamasi Bangsa Bermain dan Ikrar Atlit Permainan Tradisional
"Sesi memuat teks sehingga panitia tinggal membacakan agar ditirukan sama semua atlit dan penonton " ujarnya
Tahap selanjutnya, memasuki sesi pertandingan Elingpiade. Pertama, bermain untuk bermain, yakni permainan Cublak2 suweng dan main Gotri ala Gotri dengan tembang dan geraknya.
Kedua, bermain kecermatan dan kecepatan (ini olahraga tradisional yang mengedepankan aspek kecepatan, seperti lari spint, atau marathon di Olympiade, namun bedanya - di permainan Rakyat - bisa di kemas memakai alat seperti : klompen batok, baliak panjang, lari balok, dan permainan dengan alat bantu sarung (balap sarung)
Ketiga, bermain Rotasi, Ini bergerak dari sirkuit A hingga E (1-5 sirkuit) ini bisa memadukan bermain yang menghasilkan poin dan skoring yang di akumulasi jadi capaian kerja tim.
Pada sesi penutupan, pembacaan skoring dan pengalungan medali -tapi jangan berharap selebrasi membuka champagne, sebab siapapun peserta yang ikut serta baik yang juara ataupun tidak, tetap mendapatkan MEDALI DARI JANUR KELAPA yang di bentuk ada bintangnya
"Skrip pagelaran Elingpiade sudah memadukan konsep teatrikal, seni pertunjukan, hiburan, edukasi, olahraga, konservasi budaya dan kreatifitas. Melalui agenda ini, tentu diharapkan menumbuhkan ekonomi produk lokal bersama ukm/UMKM" ujarnya
Sebagai Inisiator Elingpiade, Cak Ipoel mencoba menghadirkan kembali memori kolektif -tradisi bangsa- kepada generasi Z dan Alpha. Tujuannya jelas: agar permainan tradisional kembali populer dan dimainkan setiap hari, bukan hanya saat perlombaan seremonial.
Di Alun alun Desa Kraton, tepat di depan Paduraksa - Cak Ipoel- terus merawat tradisi dan menjaga ritus permainan rakyat. Bahkan lebih dari itu, Ketua KPOTI Prov Jatim ini terus menebar semangat pelestarian permainan tradisional.
Bagi saya- penulis, perjuangan Cak Ipoel ini bukan hal mudah, sebab menggelorakan kembali permainan tradisional itu berarti memangkas satu generasi -yang kini telah- kecanduan Gadget, dan -di saat yang sama- memberi kesempatan bagi anak-anak kita untuk tumbuh dengan karakter yang kuat, fisik yang bugar, dan jiwa sosial yang tinggi.
Akhir kata, mari kita kembali ke pelataran, menyiapkan garis gobak sodor, dan mulai mengingat kembali "permainan kita sendiri".
Editor | Masardi





Posting Komentar