Festival Karawitan, Libatkan 48 Grup Pelajar di Ponorogo
KALANGAN pelajar di Ponorogo menjadi penjaga kelestarian seni karawitan. Siswa maupun siswi mulai tingkat sekolah dasar (SD) sudah mahir memainkan seperangkat gamelan pelog dan slendro.
Festival Karawitan 2026 yang menandai perayaan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo mencatat kepesertaan 18 grup tingkat SD/MI, 21 grup tingkat SMP/MTs, serta 9 grup tingkat SMA sederajat.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah Ponorogo, Bambang Suhendro mengungkapkan rasa bangganya karena tercatat 48 peserta ambil bagian dalam festival karawitan. Karena itu, durasi festival berlangsung selama dua hari (5-6 Agustus 2026) di Pendopo Pemkab Ponorogo.
Hal itu menandakan ekstrakurikuler karawitan berjalan di banyak sekolah. Harus kita apresiasi karena menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya warisan leluhur yang luar biasa,” kata Bambang Gulo –sapaan Bambang Suhendro.
Apalagi, gamelan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO pada 15 Desember 2021. Sama derajatnya dengan Reog Ponorogo. Kata Bambang Gulo, kalangan pelajar di Ponorogo mengambil peran menjaga warisan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman.
BACA JUGA :
- Topeng Malangan, Warisan Kesenian sejak Kerajaan Kanjuruhan
- Segoro Topeng Kaliwungu, Regenerasi Pelaku Seni Budaya di Lumajang
- Ludruk Garingan, Hidupkan Tradisi di Tengah Disrupsi Teknologi
Masyarakat Ponorogo pantas bangga karena dua warisan budaya yang diakui dunia (gamelan dan Reog Ponorogo) berkembang di sini, jelasnya dalam siaran pers yang diterima penabudaya.net
Menurut dia, festival karawitan tidak hanya berorientasi pada kompetisi. Menang atau kalah bukan menjadi tujuan utama. Proses berlatih, membangun kekompakan, serta menumbuhkan kedisiplinan justru menjadi nilai penting bagi pelajar yang menekuni seni karawitan.
"Tidak sekadar memainkan alat musik gamelan. Mereka juga belajar bekerja sama, menghargai peran pemain lain, serta menjaga keselarasan dalam sebuah pertunjukan,” urainya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Ponorogo NurhadI Hanuri mengatakan bahwa seni karawitan merupakan bagian integral dari identitas Indonesia yang telah ada sejak berabad-abad lampau. Sebuah kebanggaan bagi Ponorogo karena warisan budaya itu terwariskan dari generasi ke generasi melalui pendidikan formal di sekolah dari kegiatan ekstrakurikuler.
Kalau pelajar sudah tertarik, maka menjadi jaminan kesenian tradisional terjaga kelestariannya,"tegas Nurhadi. (wbi)
foto : kominfo ponorogo


Posting Komentar