Sabhyanadipala, Penjaga Peradaban Sungai

Sabhyanadipala, Penjaga Peradaban Sungai

Daftar Isi


Penulis | Ali Soejono

Bengawan Sala selalu meninggalkan cerita yang menarik meski sudah melewati beberapa masa peradaban. Sepanjang bantaran Bengawan Sala memberikan kesan yang begitu eksotis, tidak hanya pada persoalan kekuasaan akan tetapi kebudayaan yang berhubungan dengan sungai. Tentu menjadi bahan kajian bagi sejarawan manapun. 

Masa purba bengawan sala meninggalkan jejak yang unik di wilayah Jawa Tengah, begitu juga jejak purba di daerah Ngawi, bahkan di daerah Jipangulu. Yang disana terdapat meander dengan cekungan sungai yang menjadi surganya para pemburu ikan air sungai. 

BACA JUGA : 

Membaca aliran Bengawan Sala dari masa lampau hingga sekarang, tentu saja akan banyak kita temukan momentum yang bisa dikatagorikan peristiwa penting atau peristiwa peristiwa yang berkaitan dengan pola hidup penghuni bantaran (zona riparian) 

Rekaman jejak perjalanan yang paling populair adalah tamra (lempeng tembaga) prasasti Canggu atau lebih dikenal dengan prasasti trowulan 1, yang terbaca menggunakan Aksara Jawa Kuna dan Bahasa Jawa kuna. 

BACA JUGA : 

Mencatat beberapa nama desa yang dianggap penting di sepanjang Bengawan Sala. Bahan perjalanan sakral sebuah perahu yang bernama Rajamala, dari kraton sala menuju Madhura seperti yang disebutkan dalam babad Madhura. 

Bengawan Sala hari ini tentunya tidak seindah cerita pada masa lalu, sebab ada peralihan peran moda transportasi air berpindah menjadi transportasi darat, maka fungsi bengawan sala yang semula menjadi latar depan setiap bangunan rumah berubah menjadi latar belakang rumah. 

Hal ini juga memberikan dampak yang sangat signifikan. Polusi air lambat laun bertambah akibat limbah rumah tangga dan bahkan limbah industri. Perubahan tersebutlah yang menjadikan bengawan sala tak cantik lagi. 

Ditengah tantangan pelik tata kelola sungai Bengawan Sala, kini muncul sebuah gerakan bernama SabhyanadÄŤpala. Keberadaan gerakan yang diinisiasi oleh komunitas ini menjadi  angin segar untuk menjaga peradaban dan kebudayaan sungai yang ada di sepanjang Bengawan Sala

BACA JUGA : 

Secara etimologi, Sabhayanadipala berasal dari bahasa Sansekerta, Kata Sabhya berarti peradaban, Nadi berarti Aliran (Sungai) dan Pala berarti Penjaga. Dari sini kita bisa memaknai, secara fungsi sosok penjaga sungai tidak hanya meminimalkan pencemaran air, akan tetapi juga menjaga Kebudayaan yang berlangsung lama. 

Ada satu hal yang lebih bisa dijadikan pemantik kajian yang sangat menarik, apakah karakteristik kuliner di bengawan sala memiliki kesamaan baik dari sisi bahan, rasa dan prosesy sajiannya. Hal ini juga akan membuka ruang gastronomi agar bisa melakukan kajian yang mendalam terkait dengan kuliner dan sosial budaya masyarakatnya. (*)

Posting Komentar

Flag Counter