Topeng Malangan, Warisan Kesenian sejak Kerajaan Kanjuruhan

Topeng Malangan, Warisan Kesenian sejak Kerajaan Kanjuruhan

Daftar Isi


Penulis | Triswan Hadi

Topeng - secara filosofis-sosiologis - adalah simbol dari peran yang kita mainkan di panggung dunia. Dan, di tengah disrupsi Informasi yang kini melanda, peran topeng telah menjelma menjadi wajah digital. 

Namun, -mungkin- tak banyak yang menyangka, di sebuah sudut Desa Karangpandan, Pakisaji, aroma kayu yang dipahat dan sapuan cat warna-warni menjadi saksi bisu perjuangan menjaga napas Topeng Malangan.

Topeng Malangan bermula sebagai puspa sarira—penghormatan suci bagi roh leluhur. Kini, di tangan para maestro di Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun, potongan kayu itu bertransformasi menjadi 76 karakter yang mewakili spektrum emosi manusia. 

Warna pada topeng Malangan ini juga merepresentasikan emosi dan karakter. Untuk warna Merah, berarti Ledakan amarah dan keberanian yang membara, sedangkan Putih, sebagai perlambang kesucian dan kelembutan hati yang tulus. Pun halnya warna Hijau yang merupakan representasi sifat baik dan kedamaian.

Setiap lekukan wajah Panji Asmoro Bangun atau tatapan garang Klana Sewandana adalah narasi panjang tentang kebajikan melawan angkara murka yang terus relevan hingga hari ini, bahkan di balik gurat kayu yang kaku, tersimpan nyawa yang telah berdenyut selama berabad-abad, yang lahir sejak masa Kerajaan Kanjuruhan

Tantangan berikutnya adalah menjaga Identitas di tengah modernisasi, sebab pelestarian seni tradisional bukanlah perjalanan yang mudah. Beruntung, upaya ini mendapatkan dukungan dari pemerintah. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa topeng bukan sekadar benda seni.

"Seni topeng memiliki nilai historis dan filosofis yang mendalam. Kebudayaan adalah identitas bangsa. Dengan menjaga warisan leluhur, kita sedang memperkenalkan kekayaan Indonesia ke panggung global," ungkapnya saat mengunjungi jantung pelestarian seni ini, beberapa waktu lalu. 

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat mewarnai Topeng Malangan

Dukungan pemerintah melalui kunjungan resmi yang dihadiri Sekda Kabupaten Malang, Nurman Ramdansyah, serta jajaran perangkat daerah, memberi angin segar bagi para seniman. Kehadiran mereka di Padepokan Asmoro Bangun bukan sekadar seremonial, melainkan simbol kolaborasi.

BACA JUGA : 

Di padepokan inilah, "estafet" itu terjadi. Anak-anak muda Malang berkumpul, bukan untuk bermain gawai, melainkan belajar menggerakkan jemari mengikuti irama gamelan dalam Gebyak Wayang Topeng.

Mereka adalah garda depan yang memastikan bahwa cerita Panji dan Dewi Sekartaji tidak hanya berakhir di buku sejarah.

Kini, muncul sebuah harapan - melalui tangan-tangan pengrajin, gerak lincah para penari- muncul komitmen kebijakan pemerintah, Topeng Malangan diharapkan terus "hidup". Bukan sebagai pajangan dinding yang berdebu, melainkan sebagai jati diri yang membanggakan, yang terus menari melintasi zaman. (*)

Posting Komentar

Flag Counter