Digitalisasi Pegon, Menjaga Warisan Ilmu Ulama Nusantara

Digitalisasi Pegon, Menjaga Warisan Ilmu Ulama Nusantara

Daftar Isi

Penulis | Suyono 

Sedih - ketika kita mendengar kabar sosok Alim Ulama yang wafat, suasana duka mendalam ini menyeruak mengiringi kepergian mereka, sebab  "seolah" pertanda akan muncul pergeseran poros dunia. Syahdan, tatkala Ulama "kapundut" kembali kepada Sang Khalik, - Karena di titik inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala- menggenggam kembali ilmu-Nya dari muka bumi.

Dalam sebuah hadist sahih, Rasulullah Shallallahu "Alaihi wa Sallam mengingatkan kita dengan getir:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ŘĽِنَّ الله لا يَقْبِŘśُ العِلْمَ انْŘŞِزَاَؚاً يَنْŘŞَزِŘšُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِŘśُ العِلْمَ بِقَبْŘśِ العُلَمَاإِ Ř­ŘŞَّى ؼذا لَمْ يُبْقِ Řšَالِمٌ اتَّŘŽَذَ الناس عؤسَاً ŘŹُهَّالاً ، فَŘłُŘŚِلوا فَŘŁَفْŘŞَوْا بِŘşَيْŘąِ Řšِلْمٍ فَŘśَلُّوا وَŘŁَŘśَلُّوا-البخاري  

Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan. | HR Bukhari

Secara fisik, ilmu mungkin bisa terdokumentasikan dalam deretan buku di rak perpustakaan, tersimpan rapat dalam flashdisk, atau mengendap di server Google. Namun, jika lembaran-lembaran itu membisu tanpa ada yang mengajar dan membacanya, ilmu tersebut sejatinya telah lenyap

Ulama bak perpustakaan hidup sekaligus penyampai risalah -ajaran Nabi Muhammad SAW, -, ketika Ulama berpulang, kunci gudang ilmu itu turut terbawa. Lantas, bagaimana kita bisa membaca isi pikiran, fatwa, dan kedalaman spiritual para ulama Nusantara yang telah tiada? 

Jawaban itu tertinggal pada goresan tinta di atas kertas berwarna kekuningan :  Akᚣara Pegon.

A - Tidak, Ksara - Punah, dan inilah yang terjadi -pada aksara pegon - selama berabad-abad, ketika aksara Arab-Melayu dimodifikasi untuk melafalkan bahasa Jawa, Sunda, hingga Madura ini menjadi medium utama para ulama Nusantara dalam mencatat ilmu.

Mulai dari kitab kuning, catatan fikih, tasawuf, hingga syair-syair pergerakan, semua terekam dalam aksara Pegon. Di lingkungan pesantren, aksara ini sudah mandarah daging.

Namun, di era modern, catatan-catatan berharga ini terancam menjadi sekadar artefak bisu. Ketika para ulama sepuh wafat satu per satu, dan generasi muda kian berjarak dari manuskrip kuno, ada jurang pemisah yang melebar. Jika dibiarkan, ilmu di dalam manuskrip-manuskrip tersebut akan benar-benar hilang, persis seperti yang dikhawatirkan dalam hadis Nabi.

*************

Menyadari hal itu, sebuah upaya progresif digelar,  agenda krusial ini bertajuk "Seminar dan Lokakarya Aksara Pegon Digital sebagai Pintu Pelestarian Keilmuan Ulama Nusantara". Acara yang diinisiasi oleh Lesbumi PCNU Lamongan ini menjadi ikhtiar nyata untuk memindahkan khazanah tulisan kuno ke ruang jagat digital.

Inisiator kegiatan, Didin Ahmad Zainudin, menegaskan bahwa Pegon tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai warisan masa lalu yang eksklusif di atas kertas usang.

"Digitalisasi aksara pegon menjadi kegiatan pelestarian keilmuan para ulama Nusantara dan untuk bisa dipelajari dengan mudah melalui digital. Selain itu, digitalisasi akan menjadi magnet untuk generasi masa kini lebih tertarik mempelajari aksara pegon," ujar pria yang akrab disapa Diaz ini.

Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Lamongan, Diaz bergerak taktis. Aksara Pegon akan dihidupkan kembali. Langkah ini bukan sekadar romantisasi sejarah, sebab implementasinya dilakukan hingga penggunaan - penulisan dokumen administrasi - sehari-hari: mulai dari kop surat resmi, naskah sambutan, hingga teks khutbah. 

Gerakan ini didukung penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, dan menjadi angin segar bagi penyelamatan literasi Nusantara.

BACA JUGA : 

Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan, Sahrul Munir, melihat digitalisasi ini sebagai jembatan emosional antar-generasi. sebab tantangan terbesar tentu saja ada pada relevansi zaman. Artinya, memaksa generasi muda menyentuh kertas rapuh jelas bukan perkara mudah. 

"Hari ini yang kita hadapi tidak hanya Gen X dan Milenial, namun yang harus segera kita edukasi terkait dengan aksara pegon yakni Gen Z dan Alfa. Mereka pastinya wegah (malas, tidak tertarik), tapi dengan sentuhan digital, saya yakin mereka banyak yang senang. Jadi yang tua dan muda bisa tersambung," papar Gus Sahrul penuh optimisme.

Pemateri, Muhammad Akbar Aulia kala memberikan pendampingan untuk menginstal aplikasi aksara pegon ke smartphone peserta. (Foto: Suyono)

Membawa Pegon ke dunia digital, menurut Gus Sahrul, memicu ruang ijtihad budaya. Kreativitas baru akan lahir dari tangan-tangan anak muda, membawa peradaban Islam Nusantara melangkah maju tanpa kehilangan akar tradisinya.

Menariknya, denyut pelestarian Pegon di Lamongan ini meruntuhkan sekat-sekat eksklusivitas agama. Kehadiran perwakilan dari Gereja Katolik Santo Yakobus dalam lokakarya ini menjadi bukti bahwa Pegon adalah warisan kebudayaan milik bersama.

Dalam acara tersebut, sebuah fakta mengejutkan menyeruak: panitia menunjukkan keberadaan manuskrip Kitab Injil yang ditulis menggunakan  aksara Pegon.

"Teman-teman dari gereja menyampaikan sangat senang tadi ke saya, dan juga sempat minta aplikasinya. Sehingga ini bisa menyebar tidak hanya pada komunitas orang muslim. Tadi ada Kitab Injil menggunakan aksara pegon dan membuat mereka kaget, 'Kok nemu ae' (kok bisa menemukan),ungkap Gus Sahrul tersenyum.

BACA JUGA : 

Ketua Kerasulan Umum Gereja Katolik Santo Yakobus, Petrus Aris Setyonegoro, -yang hadir di acara itu- tak bisa menyembunyikan apresiasinya. Bagi Petrus, apa yang diupayakan dalam lokakarya ini adalah sebuah rangkuman kegiatan yang luar biasa untuk merawat tradisi, budaya, dan sejarah agar tetap tumbuh relevan dengan perkembangan zaman

*****************

Kepala Dinas Arpusda Lamongan, Umuronah saat memberikan sambutan dan membuka acara. (Foto: Suyono)

Ikhtiar digitalisasi ini juga mendapat gayung bersambut dari pihak birokrasi. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Lamongan berkomitmen mengawal upaya pelestarian ini. Kepala Dinas Arpusda, Umuronah, menyatakan kesiapannya untuk terlibat aktif dalam pelestarian ini. Langkah konkret pun disiapkan melalui sosialisasi berkala oleh staf Arpusda yang telah mengikuti pelatihan.

"Kami sangat senang sekali bisa hadir dalam acara ini. Sehingga dengan demikian bisa tahu, dan ikut melestarikan pegon ini. Tantangan pasti ada, untuk itu kita wajib bersemangat mensosialisasikan kepada siapapun. Selanjutnya kami akan membuka perwakilan per bidang untuk mensosialisasikan ini melalui Mbak Naning yang sudah ikut hari ini," pungkasnya.

Akᚣara Pegon di Jawa Timur berkembang sejak masa penyebaran Islam oleh para ulama dan pesantren pada abad ke-15 hingga ke-19. Aksara ini merupakan tulisan Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa dan Madura, sehingga memudahkan masyarakat memahami ajaran agama tanpa meninggalkan bahasa daerahnya. 

Di berbagai pesantren di wilayah seperti Surabaya, Tuban, dan Ponorogo, Pegon digunakan dalam kitab-kitab keagamaan, syair, hingga surat-menyurat. Hingga kini, aksara Pegon masih menjadi bagian penting dari tradisi literasi pesantren dan warisan budaya Islam di Jawa Timur.

**************

Akhir kata, wafatnya para ulama adalah sebuah kepastian takdir -menguras air mata dan mengurangi lentera ilmu di bumi. Namun, jika generasi penerus membiarkan catatan ilmu ulama terus lapuk dan hilang ditelan waktu, maka itu pertanda sebuah kelalaian yang - seharusnya - bisa kita cegah.

Perwakilan Gereja Katholik dari Surabaya yang melanjutkan diskusi di kediaman Gus Sahrul, setelah menghadiri Seminar dan Lokakarya. (Foto: Suyono)

Di Lamongan, dan berkat dukungan banyak pihak - kini aksara Pegon bisa di akses lewat papan usap, dan ketukan jemari di atas keyboard virtual. Langkah ini adalah menjadi manifesto, bahwa -meski sang ulama telah berpulang menghadap Sang Pencipta- warisan keilmuan Ulama akan tetap terjaga oleh anak muda, dan dapat terbaca untuk di wariskan ke Generasi Mendatang.  (*)

Posting Komentar

Flag Counter