Kiat Siswa SDN 2 Ngrengket Lestarikan Wayang Timplong
plong... plong - bunyi gamelan bernada rendah, sayup terdengar mengiringi riuh rendah suara khas anak-anak. Siang itu, Selasa - usai jam pelajaran , sejumlah murid tetap berada dalam kelas. Meski sebagian bergegas pulang, hingga tersisa 20 siswa yang tetap berada dalam ruang itu.
Suasana kelaspun di "sulap" menjadi mini stage (panggung mini), bangku di geser, dan meja di sisihkan ke sudut ruangan. Sejurus kemudian, di depan kelas, seorang anak sekolah dasar duduk bersila, mengenakan beskap kecil dan blangkon yang sedikit miring.
Hari itu, siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SDN) 2 Ngrengket Sukomoro sedang menggelar latihan Bertutur Wayang Thimplong
Wussssssss……wussssss……. Whuk… hwuk… hwuk… hwuk…. hwuk… hwuk…. Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro... Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro... Senajan syetan gentayangan tansah agawe rubedo... Hinggo pupusing jaman…
Kidung Wahyu Kolosebo itu menggema pelan dari gubuk di ujung Desa Jetis, Kecamatan Pace, Nganjuk. Tahun 1910. Malam begitu pekat. Pekat seperti zaman kolobendu yang sedang menimpa.
Di dalam gubuk, seorang lelaki duduk bersila. Namanya Ki Bancol. Di hadapannya hanya senthir kecil. Di luar, terdengar anak-anak menangis kelaparan. Bukan lapar nasi, tetapi lapar hiburan. Lapar tawa.
*******
Itulah penggalan Naskah Bertutur dari Siti Aisyah dari SDN 2 Ngrengket yang berjudul Kelir Thimplong.
Penonton—yang terdiri dari murid, dan sejumlah guru ikut menahan napas menyaksikan apakah sang penutur ini sanggup mengingat alur cerita tuturannya.
BACA JUGA :
- Dinas Arpus Nganjuk Undang Warga Nulis Sejarah
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
- Anjuk Ladang (2), Tanah Dimuliakan Untuk Lumbung Pangan
Syahdan, beberapa kali menggelar latihan - akhirnya SDN 2 Ngrengket akhirnya terpilih menjadi Juara Harapan 3 dalam ajang Lomba Bertutur Konten Lokal Nganjuk bagi siswa – siswi Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat Kabupaten yang dilaksanakan di Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Nganjuk
Sebuah capaian yang sangat menggembirakan, sebab esensi dari Lomba Bertutur Lokal Konten ini bukan siapa yang menjadi juara, melainkan ada upaya nyata untuk menjaga nilai budaya lokal yang di wariskan leluhur, - lewat kisah di dalam wayang timplong
Pengajar SDN 2 Ngrengket, Sukartini, S. Pd mengaku bangga dengan capaian anak didiknya. "Kendati tahun 2026 kami meraih juara harapan, namun setidaknya membuktikan upaya sekaligus kiprah SDN 2 Ngrengket dalam melestarikan budaya tutur" ujarnya, sembari menunjukkan Trophy Juara 1 Lomba Bertutur Tingkat Kabupaten Nganjuk yang diraih setahun sebelumnya 2025
BACA JUGA :
- Ritus Budaya Padi, Spirit Kembali ke Bahan Alami
- Anjuk Ladang (3), Pemuliaan Padi dan Janji Abadi di Lahan Sawah Dilindungi
Torehan Juara I di tahun 2025 dan Juara Harapan III di tahun 2026, menjadi bukti peran lembaga pendidikan untuk menumbuhkan budaya Literasi, sekaligus menumbuhkembangkan minat baca pada anak. Kemudian, juga untuk mengangkat dan mempopulerkan buku – buku cerita budaya daerah Nganjuk dalam membangun karakter anak didik sejak dini.





Posting Komentar