Ludruk Garingan, Hidupkan Tradisi di Tengah Disrupsi Teknologi

Ludruk Garingan, Hidupkan Tradisi di Tengah Disrupsi Teknologi

Daftar Isi

Mojokerto - Cahaya temaram panggung berpadu dengan nyala api kecil di sudut arena pertunjukan. Di hadapan puluhan penonton yang duduk lesehan memenuhi lantai Graha Nuswantara lantai 2 Universitas Islam Majapahit (UNIM), seorang pemain berdiri dengan balutan kain merah dan ikat kepala hitam. 

Suasana mendadak hening ketika suara lirih mulai menggema dari atas panggung. Kamis (7/5/2026) pagi itu, kesenian ludruk kembali menemukan ruang hidupnya di tengah lingkungan akademik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIM menggelar Pementasan Ludruk Garingan bertajuk "Besut: Jajah Deso Milangkori" sebagai upaya merawat kesenian tradisional Jawa Timur di tengah derasnya arus budaya digital. 

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga ruang refleksi budaya melalui sarasehan bersama pegiat budaya.

Acara dibuka dengan suasana hangat dan penuh antusiasme dari mahasiswa, dosen, pegiat seni, serta masyarakat umum yang hadir. Latar panggung sederhana dengan dominasi warna hitam justru mempertegas fokus penonton terhadap ekspresi para pemain. 

BACA JUGA : 

Spanduk besar bertuliskan "Besut Jajah Deso Milangkori" membentang di bagian atas panggung, menandai semangat perjalanan ludruk garingan yang melintasi berbagai daerah di Jawa Timur.

Pertunjukan diawali dengan monolog "Balada Sumara" yang dibawakan oleh Nazmatus Zahira. Naskah karya Tentrem Lestari yang disutradarai oleh Yuwafa Faurelio tersebut tampil dengan nuansa puitis sekaligus getir. 

Dengan permainan ekspresi yang kuat dan penghayatan emosional yang mendalam, monolog itu menghadirkan kegelisahan manusia kecil yang berhadapan dengan kerasnya realitas sosial.

Selepas monolog, Dekan FKIP UNIM, Dr. Wawan Hermawan, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kampus tidak hanya menjadi ruang akademik formal, tetapi juga tempat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan

Menurutnya, kesenian tradisi seperti ludruk perlu terus dihidupkan agar tidak kehilangan generasi penerus. Kehadiran kegiatan budaya di lingkungan kampus diharapkan mampu mendekatkan mahasiswa dengan akar kebudayaannya sendiri dan nilai pendidikan karakter.

Puncak acara berlangsung ketika pementasan BESUTAN "Batu-Batu Bersuara" mulai dimainkan. Karya yang digarap oleh Meimura, Kukun Triyoga, dan Taufiq Hidayat itu menghadirkan kritik sosial yang dibungkus dalam gaya ludruk garingan khas Jawa Timur.

Adegan pemain saat berinteraksi (sepelan) di atas panggung
Gelak tawa penonton pecah beberapa kali ketika para pemain melontarkan dialog satiris yang dekat dengan realitas masyarakat. Namun di balik unsur humor tersebut, tersimpan pesan tentang kehidupan masyarakat kecil, perjuangan ekonomi, hingga hubungan manusia dengan alam.

Simbol batu dalam pertunjukan menjadi metafora yang kuat. Batu tidak lagi sekadar benda mati, melainkan representasi ketabahan, kerja keras, bahkan spiritualitas masyarakat. 

Para pemain menghidupkan simbol itu melalui gerak tubuh, intonasi, serta dialog yang kadang jenaka namun menyimpan kritik tajam.

Suasana pertunjukan terasa semakin hidup karena penonton tampak larut mengikuti jalannya cerita. Sebagian mahasiswa terlihat merekam pertunjukan menggunakan telepon genggam mereka, sementara yang lain duduk bersila menikmati setiap adegan dengan penuh perhatian. 

Di tengah disrupsi teknologi yang di tandai dengan dominasi hiburan digital dan budaya instan, pemandangan itu menjadi ironi sekaligus harapan: kesenian tradisi ternyata masih mampu menarik perhatian generasi muda ketika dikemas secara dekat dan relevan. (*)

Editor | Masardi

Posting Komentar

Flag Counter