Perelung, Kisah Wastra Besemah Menolak Punah
Penulis : Soufie Retorika
Besemah, sebuah tanah yang penuh berkah, tak hanya menyimpan kekayaan alam yang melimpah, sebab -bagi saya- inilah anugerah dari Tuhan , dan betapa saya bersyukur tinggal di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan hingga 2 dekade ini.
Besemah tak hanya menyimpan hasil bumi sebab dibalik itu, ada budaya yang hadir -sebagai nafas, melengkapi kehidupan keseharian jeme (sebutan orang) di tanah Paseumah (Besemah).
Diantara kekayaan budaya itu, 10 tahun lalu - saya menemukan temuan dari tenun khas yang berada di sepanjang Bumi Paseumah. Salah satu tenun yang sudah punah ini yakni Perelung yang menjadi sebutan masyarakat Lahat dan Pagaralam, dan Empat Lawang
Kain tenun ini sudah ada sejak awal abad ke 20, namun sempat punah selama lebih dari 80 tahun sebelum akhirnya kini -mulai dihidupkan kembali - dikembangkan oleh Dekranasda Kabupaten Lahat.
**************
Perelung, adalah kain tradisional Wastra -sebuah istilah bahasa Sansekerta berarti Kain- yang merupakan salah satu warisan wastra Uluan Sumatera Selatan (Bumi Besemah). Ia seperti halnya Wastra Nusantara - yang lain dan kita kenal- yakni Batik di Jawa, Ulos di Batak, Tenun ikat (Flobamora), Kain tapis (Lampung), dan Kain Poleng (Bali).
Perelung, sarat akan makna filosofis, simbolis, dan nilai budaya, bukan sekadar busana pelengkap. Setiap helai wastra memiliki cerita, sejarah, dan makna mendalam yang diwariskan turun-temurun, melambangkan kearifan lokal.
BACA JUGA :
- Soufie Retorika, Kisah Perjuangan Literasi Kopi dari Lahat
- Napak Tilas Pasemah, Monumen Megalitik di Situs Talang Gardu
- Upaya Mengangkat Ukiran Rumah Tuo ke Kain Batik
Penelusuran saya mencari Wastra Besemah ini tak sia- sia, hingga tanpa sengaja, saya dikenalkan pada Ilham seorang penenun songket Palembang yang mencoba menenun beberapa kain perelung kuno milik tokoh masyarakat Pagaralam yang enggan disebut namanya.
"Sudah 11 motif yang saya lihat dari kain perelung ini dan belum ada modifikasi. Kain Perelung ini, tapi sayangnya dari gambar-gambar yang saya dapat tidak semua jelas. Hanya satu yang saya peroleh kain dengan panjang sekitar 2 meter lebar sekitar 30 sentimeter, yang bisa saya buat replika," Jelas Ilham penenun yang menenun replika Perelung hasil pesanan konsumennya.
Untuk menyelesaikan Perelung, Ilham mengerjakan sekitar dua bulan bersama seorang asisten penenun yang dimiliki di salah satu workshop yang ia kelola.
"Semula tidak menyangka bahwa tenunan ini berbeda dengan songket yang jauh lebih rumit. Model penenunannya yakni sambil menenun, mencukit benang emas," papar Ilham
Dari segi pemilihan benang yang dilakukannya untuk menenun, ia harus menyamakan dengan kain aslinya dalam membuat replika kain perelung.
"Beberapa benang yang ada saya coba lalu baru dimulai menenun. Untungnya hasilnya tidak mengecewakan dan berhasil membuatnya. Dan ini pesanan khusus customer saya," jelas Ilham.
Info sekilas tentang sejarah perelung sendiri tidak banyak didapatkan Ilham, hanya di ceritakan pemilik kain yang enggan disebutkan namanya bahwa kain tersebut milik nenek moyang mereka yang usianya diperkirakan sekitar 100 tahun lebih.
Di dokumen sumber yang ada juga tidak banyak diperoleh info tentang tenun Perelung ini. "Motif perelung unik, teknik tenun paling bagus " lanjut Ilham yang membuat replikanya diatas sutera seperti aslinya.
Satu motif yang paling ia kenali motif pucuk pakis seperti di dinding kayu pada Ghumah Baghi hampir sama gambaran motif yang primitif. Ghumah Baghi atau Rumah Baghi, merupakan rumah adat tradisional di Provinsi Sumatera Selatan yang dibangun oleh Suku Besemah (atau disebut juga Pasemah)
*********
Untuk harga tenun perelung ini, sangat bervariasi tergantung dari motif yang di buat, sebab proses pembuatan di butuhkan waktu cukup lama dan menggunakan teknik cukit yang rapat dan rumit. "Cukitan benang emasnya cukup rumit dan khas, bolak balik kain ini rapet dan rapi. Patokan harga antara 6 jutaan rupiah lebih apalagi ini handmade tradisional," tegasnya.
Sementara dalam pertemuan yang terpisah, Ismeth Inonu SY, Budayawan Lahat, mengatakan bahwa dirinya belum paham tentang kain Perelung.
"Bisa jadi diambil dari kata "Relung" yang maknanya diantara dua mempelai dijadikan satu yang biasanya kain tradisi dipakai saat acara tradisi, dirinya juga menggagumi kain tenun unik ini," ungkapnya .
Dirinya mengungkapkan bahwa jangkauan Paseumah cukup luas dulunya, dan dalam kesehariannya memiliki warna-warna dominan yang dipakai.
"Warna-warna yang dipakai seperti biru tua, biru muda, kuning emas, hijau tua, merah muda, merah tua, ungu. Baik dari kerajinan maupun kain terlihat ciri khas kita," urai Ismeth.
Sementara itu, Sukanti Pengelola Museum Balaputra Dewa, Palembang, mengakui ada satu Selendang Besemah yang ada koleksinya di museum Bala Putra Dewa, namun dirinya tidak tahu nama tenun tersebut yang dari penjelasannya berbeda dari songket.
"Sedikit informasi tentang tenun ini, berupa selendang yang konon dikenakan ibu-ibu atau nenek-nenek yang menjadi orang tua di tempat tersebut," kata Sukanti
Istilah perelung -mungkin - istilah lokal setempat, dan tak banyak yang tahu nama tenun tersebut. "Banyak hal yang perlu digali masih adakah keberadaan penenunnya, dahulu yang menenun biasanya siapa saja sehingga kita bisa mendapatkan hal ikhwal kain ini," paparnya.
Dari koleksi museum itu terdapat kain tenun Lintang Empat Lawang, Semendo, dan kain Paseumah ini berupa selendang . Kualitasnya tak kalah dengan songket yang bermotif khas, kondisi tenunnya rapi dan kuat kualitas benangnya bagus, urainya.
*. Penulis adalah pegiat literasi, petani kopi, pengumpul cerita rakyat yang tinggal di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan




Posting Komentar