Mbah Rofik, Penjaga Mbah Jimat. Pusaka Pertama Lamongan
Penulis | Suyono
Keris dan jamasan menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ibarat rumah dan kesuciannya yang wajib terus dijaga meskipun dilakukan tidak setiap hari, namun waktu tertentu.
Jamasan atau Njamasi dilakukan tidak untuk semua keris, namun untuk keris yang dianggap sakral arau keramat, seperti peninggalan kerajaan, tokoh, atau didapatkan dengan ritual khusus.
Bagi masyarakat Jawa, keris tidak hanya sekadar senjata, namun karya seni tinggi, pusaka leluhur, dan simbol filosofis yang sangat dalam. Benda ini menjadi lambang identitas, kewibawaan, dan doa.
Keris juga bisa disebut juga gaman. Gaman berarti ageman (Jawa) yang dimaknai sebagai piyandel (Jawa) atau pegangan, andalan.
Telisik sejarah di Lamongan kali ini, tepatnya Jumat dua minggu lalu, 12 Juni 2026, saya sengaja ingin melanjutkan cerita Mbah Jimat. Sebuah pusaka pertama yang mendarat di bumi Lamongan sejak 1938 dengan motif Korowelang. Namun disini sosok penjamasnya yang ingin saya tuturkan.
BACA JUGA :
- Buding, Senjata Suku Oesing
- Hudon Tano, Kerajinan Tanah Liat yang Kian Pudar
- Anyaman Bantunan, Artefak Budaya Menolak Pudar dari Lahat
Tidak jauh dari Pondok Pusaka Mbah Jimat (PPMJ) tepatnya di Desa Groyok, Sukorejo Lamongan, saya berkesempatan mengunjungi seseorang yang istimewa, yakni Mohammad Rofik. Saya biasa memanggil beliau Mbah Rofik.
Ia saat ini dipercaya sebagai penjamas pusaka peninggalan masa lampau hadiah dari Sunan Giri III yang dikenal Keris Mbah Jimat. Menurut pitutur leluhur Jimat bisa berarti "Siji Lan Dirumat (Satu-satunya dan wajib dijaga)". Memang benar, keris tersebut hanya ada satu
Mbah Rofik menjadi penjamas ke-5. Sebelumnya dilakukan oleh Mbah Sekar, Mbah Rokim, Mbah Sehat, Mbah Jali. Awal mula dipercaya menjadi penjamas pada tahun 2022, yang artinya tahun ini telah melakukan penjamasan yang ke-5.
Menurutnya, keris Mbah Jimat itu Budaya. Budaya yang berasal dari peninggalan sesepuh. Selain dijaga wajib dilestarikan. Namun tetap dianggap sebagai Benda dan bukan Tuhan.
"Keris itu budaya. Benda yang menjadi Budaya. Mbah Jimat menjadi peninggalan dan sudah dituakan, sejak jaman leluhur yang sering disebut sesepuh. Keris itu benda budaya, wajib dijaga dan dikestarikan. Jangan dianggap sebagai Tuhan, karena itu musyrik. Benda tetap benda, dan kekuasaan ada pada Alloh," ujar pria asli Lamongan ini.
Perihal bagaimana kita terhadap benda-benda leluhur dan jamasan, ia menyampaikan wajib dijaga dan ada kegiatan yang memperingati budaya atau nguri budaya. Untuk penjamasan merupakan kegaiatan untuk membersihkan kotoran yang menempel.
BACA JUGA :
- Ritus Bedah Krawang, Hatur Agung Bhumi Karangkates 2026
- Nyadran di Tengah Persimpangan dan Tantangan Zaman
- Ritual Mandi di Mata Air saat Bulan Purnama
"Untuk budaya wajib ada leluri atau nguri budaya, sehingga tetap lestari. Jamasan itu juga budaya. Bagaimana kita busa menjaga Benda peninggalan dengan membersihkan dari kotoran yang menempel di keris. Artinya kita buang aura negatif dan tetap menjagaaura positifnya,"tuturnya.
Obrolan makin gayeng saat kopi disuguhkan beserta kudapan, seperti kacang, kue kering dan gorengan. Harumnya dupa membuat suasana makin khas aroma kebudayaan.
Sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Tarikan nafas dalam dan merubah posisi duduknya sambil bersila, terlihat ia sedang bersiap akan bercerita lebih dalam. Cerita sesuai pertanyaan saya perihal kapan pertama kali mengenal keris dan menjadi penjamas.
"Pertama kali saya kenal keris sejak saya usia 10 tahun Mas. Kalo tidak salah itu tahun 1974 an. Setelah mengenal keris, baru pada tahun 1991 pertama kalinya saya njamasi. Itu keris pemberian orang, yang katanya pemberian fari Sunan Giri. Di keris itu ada lafal Surat Yasin," terang pria kelahiran 1963 ini.
Terselip satu kenangan dan keinginan, agar masyarakat Groyok dan Lamongan bisa berbondong-bondong dan memenuhi lokasi jamasan di Mbah Jimat seperti dulu.
"Dahulu saat jamasan Mbah Jimat, gang disini sampek penuh, depan PPMJ hingga jalan gang penuh orang-orang yang menyaksikan. Tidak sperti sekarang, sepi,"ucapnya sambil menghisap rokonya.
Menjadi penjamas Mbah Jimat, menurutnya sebagai amanah yang wajib dilaksanakan dengan apa adanya dan ikhlas. Ia juga sempat berpesan kepada masyarakat untuk tetap menjaga budaya.
"Bagi saya ini amanah. Saya laksanakan dengan apa adanya, yang terpenting ikhlas Mas. Dan semoga masyarakat disini, khususnya Lamongan bisa kembali meramaikan budaya yang sudah ada, khususnya di Mbah Jimat," pungkasnya sambil mempersilahkan saya untuk menikmati kopi hitam tanpa gula sesuai permintaan.
Penjamas bukanlah pekerjaan, namun ini panggilan hidup bagi mereka yang meyakininya. Kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup, hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, nilai, moral, seni, hukum, dan adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*)



Posting Komentar