Kiprah Kopling, Mereduksi Kemiskinan Literasi
Literasi, sebuah kata yang -begitu- familiar di telinga kita, bahkan menjadi salah satu frasa paling banyak di gaungkan sejak 2022.
Ya, paska 2022 pemerintah Indonesia -bak kebakaran jenggot- membaca hasil skor PISA yang menunjukkan literasi siswa Indonesia (usia 15 tahun) mengalami penurunan, dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 dari 81 negara.
Ironisnya, jika kebakaran Jenggot - metafora keadaan panik, bingung tidak keruan, atau cemas berlebihan, maka kini - setelah 4 tahun berlalu, tindakan untuk menangani justru memangkas jenggot.
Analogi "memangkas jenggot" untuk merespons situasi "kebakaran jenggot" seolah menggambarkan tindakan yang reaktif, dangkal, dan justru menghilangkan substansi (jenggot itu sendiri) daripada memadamkan api masalahnya.
Nah, pembaca Pena Budaya akan bertanya -Kenapa harus Jenggot"? Sebelum dijawab, mari kita perkenalkan narasumber kali ini Heru Sang Amurwabhumi, seorang penulis sekaligus Ketua Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk
Kuy, siapkan kopi dan camilannya, karena kita mengulik lebih dalam tantangan dan kiprah Kopling dalam berkontribusi memajukan budaya literasi
**************
Dalam dunia filsafat, jenggot bukan sekadar rambut wajah, melainkan simbol yang sarat makna-- secara fisiologi - mengalami proses tumbuh yang lama. Mungkin itulah sebabnya jenggot sering dikaitkan dengan para pemikir dan filsuf besar.
Begitu pun dengan literasi -bukanlah sesuatu instan bisa tumbuh dalam semalam;- sebab membentuk generasi melek literasi merupakan kumulasi dari akses buku, budaya diskusi, dan rasa ingin tahu yang dipupuk bertahun-tahun.
"Tak ada asap tanpa api, rendahnya Indeks literasi masyarakat adalah muara dari ketidakadilan terhadap kemudahan akses bahan bacaan bermutu." ujar Heru.
Apa yang disampaikan Heru tentang ketidakadilan akses literasi ini -tampak nyata- menggambarkan rendahnya upaya pemerintah Indonesia menaikkan indeks PISA paska 2022.
Untuk melihat tingkat keseriusan "policy" negara ini, mari kita intip postur anggaran APBN yang di alokasikan untuk mendukung kegiatan perpusnas. Ya institusi inilah yang kini jadi "kambing hitam" karena bertanggung jawab terhadap rendahnya literasi pada generasi muda.
BACA JUGA :
- Rekonstruksi Literasi, Peran Penulis dan Pergeseran Budaya Baca
- Soufie Retorika, Kisah Perjuangan Literasi Kopi dari Lahat
- Persimpangan Jalan Pelestarian Aksara Jawa Kuno
Pada tahun 2022, Perpusnas menerima alokasi Rp 660-667,5 miliar, dan terus meningkat hingga 2025 yang mencapai Rp 721 miliar. Pertanyaannya, apakah alokasi anggaran ini berbanding lurus dengan Skor PISA Indonesia tahun 2025 ?
Belum jelas! Karena hingga editorial ini ditulis Pena Budaya, Skor PISA untuk tahun 2025 belum dirilis, namun - tanpa bermaksud mendahului hasil survei - penulis pesimis skor PISA anak - anak kita dapat melampaui Malaysia, Vietnam atau Singapura.
Ya, Programme for International Student Assessment PISA merupakan program evaluasi pendidikan global yang diadakan oleh OECD setiap tiga tahun sekali. Sehingga hasil evaluasi sejak 2022 - 2025 patut kita nantikan.
Pesimis penulis -dalam konteks ini- tak bisa di artikan sebagai dekontruksi, sebab sejatinya kita pasti menginginkan anak - anak kelak -15 tahun mendatang - menjadi generasi Emas Indonesia.
Disisi lain, keberadaan Perpustakaan hanya ada di pusat kota. Di tingkat desa (Kabupaten Nganjuk), meskipun ada perpus desa, justru semua telah punah, menjadi fosil literasi." tukas Heru
Rendahnya minat baca di perpustakaan bisa diartikan salah satu indikator utama dari Kemiskinan Literasi. Terlebih, ketika "ekosistem" literasi di tingkat desa (okupansi perpusdes) juga tidak diimbangi "kesadaran" literasi keluarga yang tidak terbentuk karena minim investasi (pembelian) bahan bacaan.
Sementara itu berdasarkan data statistik, tingkat kunjungan warga ke Perpustakaan Nganjuk di tahun 2025 mencapai 150.137 orang - tergolong kecil - sebab bila dibagi 365 hari, maka kunjungan rata-rata per hari hanya 411 orang.
Merujuk pada standar IFLA -International Federation of Library Associations and Institutions-, target kunjungan perpustakaan ideal adalah 2% atau dalam studi kasus di Nganjuk, idealnya terdapat sekitar 22.000 pemustaka (pembaca). Angka ini dihitung dari jumlah pengunjung fisik per hari dibandingkan total populasi wilayah, dan belum termasuk kunjungan digital.
Berdasarkan angka - sebesar- itu, tentu menjadi pekerjaan berat bagi perpustakaan Nganjuk untuk melakukan distiribusi pustakawan guna melayani para pemustaka hingga tingkat tapak (desa).
******
Menyikapi permasalahan rendahnya literasi, Heru mengatakan pihaknya mencoba melakukan inisiasi -kembali ke kiat - paling mendasar, yakni menyediakan "wadah" bagi masyarakat di Kab. Nganjuk melalui kemudahan akses bahan bacaan.
Peran Kopling, selaku komunitas ikut menjadi garda depan dalam meningkatkan budaya literasi lewat penyediaan ribuan bahan bacaan untuk masyarakat (meskipun masih terbatas di kecamatan tertentu),
Kami rutin membuka forum-forum diskusi literasi, dan mencoba melibatkan lintas profesi dalam kegiatan-kegiatan workshop literasi yang kami gagas." tandasnya.
Jika kita melihat lebih mendalam, peran komunitas - seperti yang diinisiasi Heru - bak oase di tengah keringnya pustakawan
Kenapa ? Mari kita simulasikan kebutuhan ideal pustawakan di suatu daerah yang sesuai -merujuk- standar Federasi Internasional untuk Asosiasi dan Lembaga Perpustakaan (IFLA).
Di Kab. Nganjuk, kebutuhan ideal seharusnya didukung oleh 440 pustakawan profesional di perpustakaan daerah, dan tersebar hingga desa/kecamatan, bahkan perpustakaan sekolah.
Peran Pustakawan ini bertugas untuk mengelola, mengorganisir, dan melayani kebutuhan informasi pemustaka melalui pengelolaan koleksi (buku, jurnal, digital) dan layanan perpustakaan. Bahkan dalam prakteknya di lapangan, peran pustakawan - seperti yang di jalankan Kopling - juga meliputi penyediaan referensi, pelestarian informasi, serta edukasi literasi informasi kepada masyarakat
BACA JUGA :
- Kartini Masa Kini, dan Refleksi Panggilan Hati
- Menelisik Budaya Batik Nganjuk yang Prematur?
- Polemik Korelasi Festival Pu Tajum dalam Prasasti Anjuk Ladang
Syahdan -pada titik ini, kita mulai mengerti permasalahan rendahnya literasi di Indonesia- khususnya di Kab. Nganjuk. Sehingga, kita dapat bertindak dengan -menggalakan studi literasi - mulai dari rumah kita. Tentu, tak ada salahnya mulai sekarang, kita menyediakan perpustakaan keluarga, dan meluangkan waktu akhir pekan untuk menanggalkan gadget, dan beralih dengan membaca buku. Inilah tindakan kecil yang "patut" dibiasakan.
Akhir kata, literasi - bukan sekedar - membaca dan menulis, sebab peran dan aktivitasnya jauh melebihi sekedar mengeja teks (tulisan), atau menikmati konten (audio dan video)
Dalam literasi, setiap pemustaka akan diajak untuk menyimak, mengolah, memahami, serta mencerna secara kritis dengan memahami isi (konten) dan inti (konteks) sebuah informasi teks, gambar maupun video
Tanpa literasi yang cukup, maka seorang siswa (mungkin anak kita) tidak akan mampu untuk merumuskan sebuah pertanyaan, dan menyampaikan jawaban.
Literasi -kini- lebih dari sekadar melek huruf, karena mencakup kompetensi analisis. Bahkan dalam tataran yang lebih serius, tanpa literasi yang cukup, generasi muda kita -akan gagal membuat abstrasi sebuah ide atau gagasan besar -yang sangat kita nantikan- untuk menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045
Editorial | Masardi






Posting Komentar