Dialog Budaya, Pranata Mangsa Ilmu Titen Fenologi Jawa

Dialog Budaya, Pranata Mangsa Ilmu Titen Fenologi Jawa

Daftar Isi

Sistem penanggalan Pranata Mangsa sebagai kearifan lokal Jawa kuno, dikupas dalam Dialog Budaya. Acara ini diadakan untuk memperingati 170 tahun Pranata Mangsa yang jatuh pada 22 Juni 2026.

Sistem penanggalan Pranata Mangsa, yang kita kenal secara baku saat ini merupakan hasil kodifikasi resmi Sri Susuhunan Pakubuwana VII, Raja Kasunanan Surakarta. 

Kendati pengetahuan tentang musim sudah ada jauh sebelumnya, Pranata Mangsa secara formal dideklarasikan sebagai kalender administratif dan panduan pertanian pada 22 Juni 1856.

Raja Keraton Solo ini mengeluarkan kebijakan "agrikultur" berisi penetapan standar baku bagi para petani agar tidak lagi bingung menentukan masa tanam akibat variasi lokal.  

Singkat cerita, tanggal 22 Juni sebagai titik nol (Mangsa Kasa) karena bertepatan dengan titik balik matahari musim panas (Summer Solstice), yang secara ekologis menandai siklus alam di Jawa.

Pakubuwana VII membagi satu tahun menjadi 12 mangsa (musim) dengan durasi yang tidak sama, mengikuti fenomena alam di tanah Jawa. Misalnya, Mangsa Katiga yang terjadi 25 Agustus - 17 September merupakan Puncak kemarau, panen palawija. 

Secara epistemologi, Pranata Mangsa merupakan Fenologi, sebuah ilmu yang mempelajari siklus hidup atau kejadian biologis tahunan pada tumbuhan dan hewan -seperti waktu berbunga, bermigrasi, atau berkembang biak, serta bagaimana siklus tersebut dipengaruhi oleh perubahan cuaca dan musim.

*************

Penulis Buku Pranata Mangsa, Hernawan Widyatmoko, S.P menjelaskan sistem ini bukan sekadar kalender seperti pada umumnya. "Ilmu titen ini mengajarkan manusia untuk tumungkul (patuh/pasrah) terhadap siklus alam. Ini adalah ilmu fenologi (pengamatan) leluhur yang diselaraskan dengan fenomena astronomi dan klimatologi" ujarnya

Ditambahkannya, apa yang jelaskan leluhur Jawa ini sebenarnya selaras dengan ilmu pengetahuan modern, seperti hukum Kepler tentang peredaran bumi mengelilingi matahari, fenomena radiasi, suhu, serta pergeseran posisi matahari yang menentukan perubahan musim 

Di kesempatan yang sama, Ketua Pakasa Nganjuk, K.R.A.T Sukoco Madunagoro, S.Pd mengapresiasi acara ini sebagai bagian dari upaya melestarikan ajaran leluhur. Pakasa Nganjuk memiliki tanggung jawa moral untuk melestarikan artefak budaya itu. 

"Jika Sri Susuhunan Pakubowo VII telah berjasa menulis ulang manuskrip kuno ini, maka tentu Pakasa sebagai keluarga besar Keraton Surakarta memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan serta menyebarluaskan ke masyatakat" ujarnya

BACA JUGA : 

Hal senada di sampaikan Kadisparporabud Nganjuk, Gunawan Widagdo. Menurutnya, Pranata Mangsa harus di kenalkan ke generasi muda, sebab selama ini kita lebih akrab dengan kalendar Gregorian dan rasi bintang yang di tulis peradaban barat

Kehebatan leluhur Jawa mampu menggabungkan fenomena iklim dengan kondisi di bumi, dan hal seperti ini harus disosialisasikan lebih masif. Agar warisan budaya ini dijadikan pedoman bercocok tanam untuk mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan" tandasnya

Selain untuk menentukan masa tanam, lanjut Gunawan, Pranata Mangsa juga dianggap sebagai alat bantu bagi pemerintah daerah untuk mitigasi bencana hidroklimatologis . "Kita harus duduk bersama, antara Dinas Pertanian, BPBD dan Disparporabud untuk merumuskan satu kebijakan tanggap perubahan Iklim" imbuhnya

BACA JUGA : 

Di akhir sesi paparan, pemateri terakhir seorang Akademisi asal Nganjuk KRT. Eko Agus Susilo, S.Sos., M.Si memberikan catatan penting berupa ritus padi Nusantara yang sangat lekat dengan alam. "Beberapa fenomena alam terkait Mangsa, kerap di jadikan tembang agar mudah diingat" ujarnya 

Pakar budaya Jawa yang juga Dosen program studi Ilmu Administrasi Bisnis, FISIP di Universitas Merdeka Malang ini menambahkan beberapa kearifan lokal pada di Nusantara termasuk Nganjuk sangat lekat dengan alam, seperti Bubak Bumi, Tjok Bakal, Wiwit, hingga Boyong Mbok Sri"Semua ritus ini dilakukan dengan mengacu pada kalendar tanam" jelasnya

Para pegiat pertanian sehat yang hadir juga diajak berdiskusi untuk menekankan pentingnya kembali ke metode alami, penggunaan pupuk organik dan teknik pengendalian hama terpadu, seperti penggunaan parem wangi atau memanfatkan siklus alami serangga (seperti laron dan walang sangit) untuk menjaga tanaman tanpa bergantung pada pestisida kimia.

***********

Di akhir acara, Ketua Panitia Dialog Budaya, Tofan Ardi mengatakan acara dialog budaya "Pranata Mangsa" ini digelar untuk menumbuhkan kembali minat literasi masyarakat terhadap pengetahuan tradisional yang selama ini mulai pudar. 

Lewat dialog budaya, imbuhnya, diharapkan ada kebangkitan lewat kesadaran kolektif dari masyarakat untuk mempelajari warisan leluhur tanah Jawa. 

"Agar kita tidak kehilangan jati diri, maka dibutuhkan upaya nyata lewat edukasi. dan kami akan mendorong agar Pranata Mangsa ikut masuk memperbarui dokumen ringkasan Pokok Pikiran Pemajuan Kebudayaan (PPKD) Nganjuk yang terbit 2023 lalu" ujarnya. 

Dialog Budaya Pranata Mangsa diselenggarakan atas Kolaborasi Yayasan Putra Nusantara, Pakasa Kab.Nganjuk, Griya Pangan Sentosa, Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) Nganjuk dan Disparporabud Kab.Nganjuk  (*)

Download Kalendar Pranata Mangsa

Posting Komentar

Flag Counter