Festival Jaranan Galek Masuk Kalender Pariwisata Nasional, Siapa diuntungkan?
Ketika Jaranan Trenggalek, digelar dalam bentuk Festival, maka ia bukan lagi kesenian "medioker", sebab di sejumlah tempat, tak banyak Kabupaten yang memberikan panggung pada Kesenian Jaranan -terlebih- hingga di jadikan Festival.
Apa Istimewanya Jaranan Trenggalek? Sebelum pertanyaan ini terjawab, mari kita mengenal lebih dekat Kesenian Tradisional "khas" Mataraman ini. Kesenian Tradisional "Jaranan Trenggalek", khususnya Turonggo Yakso, adalah kesenian - yang menampilkan - tari kuda lumping dengan kepala raksasa.
Turonggo Yakso, secara etimologi berasal dari kata "Turonggo" (kuda) dan "Yakso" (raksasa/buto), yang berarti kuda raksasa. Secara filosofi, Tarian ini merupakan simbol kemenangan warga atas kekuatan jahat (raksasa) yang mengganggu desa, yang awalnya disajikan sebagai bagian dari ritual bersih desa atau "Baritan"
Dalam setiap pagelaran, kesenian ini dimainkan dengan perpaduan gerak tari, musik gamelan, dan unsur magis. Ketiga elemen ini menjadikannya satu atraksi budaya, dan kian hari mendapat tempat (panggung), hingga dijadikan ajang tahunan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT), dan menjadi salah satu perayaan budaya terbesar di Bumi Menak Sopal
Baru - baru ini, Festival Jaranan Trenggalek 2026 masuk resmi masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Penetapan ini tercantum dalam daftar 125 agenda nasional Kementerian Pariwisata dan menjadi kabar baik bagi pengembangan seni budaya, pariwisata, serta ekonomi kreatif di Kabupaten Trenggalek.
Berbagai media nasional memberitakan, tak sedikit pula di media sosial memuji hal ini sebagai capaian "positif" dan apresiasi bagi pelaku seni dan budaya di Trenggalek. Jika boleh jujur, keberhasilan ini -tentu- tidak lepas dari peran Anggota DPR RI Komisi VII periode 2024–2029, Novita Hardini, yang aktif mengawal program aspirasi masyarakat, khususnya di sektor budaya dan pariwisata
Menyikapi hal ini, Ermiko Effendi, seorang pegiat Industri Kreatif asal Trenggalek menilai sebuah festival budaya seperti Jaranan bukan sekadar ritual atau tontonan semata, melainkan sebuah mesin ekonomi yang memiliki daya jangkau luas.
Dalam studi ekonomi pariwisata, satu kegiatan utama - diharapkan mampu memicu aktivitas ekonomi sektor lain—disebut Linkage dengan beberapa instrumen pendukung lain
Fenomena ini disebut Economic Multiplier Effect (Efek Pengganda Ekonomi). Artinya, dalam konteks festival budaya, multiplier effect terjadi ketika uang yang dibelanjakan oleh pengunjung (wisatawan) berputar di dalam ekonomi lokal.
"Ketika Jaranan masuk dalam Kalender Event Pariwisata Nasional, maka orientasinya wajib berubah 180 derajat menjadi outward looking. Festival budaya tidak lagi dipandang hanya sebagai entitas seni, melainkan telah bertransformasi menjadi komoditas ekonomi dan daya tarik destinasi" ujarnya
BACA JUGA :
- Suluk, Kidung Surgawi Pitutur Tinular
- Nyadran di Tengah Persimpangan dan Tantangan Zaman
- "Dance of Inflation" Tarian Simbolik dari Sudut Pandang Seniman Rakyat
Pria yang menjadi profesional Broadcaster ini lantas mengingatkan instrumen yang harus dapat dicapai. Sebab, indikator keberhasilan pariwisata, lanjut Ermiko, bukan -lagi- sekadar jumlah penonton lokal atau ramainya tepuk tangan warga, melainkan indikator ekonomi yang lebih luas, yakni ; Berapa banyak kamar penginapan atau hotel yang terisi? Berapa porsi kuliner lokal yang terjual? Seberapa banyak kunjungan wisatawan dari luar kota? Seberapa besar perputaran uang dari luar daerah yang masuk ke Trenggalek?
Tantangan sesungguhnya bagi pemangku kepentingan adalah menggeser paradigma lama. Belajar dari model sukses seperti Jember Fashion Carnaval (JFC) atau Festival Reog Ponorogo, kunci utamanya bukan hanya pada kualitas artistik, melainkan kemampuan membidik segmen pasar nasional.
"Jika gagal menyusun strategi pemasaran yang relevan bagi pelancong luar daerah, maka status "Event Nasional" hanyalah sebuah predikat tanpa dampak multiplier effect bagi ekonomi daerah." ujarnya mewanti
Untuk mewujudkan hal itu, Ermiko mengingatkan sejumlah langkah strategis - yang menuntut banyak pihak - melalui keterlibatan kolaborasi Pentahelix atau jejaring ABCGM, Akademisi, Bisnis, Community (komunitas kreatif), Government (pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten) dan Media
Event ini harus terintegrasi dengan fasilitas akomodasi, kuliner, dan produk kreatif (oleh-oleh). Narasi budaya yang diusung pun harus mampu menjangkau audiens kota-kota besar agar tercipta urgensi bagi mereka untuk datang menonton langsung.
Menikahkan budaya dengan pariwisata berarti menggunakan seni sebagai mesin penggerak ekonomi. Tanpa pengelolaan yang terencana, label "Event Nasional" hanya akan menjadi rutinitas seremonial untuk memuaskan kebanggaan sesaat atau sekadar pencitraan pemerintah daerah, tanpa memberikan dampak riil bagi kesejahteraan masyarakat Trenggalek.
Apa yang disampaikan Ermiko ini -tentu dapat disebut sebagai Constructive Criticism, yang bukan -sekadar kritik negatif - menjatuhkan, melainkan memberikan solusi dan evaluasi yang mendalam
Editor | Masardi



Posting Komentar