Festival Pu Tajum : Refleksi Pemajuan Kebudayaan Anjuk Ladang
Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Nganjuk ke 1089 Tahun, Pemerintah Kecamatan Ngetos menggelar Festival Tajum. Nama Tajum diadopsi dari nama Mpu Tajum turut tercatat dalam lembar perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Sosok ini tidak hanya dikenal sebagai tokoh agama yang dihormati pada zamannya, tetapi namanya juga disebut dalam Kitab Pararaton, salah satu sumber sejarah penting yang merekam perjalanan kerajaan-kerajaan besar di Jawa, termasuk masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Camat Ngetos, Nuri Prihandoko, mengatakan Festival Pu Tajum 2026 merupakan implementasi konkit dari "Akselerasi Pemajuan Kebudayaan" di tingkat kecamatan.
"Kegiatan ini bertujuan untuk mengintegrasikan aspek masa lalu (era Mpu Sindok ) dengan relevansi kondisi masa kini (pameran/ekonomi), dan masa depan (edukasi pemuda) sesuai dengan mandat PPKD Kabupaten Nganjuk.
Seperti di ketahui, PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Nganjuk) yang di tetapkan sejak 2018, menekankan pentingnya literasi sejarah lokal serta menjadikan kebudayaan sebagai penggerak ekonomi.
BACA JUGA :
- Anjuk Ladang (1), Sebuah Akta Kelahiran di Tanah Kemenangan
- Anjuk Ladang (2), Tanah Dimuliakan Untuk Lumbung Pangan
- Anjuk Ladang (3), Pemuliaan Padi di Lahan Sawah Dilindungi
Ditambahkan Nuri Prihandoko, festival ini juga akan menampilkan pameran tosan aji, koleksi pusaka berupa keris dan senjata tradisional yang merupakan warisan leluhur dengan nilai spiritual dan historis tinggi. Melalui ajang ini, di harapkan ada bursa -transaksi yang mempertemukan buyer ( kolektor) dengan pengrajin.
"Harapan kami, dapat tercipta perputaran ekonomi bagi para perajin (pande besi/empu), penyedia aksesori keris, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi festival. Ini mengubah warisan budaya menjadi aset produktif tanpa menghilangkan nilai luhurnya." Tandasnya.
Tantangan terbesar PPKD adalah bagaimana membuat kebudayaan tetap relevan bagi generasi Z dan Alpha. Festival ini digelar dengan pendekatan melalui pergelaran seni yang dinamis tanpa mencabut nilai historisnya.
Dalam acara ini juga digelar Sarasehan Sejarah dan Budaya, yang bertujuan mengajak pemuda Nganjuk tidak hanya melihat masa lalu sebagai dongeng, tetapi sebagai identitas yang membanggakan.
BACA JUGA :
"Seluruh warga Nganjuk dan masyarakat umum diundang untuk hadir menyaksikan langsung semarak Festival Mpu Tajum pada 23 April 2026 di Kantor Kecamatan Ngetos,ujar Nuri.
Melalui Festival Mpu Tajum, Nganjuk membuktikan bahwa usia 1.089 tahun bukanlah senja bagi sebuah peradaban, melainkan fajar baru bagi bangkitnya kesadaran budaya yang lebih kokoh.
Langkah Kecamatan Ngetos ini dapat menjadi model bagi wilayah lain di Kabupaten Nganjuk.
Bahwa memajukan kebudayaan tidak harus selalu dengan membangun infrastuktur baru, melainkan dengan merawat tradisi, guna membangkitan memori kolektif yang telah eksis di tengah masyarakat.
Editor | Masardi




Posting Komentar