SMP 4 Batang Siap Menuju Sekolah Budaya
Titi Kala Mangsa - tersebutlah kisah tentang Calon Arang memiliki seorang putri bernama Dyah Ayu Ratna Manggali. Kendati Cantik, sang putri tak kunjung menikah sebab orang-orang takut pada sang ibu - Calon Arang, penguasa ilmu hitam.
Itulah sepenggal Kisah Calon Arang yang Kirana - pelajar SMP Negeri 4 Batang. Ia mengaku senang dan lega setelah hampir 10 bulan berlatih, dapat mempersembahkan penampilan terbaiknya bersama tim dengan lakon Calon Arang.
Tadi memerankan Ratu Calon Arang, sama teman satu kelas, semoga bisa dapat nilai yang bagus dan bisa terus melestarikan budaya tradisional Jawa" ujar dia.
Kirana dan ratusan pelajar SMP Negeri 4 Batang khususnya kelas 9, mengasah kemampuannya dalam berkesenian lewat Pagelaran even Gelar Budaya IV. Mengusung tema "Jejak Sejarah dan Legenda, Mewarisi Budaya Menguatkan Jati Diri Bangsa", para siswa menampilkan ketoprak lewat ragam cerita rakyat, sebagai upaya mewujudkan Sekolah Budaya.
Selain sebagai ajang penilaian ujian praktik, pagelaran tersebut juga untuk menguatkan akar budaya tradisi para siswa, agar tetap lestari.
Kepala SMPN 4 Sri Mulyatno mengatakan, para siswa yang saat tampil telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sejak bulan Juli 2025 lalu, untuk dipentaskan di atas panggung.
BACA JUGA :
- Ketika Kampus Rebutan Mahasiswa Abaikan Kuota
- Polemik Kalimat "Cukup Saya WNI, Anak Jangan!
- Pungli KIPK, Mainan Oknum Kampus Biar Dapat Fulus
"Sebetulnya, even ini sebagai ajang penilaian mata pelajaran seni budaya para siswa, sekaligus upaya mewariskan seni budaya kepada mereka. Antusiasme anak sangat tinggi selama mengikuti proses latihan, baik di jam pelajaran maupun di sore hari, "katanya, usai membuka gelar budaya, di halaman SMPN 4 Batang, Kabupaten Batang, Sabtu (23/5/2026).
Even tahunan ini sukses digelar berkat kesungguhan siswa, serta dukungan wali murid maupun seluruh sponsor. Dukungan pun ditunjukkan oleh Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Batang Ahmad Suroso yang mengapresiasi gelaran tersebut, karena penilaian ujian yang dibalut pagelaran seni budaya. Terlebih saat ini sangat jarang lembaga pendidikan yang mengutamakan Kebudayaan sebagai fokus utama.
“Ini sangat baik, dan bisa ditiru oleh sekolah lain, meskipun banyak sekolah yang menggelar even serupa. Namun SMPN 4 lebih fokus ke seni ketopraknya, yang semoga bisa ditampilkan di luar sekolah, agar bisa dinikmati masyarakat luas,” tegas Ahmad Suroso
Terlebih sekarang pemerintah telah menghadirkan sekolah budaya, sehingga sangat tepat apabila pagelaran dari jenjang SD hingga SMP diintensifkan di even-even lain di luar sekolah.
BACA JUGA :
- Quo Vadis Literasi dan Tantangan Edukasi
- Persimpangan Jalan Pelestarian Aksara Jawa Kuno
- Kemdikti Hapus Jurusan Produsen Pengangguran ?
Melihat konsistensi pelajar, Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo mengapresiasi dan mengharapkan SMPN 4 dapat menjadi embrio Sekolah Budaya di masa depan.
"Secara sikap, anak-anak yang memiliki jiwa seni sangat berbeda dengan mereka yang tidak memilikinya tentu sangat berbeda. Semoga ada Sekolah Budaya di tingkat lanjut, supaya potensi mereka di sini bisa dikembangkan lagi, lebih optimal,” harapnya.
Untuk memaksimalkan potensi yang ada, ia mengharapkan, agar pemangku kebijakan di SMPN 4 pun, memiliki jiwa seni.
"Ini agar potensi tersebut tetap lestari dengan bimbingan dan binaan dari kepala sekolah yang menyenangi seni budaya,” tuturnya. (Heri/Jumadi- MC Batang)




Posting Komentar