Quo Vadis Literasi dan Tantangan Edukasi

Quo Vadis Literasi dan Tantangan Edukasi

Daftar Isi

Apa yang menarik jika kita membaca hasil survei dari Unesco - mengenai literasi dunia menyatakan -minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% atau hanya satu orang dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca.  

Disisi lain, kita melihat institusi pendidikan -seolah bersaing melawan - platform digital yang dirancang untuk membuat pengguna terus bertahan. Diksinya nampak jelas, video 30 detik lebih memikat daripada membaca buku 3 halaman. 

Ini bukan sekedar soal durasi, sebab ada fakta mengerikan tentang sebuah generasi yang tumbuh dengan buku fisik dan generasi yang tumbuh dengan TikTok/Reels

Mau kemana Dunia Literasi kita? apa tantangan terbesar para pendidik di Negeri ini ? kita akan bahas hal ini bersama narasumber pena budaya, Brillian Fajar Pradana - Guru Sosiologi di salah satu SMA Negeri di Nganjuk. 

*******

Miris, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan betapa kuat distraksi digital yang kini terus melanda generasi kita. Tengok saja, bagaimana budaya layar pendek (clipper) , notifikasi, algoritma media sosial, dan konsumsi konten instan mengubah cara manusia membaca, belajar, dan memahami pengetahuan.

Sebagai sosok pendidik, Brillian Fajar Pradana melihat hal ini sebagai konsekuensi yang harus di tanggung akibat rendahnya budaya literasi -yang mengajak siswa untuk- berpikir kritis.

"Jika kita mencoba melihat lebih dalam, persoalan rendahnya literasi itu bukan hanya soal kemampuan membaca atau menulis semata, tapi lebih ke bagaimana proses belajar itu berlangsung secara utuh dari awal sampai akhir. Yang saya rasakan saat mengajar di kelas, ada semacam ketidaksinambungan antar fase" ujarnya

Kurikulum pendidikan, lanjut Brilian, dan dalam silabus  -disusun rinci - dan sudah dirancang berjenjang, tapi dalam praktiknya, tiap fase seperti berjalan dengan ritmenya sendiri. Akibatnya, ketika siswa sampai di fase lebih tinggi, fondasi yang seharusnya sudah kuat ternyata belum benar-benar terbentuk.

Apa yang disampaikan Brilian, menggambarkan sebuah analogi kurikulum pendidikan ibarat rangkaian jalan dan jembatan yang telah dirancang saling tersambung. Tetapi dalam pelaksanaannya, setiap ruas dibangun dengan standar dan struktur yang berbeda. Ketika siswa melangkah ke jenjang berikutnya, ada bagian yang ternyata belum tersambung kuat sehingga perjalanan menjadi goyah.

************

Aktivitas belajar di PAUD

Bayangkan saja, Antok yang duduk di bangku TK -sudah- mampu menyusun Aksara menjadi beberapa suku kata (frasa). Ketika memasuki Jenjang SD - ia sudah mampu- menyusun beberapa kalimat dan melengkapi - vocabularperbendaharaan kata

Duduk di bangku SMP, Antok sudah mampu membedah struktur pemikiran. Pada fase ini, literasi tidak lagi sekadar merangkai kata, melainkan mulai memasuki ranah analisis dan sintesis. Antok pun mulai -terbiasa- belajar membedakan antara fakta dan opini, menangkap pesan tersirat di balik sebuah teks, serta menyusun gagasan yang lebih kompleks dalam bentuk esai atau laporan sederhana. 

Antok tidak hanya "membaca tulisan", tapi mulai belajar "membaca maksud" dan membangun argumen yang didukung oleh logika. Di sinilah permasalahan itu seringkali muncul, ketika Anak SMP - seusia Antok- belum memiliki literasi yang cukup, maka saat berada di ranah digital, seringkali "belum bijak". 

BACA JUGA : 

Beberapa kasus penyebaran berita hoax lantas menyeruak di lini massa. Tengok saja kasus seorang pelajar berusia 16 tahun di Gunungkidul diamankan polisi karena menyebarkan video hoaks tentang situasi darurat klitih (kejahatan jalanan) di TikTokMotifnya iseng dan ingin videonya viral. Hingga pada titik ini, kita bisa memahami perlunya saring sebelum sharing. seperti idiom yang sering kita dengar "Think Before Posting - Wise While Online

Tatkala Anak TK sudah menjadi remaja dan memasuki jenjang SMA, kemampuan ini idealnya menanjak menjadi literasi kritis dan produktif. Di sini, siswa seharusnya sudah mampu melakukan diskursus; mereka tidak hanya menyerap informasi, tetapi sanggup merumuskan tesis atau teori baru dari fenomena yang mereka amati di sekelilingnya. Mereka mampu menghubungkan satu disiplin ilmu dengan kenyataan sosial, lalu menuangkannya ke dalam tulisan yang memiliki bobot akademis maupun praktis.

************

Sosok Antok - si Anak yang tumbuh dari TK hingga SMA - yang di ilustrasikan di atas merupakan empati kognitif untuk memudahkan kita memahami fase tumbuh kembang -literasi- yang ideal untuk menjawab tantangan kedepan. Namun fakta yang terjadi kerap berbeda dengan konsep ideal yang disusun dalam silabus 

Menanggapi hal itu, Brillian mengaku dalam sejumlah studi kasus, pembelajaran akhirnya sering berjalan dalam dua arah sekaligus: mengejar target materi, tapi di saat yang sama harus kembali membangun kemampuan dasar. Ini yang membuat proses jadi tidak optimal.

Ketika pengajaran masuk pada tahap analisis, sering kali harus mundur dulu: membenahi kalimat, menyusun ide, bahkan membantu memulai tulisan. Ini bukan semata-mata kekurangan siswa, tapi lebih ke tanda bahwa proses sebelumnya belum sepenuhnya tuntas" tandas Brilian. 

Menurut Brillian, ada beberapa hal yang saling terkait. Pertama, budaya literasi belum benar-benar menjadi kebiasaan, masih sering diposisikan sebagai "tugas", bukan kebutuhan. Membaca dan menulis belum jadi bagian dari keseharian belajar.

Kedua, pembelajaran kita masih cenderung fokus pada hasil akhir (jawaban benar), belum sepenuhnya pada proses berpikir. Padahal literasi itu sangat erat dengan bagaimana siswa mengolah informasi, bukan sekadar menemukan jawaban.

Ketiga, ada kecenderungan bahwa kemampuan dasar dianggap "sudah selesai” di jenjang sebelumnya, padahal dalam kenyataannya masih perlu terus dirawat dan diperkuat di setiap fase.

Foto Brillian saat memberikan materi di hadapan siswa 

Guru di kelas atas, lanjut Brilian seringkali terjebak dalam dilema "dua arah": mereka harus berlari mengejar target materi yang padat, namun di saat yang sama -terpaksa- harus mengulang pelajaran di kelas sebelumnya. Metode ini dilakukan untuk membangun kembali kemampuan dasar yang belum tuntas. 

Literasi akhirnya tidak lagi menjadi sarana untuk menganalisis, melainkan beban tambahan untuk membenahi struktur kalimat, menyusun ide, atau sekadar memulai satu paragraf tulisan." ungkapnya

Sementara itu, hasil skor PISA tahun 2022 menunjukkan literasi siswa Indonesia (usia 15 tahun) mengalami penurunan, dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 dari 81 negara. PISA merupakan akronim dari Programme for International Student Assessment - merupakan program evaluasi pendidikan global- yang diadakan oleh OECD setiap tiga tahun sekali.

Jika kita kaitkan dengan PISA, Brilian melihatnya sebagai cermin yang cukup jujur. Penilaian itu tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tapi juga menunjukkan bagaimana siswa memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dalam konteks yang lebih luas.

Sehingga yang kita hadapi bukan sekadar masalah kemampuan siswa hari ini, tapi akumulasi dari proses belajar yang belum sepenuhnya terjaga kesinambungannya sejak awal" pungkasnya

Akhir kata, Hari ini ruang digital itu bak perpustakaan tanpa penjaga: semua tersedia, namun tidak semua pengetahuan -di dalamnya - membawa manusia menuju kemajuan peradaban. Bak pisau bermata dua, berkat ruang digital, manusia tidak lagi kekurangan informasi (konten), namun kehilangan kemampuan menimbang makna. (konteks)

Editor | Masardi 

Posting Komentar

Flag Counter