Ritual Mandi di Mata Air saat Bulan Purnama
Siapapun pasti sepakat bahwa Air adalah sumber kehidupan, sebab semua makhluk hidup pasti membutuhkan Air. Bahkan, sekitar 60 % tubuh terdiri dari air. Maka tak mengherankan bila dalam perjalanan kehidupan umat manusia, kita mengenal beragam tradisi pemuliaan air, sebuah ritual di lakukan berbagai suku dan bangsa di seluruh dunia.
Sejenak kita mundur ke belakang. Dulu, ritual pemuliaan air lekat dengan budaya pagan yang identik dengan tradisi animisme dan dinamisme, sehingga di dalamnya sangat lekat dengan mitologi, seperti hikayat air keabadian yang menjanjikan siapa saja peminumnya akan awet muda bahkan hidup kekal.
Mitos air keabadian / air awet muda ini juga di yakni oleh berbagai agama samawi. Dalam Islam, mengenal hikayat Ainul Hayat, tentang perjalanan Khidir yang mendampingi Raja Zulkarnain mandi di mata air.
Kisah hikayat ini menyebutkan ketika Allah SWT menciptakan dunia, DIA menurunkan beberapa tetesan air dari surga ke dunia. Salah satu tetesnya kemudian berubah menjadi telaga Ainul Hayat atau mata air keabadian.
Beberapa ulama berpendapat, Mata Air yang dijaga Nabi Khidir itu berada di Pulau Bermuda.
Dalam Agama Hindu, Kisah Tirta Amerta di yakini berkhasiat membuat seseorang tidak akan melalui proses kematian. Sebab, air suci ini dipercaya dapat membuat si peminum menjadi hidup Abadi.
Mitologi tentang air kehidupan juga berkembang di berbagai Bangsa, dan hingga saat ini masih di percaya dan di yakini membawa khasiat para siapapun yang meminumnya.
Budaya Cina mengenal U - shi, sebuah ritual -mandi- yang di lakukan warga Tionghoa -bahkan di Indonesia, tradisi yang dilakukan turun temurun dari nenek moyang di China itu- di lestarikan oleh komunitas Tionghoa di Kota Pontianak
Hingga kini, di setiap tanggal 5 bulan 5 Imlek, ribuan warga Tionghoa di Kota Pontianak dan sekitarnya, baik tua dan muda berduyun-duyun melakukan ritual mandi di siang hari atau mandi U-Shi, di Sungai Kapuas karena diyakini dapat membawa keberuntungan dan membuang sial.
BACA JUGA :
- Ilusi Dana Iklim, Otak Atik Hutan Penyerap Emisi
- Fitotoponimi, Daftar 73 Desa Nama Tumbuhan di Nganjuk
- Pranata Mangsa, Kalendar Jawa Prediksi Kekeringan Ekstrim 2027
Di tahun ini, Tanggal 5 bulan 5 Imlek tahun 2026 (kalender lunar) jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026 dalam kalender Masehi.
Tanggal ini merupakan hari Besar Agama Khonghucu di Indonesia karena bertepatan dengan perayaan Festival Perahu Naga (Duanwu Jie), yang merupakan salah satu festival tradisional penting dalam budaya Tionghoa.
Seperti dilansir Kantor Berita Antara, festival ini dirayakan dengan berbagai kegiatan seperti lomba perahu naga, makan bacang (zongzi), dan tradisi lainnya yang bertujuan untuk menghormati penyair Qu Yuan serta mengusir roh jahat dan penyakit, termasuk ritual mandi dan mata air.
Perayaan ini juga kerap disebut sebagai "Go Si Cui" yang merujuk aktivitas orang tua yang hendak melakukan ritual. Secara etimologi, "Go Si Cui" dalam istilah Tionghoa Hokkian berarti "orang tua" atau "orang yang sudah tua." -yang di kaitkan pada- tradisi ribuan orang dewasa berduyun - duyun mandi di tengah hari. Dan orang awam atau anak anak muda kemudian bertanya "Go Si Cui mau kemana?" artinya "Orang tua mau pergi kemana?"
Di era modern, tradisi Go Si Cui -masih di yakini - sebagai warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, penyucian diri, dan harapan akan keberuntungan.
Sebagian lain, publik atau komunitas tertentu mengaitkan tradisi ini dengan ritual pengambilan air untuk di campurkan kedalam Biomist - merujuk pada cairan yang di semprotkan ke wajah
**********
Mitos yang beredar, -pada hari Wu Yue itu -di yakni sebagai waktu -puncak- saat mata air mengeluarkan material terbaiknya. Kendati secara ilmiah belum bisa di buktikan, namun tidak ada salahnya kita melihat dari perspektif astronomi "apa yang terjadi pada 25 Juni 2026 "
Analisa Moon Phase -menyebut- Bulan akan berada pada fase Gibbous Meningkat (Waxing Gibbous) -sekitar 78% - 82% cakram Bulan akan terlihat terang dari Bumi, ia melintas di garis edar Lintang Utara (Cina, Rusia dan Eropa)
Pada fase ini, Bulan biasanya sudah terbit di timur sebelum matahari terbenam dan terlihat sangat jelas di langit malam. Lantas apa kaitannya dengan waktu terbaik -mata air menyemburkan material terbaiknya? Sebelum di jawab, mari kita berpindah dari Cina Daratan menuju tanah Jawa
Ritual mandi di mata air -dalam Budaya Jawa - dilakukan pada malam satu Suro - menjadi ritus yang wajib. Di tahun 2026 ini, Malam 1 Suro 1960 Jawa diprediksi akan jatuh pada hari Selasa Wage, 16 Juni 2026 dengan penampakan bulan sabit muda yang sangat tipis.
Disaat -hampir - bersamaan, warga Tionghoa di Indonesia juga menggelar tradisi serupa di tanggal 25 Juni 2026.
Dari keduanya, kita bisa menyimpulkan tradisi yang sama. Selain karena memakai kalendar yang sama -peredaran bulan sebagai dasar perhitungan, keduanya juga punya akar tradisi "Timur" yang memiliki spirit pemuliaan air
BACA JUGA :
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
- Sedekah Sampah, Mengurai Masalah Menjadi Berkah
- Hari Saraswati, Rekonstruksi Sejarah, Jernihkan Pikiran, Tata Masa Depan
***********
Sekarang, Penulis akan mengajak pembaca untuk mengurai kedua tradisi ini melalui dua pendekatan berdasarkan fakta budaya dan tradisi.
Pertama, Tradisi Cina -kemungkinan- menggunakan pendekatan Geografi Astronomi, yakni pendekatan yang menghubungkan antara bumi dengan posisi bulan sehingga mempengaruhi kondisi fisik bumi. Seperti fenomena naiknya air Tanah -berikut mineral terlarut, yang di pengaruhi grafitasi bulan.
Kedua, Tradisi Jawa - menggunakan pendekatan kosmologi yang memanfaatkan momentum "Titik Nol" sebab dalam pandangan Jawa, 1 Suro (yang bertepatan dengan 1 Muharram) dianggap sebagai waktu paling sakral karena merupakan pergantian siklus tahunan.
Masyarakat Tradisional Jawa memiliki efikasi yang kuat, bahwa pada malam 1 Suro terjadi pembaruan energi alam semesta. Ritus jamasan pusaka dan mandi di mata air, di percaya sebagai "simbol" perwujudan kembali ke "rahim" alam (air sebagai asal-usul kehidupan) untuk menyelaraskan energi tubuh dengan energi semesta yang baru.
Sebagai bahan kajian, penulis berargumen bahwa kedua ritus tersebut memiliki dua kesamaan. Yakni, Momentum. Jika Cina memanfaatkan momentum -geoastronomi - dengan memanfaatkan garis edar- posisi Bulan pada titik kulminasi di Lintang Utara, maka Jawa memanfaatkan momentum lewat pendekatan kosmologi- yang meyakini penanggalan tertentu berpengaruh pada nasib manusia
Momentum astronomi dalam kajian ini -setidaknya- pernah di urai dalam berbagai jurnal penelitian, dan observasi di beberapa tempat (terutama Jepang dan AS). Hasil riset itu menyebut fenomena kenaikan muka air tanah -beberapa sentimeter- sesuai fase Bulan, termasuk saat kulminasi.
Ketika Bulan berada pada titik kulminasi, gaya gravitasi Bulan mampu meningkatkan efek gravitasi lokal terhadap air tanah. Kendati kecil, efek ini cukup untuk mengubah tekanan di akuifer, yang bisa menyebabkan air naik sedikit lebih tinggi atau keluar lebih deras, tergantung struktur geologinya.
Pada tanggal 25 Juni 2026, posisi bulan berada di Lintang Utara, maka wilayah yang terpengaruh pada gaya tarik bulan pukul 11.00 - 13.00 WIB adalah wilayah Cina. Maka, tidak mengherankan bila pada tanggal ini, ritual menyucikan diri dengan air, (Tradisi Go Shi Cui) dilakukan warga Tionghoa
Bagaimana jika di lakukan di Indonesia? tentu dampaknya - dari tinjauan geoastronomi- tidak signifikan seperti di Cina.
Fakta Geografi astronomi ini seolah tidak bisa di bantah, namun kepercayaan yang berakar pada Kosmologi juga tak bisa di kesampingkan.
*************
Dalam kosmologi Jawa, air adalah simbol pemurnian (penyucian). Leluhur Nusantara memilih mata air alami -bukan air keran atau air olahan - karena dianggap sebagai upaya kembali ke asal-usul atau sumber kehidupan (sangkan paraning dumadi).
Secara ilmiah, Air dari sumber alam terbukti membawa mineral stabil dan bebas dari kaporit, sehingga lebih aman untuk menjaga struktur logam kuno agar tidak cepat korosi.
Kandungan kaya mineral inilah yang di percaya mampu menyembuhkan penyakit, sebab mineral ini berada dalam bentuk ion (partikel bermuatan listrik), yang membuatnya mudah larut dalam air:
Mengutip jurnal Inga Schneider berjudul Mineral bioavailability in natural mineral water menyebut berbagai kandungan mineral -seperti Magnesium, Kalsium, Natrium dan Kalium- yang memiliki ukuran sangat kecil pada level atom/ion, yang ukurannya sekitar 0,1 hingga 0,5 nanometer.
Bayangkan, saat tubuh Anda kekurangan mineral, tiba2 anda meminum air alami yang kaya kandungan mineral. Seteguk air itu membawa mineral dalam ukuran yang sangat kecil -mudah diserap oleh tubuh- sehingga berkhasiat mengembalikan fungsi metabolisme tubuh. Maka, tak mengherankan bila ritual mandi di malam suro -di percaya- menyembuhkan segala penyakit (akibat mal nutrisi)
Hal ini di buktikan dengan riset kesehatan yang menyebut kandungan elektrolit utama -Kalium dan Natrium -berperan mengatur keseimbangan cairan dan transmisi saraf, sedangkan Magnesium, berperan dalam lebih dari 300 reaksi enzimatik dan membantu relaksasi otot. dan Kalsium berguna untuk menjaga tulang, gigi, dan fungsi otot.
Maka, jangan heran bila produsen air minum dalam kemasan selalu mencantumkan tulisan Air Mineral dari Pegunungan- alih alih menuliskan kata "Diambil dari Mata Air Sumur Bor".
Editor | Masardi



Posting Komentar