Kedung Maya, Surga Pencari Ikan dan Pemburu Benda Purbakala

Kedung Maya, Surga Pencari Ikan dan Pemburu Benda Purbakala

Daftar Isi

Penulis | Ali Soedjono

Meander - sebuah kelokan atau alur sungai yang berliku-liku secara teratur, - itu begitu ramai. Perahu kayu, hilir mudik, silih berganti. Sejenak ada yang berhenti melepar jala, sedangkan lainnya, tampak satu perahu berhenti di sudut -kelokan, kosong ditinggal sang pemilik.

Ini adalah kisah Meander paling legendaris, -warga sekitar- menyebutnya, Kedung Maya. yang terletak dekat tambangan Jipangulu yang terletak Dusun Jipangulu, Desa Ngelo, Kec.Margomulyo, Kab.Bojonegoro. Posisinya strategis, menghubungkan dua provinsi, sisi seberang utara yakni Desa Menden, Kec.Kradenan, Kab.Blora, Provinsi Jawa Tengah

BACA JUGA : 

Tampak lalu lalang warga Jipangulu yang melintas, sementara di bantaran sungai terlihat berjajar terparkit perahu penumpang serta speed boat. 

"Jalur penyebarangan yang menghubungkan kedua desa di dua provinsi ini ikut mewarnai peradaban./ Disini, masa purba lebih dominan, terutama di Jipangulu, yang terdapat Teras Matar

Menurut Hary "Fosil" Nugroho ( seorang pemerhati peradaban yang tinggal di Bojonegoro ) bahwa daerah ini merupakan daerah yang sangat purba dan besar kemungkinan masih terdapat fosil fosil purba yang terpendam

Hasil survei yang telah dicapai adalah peta lokalitas-lokalitas yang berpotensi memuat peninggalan paleontologis maupun antropologis di sekitar bekas endapan Bengawan Solo.

**************

Selain menyimpan sejarah era pra sejarah, keberadaan Kedung Maya juga lekat dengan era kerajaan. Kisah Folklor - di ceritakan turun temurun - ini bermula di masa Kerajaan Pajang, saat penguasa wilayah Kuwung, Ki Ageng Kuwung, menyelamatkan seorang anak laki-laki bernama Djaka Sangsang yang tersangkut di pepohonan pinggir sungai. 

Dalam kisah Bunga Rampai Sejarah Bojonegoro" yang ditulis R Soeparmo diceritakan Djaka tumbuh menjadi pemuda rupawan dan akhirnya memadu kasih dengan putri kandung Ki Ageng, Dewi Maya.

Namun, restu tak kunjung tiba. Merasa malu karena anak kandungnya menikah dengan anak angkat yang ditemukan di sungai, Ki Ageng menyusun siasat

Djaka dikirim ke ibu kota Pajang membawa sepucuk surat rahasia yang memerintahkan agar ia dijadikan abdi selamanya. Nasib berkata lain di istana; ketampanan Djaka justru memikat Putri Pajang hingga mereka akhirnya menikah.

Di Desa Kuwung, Dewi Maya yang didera rindu memutuskan untuk menyusul sang suami ke Pajang. Naas, saat mencoba menyeberangi Bengawan Solo, ia hanyut dan hilang ditelan kedung. Itulah titik awal mengapa tempat tersebut menyandang nama "Maya".

*********

Di Kedung Maya, misalkan kebutuhan nelayan dalam mencari ikan di bengawan masih tinggi ketergantungannya. Dan ini merupakan satu aktivitas intens dilakukan sebab memang lokasi ini banyak habitat ikan yang masih sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nelayan. 

Perahu Nelayan sedang menuju ke Kedung Maya / foto : ali topan

Perahu Nelayan sedang menuju ke Kedung Maya / foto : ali topan

Kedung Maya memiliki kedalaman lebih dari 15 Meter, dan menjadi rumah bagi ikan di bengawan Solo, dan lokasi ini sangat di senangi oleh Nelayan sebagai spot memancing"  ujar Kepala Desa Ngelo,  Tri Maryono

Kedung Maya ini di kenal Angker dan kerap menelan korban jiwa "Umumnya yang menjadi korban adalah pengunjung (pemancing) dari luar kota yang kerap jumawa dan meremehkan saat melintasi di kedung maya" ujar kepala desa 

BACA JUGA : 

Kisah perburuan benda purbakala juga dijumpai di sekitar Kedungmaya. di aliran ini, memang banyak di temukan benda benda cagar budaya, hal yang serupa terjadi mulai dari Ngawi Purba hingga Jipangulu. 

"Para pemburu benda purbakala ini bukan warga sini, tapi dari Ngawi, dan Sragen, mereka umumnya berkelompok dan menyelam menggunakan bantuan tabung angin yang di pompa dari kompresor udara di atas perahu, Sekali menyelam bisa 5 - 10 menit" ujar Tri Maryono. 

Benda purbakala yang di temui ini, umumnya berupa koin perak, kepeng, arca, dan pecahan gerabah di era kolonial. Ada juga temuan fosil manusia atau hewan purba 

* Penulis merupakan Pegiat Aksara Jawa Kuna, asal Gresik, Pemerhati Sejarah dan Budaya Naditira Pradesa

Posting Komentar

Flag Counter