Habayang, Permainan Tradisional Dayak di Kalimantan Tengah
Penulis | Taufik Irawan
Riuh suara sorak penonton terdengar bersahutan di arena permainan rakyat dalam perhelatan Festival Budaya Isen Mulang 2026. Di tengah gegap gempita festival budaya terbesar di Kalimantan Tengah itu, sekelompok peserta tampak berlari, melompat, dan bergerak penuh semangat mengikuti irama permainan tradisional bernama Habayang.
Bagi sebagian masyarakat luar Kalimantan, nama Habayang mungkin masih terdengar asing. Namun bagi masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, permainan rakyat ini bukan sekadar hiburan. Habayang (gasing) merupakan bagian dari identitas budaya, warisan leluhur, sekaligus simbol kebersamaan yang terus dijaga lintas generasi.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi permainan digital, Habayang hadir sebagai pengingat bahwa budaya lokal memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar kompetisi. Ada semangat gotong royong, kekompakan, sportivitas, hingga kecerdasan strategi yang diwariskan melalui permainan ini.
BACA JUGA :
- Cak Ipoel, Inisiator Elingpiade - Eling Permainane Dewe
- KPOTI, Bangkitkan Kembali Budaya Permainan Tradisional
- Kalurahan Budaya dan Konsep Revitalisasi Permainan Rakyat
Permainan rakyat tradisional seperti Habayang menjadi salah satu atraksi budaya yang rutin ditampilkan dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), agenda budaya tahunan kebanggaan Kalimantan Tengah yang bertujuan melestarikan budaya Dayak sekaligus memperkuat identitas daerah.
Habayang sendiri dikenal sebagai permainan rakyat yang mengandalkan kecepatan, kelincahan, kerja sama, dan strategi antar pemain. Dalam praktiknya, permainan ini dimainkan secara berkelompok atau bisa juga perseorangan dan sering menghadirkan suasana penuh gelak tawa sekaligus ketegangan kompetisi. Meski terlihat sederhana, Habayang membutuhkan konsentrasi, ketangkasan, dan kekompakan tim yang tinggi.
Bagi masyarakat Dayak, permainan tradisional bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media pendidikan sosial. Anak-anak diajarkan tentang kerja sama, disiplin, dan rasa saling menghormati sejak usia dini melalui permainan rakyat seperti Habayang.
Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi falsafah Huma Betang - hidup bersama dalam keberagaman dan kebersamaan.
BACA JUGA :
- Tabung Bambu, Literasi ala "Solep" di Dayak Ngaju
- Huma Betang, Rumah Kayu Ulin Khas Dayak
- Pagelaran Budaya dalam Peringatan Sejarah Tumbang Anoi
Festival Budaya Isen Mulang sendiri menjadi ruang penting untuk menjaga agar permainan tradisional seperti Habayang tidak hilang ditelan zaman. Dalam festival tersebut, berbagai permainan rakyat, seni tradisi, hingga atraksi budaya khas Dayak dipertunjukkan kepada masyarakat luas dan wisatawan.
Tidak sedikit generasi muda yang mulai kembali mengenal budaya leluhur melalui festival budaya ini. Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut ambil bagian sebagai peserta. Hal ini menjadi harapan besar bagi keberlangsungan budaya Dayak di masa depan.
Di arena Habayang, sorak penonton bukan hanya bentuk dukungan bagi peserta. Lebih dari itu, suara-suara tersebut adalah bentuk cinta masyarakat terhadap budaya mereka sendiri. Sebab di balik permainan sederhana itu, tersimpan cerita panjang tentang identitas, sejarah, dan semangat masyarakat Kalimantan Tengah yang tidak pernah padam.
Budaya bukan hanya sesuatu yang dipamerkan dalam seremoni. Budaya hidup melalui gerak, tawa, tradisi, dan kebersamaan masyarakatnya. Habayang menjadi bukti bahwa permainan rakyat mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan
Di tengah dunia yang terus berubah, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti tertinggal. Justru melalui budaya seperti Habayang, mereka memperlihatkan kekuatan identitas yang tetap kokoh berdiri di tengah modernisasi.
Festival Budaya Isen Mulang yang masuk dalam agenda budaya nasional terus menjadi ruang penting bagi pelestarian budaya Dayak, mulai dari seni tari, permainan rakyat, kuliner tradisional, hingga berbagai atraksi budaya lainnya.
Kini, Habayang bukan hanya milik masyarakat Dayak semata. Permainan tradisional ini perlahan menjadi wajah budaya Kalimantan Tengah yang dikenalkan kepada Indonesia bahkan dunia.
Habayang, permainan tradisional Dayak, permainan rakyat Kalimantan Tengah, budaya Dayak Kalimantan Tengah, Festival Budaya Isen Mulang 2026, FBIM 2026, permainan tradisional Kalimantan, budaya Dayak, wisata budaya Kalimantan Tengah, tradisi masyarakat Dayak, kearifan lokal Dayak, permainan rakyat Dayak, budaya Kalimantan Tengah, pelestarian budaya Dayak, event budaya Kalimantan Tengah
* Penulis adalah Pengelola Informasi dan Promosi Pariwisata Pada Bidang Pemasaran, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olah Raga Kota Palangka Raya


Posting Komentar