Milangkala Tatar Sunda, Peringatan 1357 Tahun Kelahiran Kerajaan Sunda

Milangkala Tatar Sunda, Peringatan 1357 Tahun Kelahiran Kerajaan Sunda

Daftar Isi

1357 Tahun lalu, terjadi transformasi yang diiringi perubahan besar-besaran pada sistem pemerintahan Kerajaan Tarumanegara. Tepat pada tanggal 18 Mei 669 Masehi, Penguasa terakhir Tarumanegara, Maharaja Tarusbawa, mengubah nama kerajaan tersebut untuk mengembalikan kejayaan masa lampau Tarumanegara, yang berpusat di wilayah Sundapura

Momen bersejarah inilah yang menginspirasi Dedy Mulyadi untuk mengembalikan kejayaan Sunda dan diwujudkan lewat peraturan Gubernur Jawa Barat No. 13 Tahun 2026. [1] sehingga  setiap tanggal 18 Mei, diperingati sebagai Hari Tatar Sunda

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya pembangunan kota yang bersih, tertata, indah, dan tetap berpijak pada budaya lokal dalam puncak perayaan Milangkala Tatar Sunda "Kirab Mahkota Binokasih Ajeg Tatar Sunda” di Kota Bandung, Sabtu (16/5/2026) malam.

Peringatan Hari Jadi atau Ulang Tahun wilayah Tanah Sunda berfokus pada pelestarian sejarah, identitas, dan nilai-nilai kebudayaan lokal Sunda. Tema perayaan bertajuk Milangkala Tatar Sunda [1], yang berasal dari gabungan dua kalimat, yakni Milangkala, berarti milang (menghitung) dan kala (waktu/masa), yang bermakna peringatan hari jadi atau ulang tahun. Sedangkan Tatar Sunda, berarti wilayah atau tanah Pasundan (kawasan tempat budaya dan bahasa Sunda berkembang).

Bandung henteu ukur dipinuhan ku gedong, mall jeung hotel. Tapi, Bandung kudu dipinuhan ku karya-karya seni anu endah, ujar Kang Dedi Mulyadi

Pembangunan kota, lanjut KDM, tidak boleh hanya berorientasi pada gedung, pusat perbelanjaan, dan hotel, tetapi juga harus menghadirkan ruang seni dan kebudayaan yang memberi kenyamanan serta kebanggaan bagi masyarakat.

Gubernur juga menekankan pentingnya penataan lingkungan perkotaan secara menyeluruh, mulai dari kebersihan jalan, trotoar, saluran air, hingga penataan pedagang kaki lima.

BACA JUGA : 

"Seluruh wilayah di Jawa Barat harus menjadi daerah yang bersih, hijau, tertata, dan membahagiakan masyarakatnya," tegasnya.

Selain menjadi perayaan budaya, Gubernur berharap, Kirab Mahkota Binokasih Ajeg Tatar Sunda menjadi momentum memperkuat identitas budaya Sunda di tengah perkembangan zaman. "Lembur diurus, kota ditata. Sunda jaya di Nusantara, jaya di buana!" serunya.

Perayaan Milangkala Tatar Sunda berlangsung meriah dengan menampilkan kesenian dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat serta berbagai kesenian Nusantara. Ribuan masyarakat pun memenuhi sepanjang rute kegiatan untuk menyaksikan rangkaian kirab budaya tersebut.

Secara tradisional, ingatan kolektif mengenai keberadaan kerajaan ini pada kalangan masyarakat Sunda terjaga dalam tradisi oral Pantun, yang banyak menceritakan masa-masa keemasan kerajaan, terutama mengenai legenda tentang Prabu Siliwangi,. [2]  Raja Sunda paling populer di Kerajaan Pajajaran [3] 

Beberapa prasasti menyebutkan kerajaan ini, seperti Prasasti Kebon Kopi II, Prasasti Sanghyang Tapak, Prasasti Kawali, dan Prasasti Batutulis


DAFTAR PUSTAKA 

  1. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2026
  2. Iguchi, Masatoshi (2017-01-25). Java Essay: The History and Culture of a Southern Country . Troubador Publishing Ltd. ISBN 9781784628857.
  3.  Ekajati, Edi Suhardi (2005). Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran. Pustaka Jaya. ISBN 9789794193341.

Posting Komentar

Flag Counter