Sabhyanadipala, Upaya Restorasi Kebudayaan Ekologis Tepian Bengawan Solo

Sabhyanadipala, Upaya Restorasi Kebudayaan Ekologis Tepian Bengawan Solo

Daftar Isi

Penulis | Suyono

Bengawan Solo dalam perspektif kebudayaan ekologis tidak sekadar mengalirkan kehidupan, aliran air yang menjadi penopang ekonomi dan bentang ekologi juga merawat peradaban. 

Menyadari besarnya jejak sejarah dan napas kehidupan di sepanjang aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa, kehadiran Sabhyanadipala di Tuban menjadi angin segar bagi gerakan eko-budaya (eco-culture)—sebuah ikhtiar kolektif lewat pendekatan partisipatif yang memadukan integrasi kearifan lokal, pertunjukan tradisi, dan aksi nyata pelestarian alam.

Dimaknai sebagai Penjaga Peradaban Sungai, Sabhyanadipala lahir dari kolaborasi lintas elemen: mulai dari pemerintah daerah, wakil rakyat, hingga jaringan komunitas di wilayah hilir Bengawan Solo. 

Melalui kemasan unik yang menggabungkan aksi lingkungan dan atraksi budaya - seperti Ngintir Bengawan Solo, ritual Tukon Banyu Nggawan, hingga pertunjukan Wayang Biang Bleng- gerakan ini membuktikan bahwa merawat alam paling efektif dilakukan melalui pendekatan kebudayaan.

BACA JUGA 

Camat Plumpang, Saefiyudin, menegaskan bahwa sejarah mencatat peradaban besar dunia selalu tumbuh dari tepian sungai—mulai dari Amazon di Amerika, Nil di Mesir, hingga Gangga di India. Sungai adalah rahim kehidupan yang kini menuntut tanggung jawab bersama untuk dijaga.

Saefiyudin menambahkan sebelum adanya Bendungan Gerak di Babat,  air hanya lewat. Hanya bisa dimanfaatkan sebentar saja. Sekarang dengan adanya bendungan, masyarakat bisa memanfaatkan untuk pertanian khususnya. Plumpang  menjadi salah satu kecamatan yang mendapatkan berkah. 

"Satu kewajiban yang ditularkan yakni komitmen bersama menjaga Bengawan Solo, karena kita disini sering mengalami banjir. Mudah-mudahan teman-teman Kepada Desa (Kades) yang berada di Rengel sampai di Widang bisa menyelenggarakan kegiatan ini, yang mempunyai manfaat sangat besar. Kita mempunyai tanggungjawab terhadap peradaban di wilayah sungai dan juga konservasi yang ada di wilayah Kecamatan Plumpang  dan di Kabupaten Tuban pada khususnya,” pungkas Camat yang akrab disapa Pak Asep tersebut.

Dukungan serupa mengalir dari jajaran legislatif. Anggota DPRD Tuban, Tia Antika Pramesti , mengapresiasi keberanian masyarakat dalam menginisiasi wadah eko-budaya ini. 

Menurutnya, Sabhyanadipala menjadi ruang sinergi yang masif karena merangkul tokoh sejarah dan budayawan untuk menyingkap kembali warisan peradaban ratusan tahun di sepanjang Bengawan Solo.

Saya mengucapkan selamat yang mendalam untuk masyarakat Tuban yang tinggal di bantaran Bengawan Solo atas terbentuknya Sabhyanadipala. Ini bukan untuk masyarakat yang tinggal di bantaran saja, namun untuk semua masyarakat di Tuban. Bengawan Solo adalah milik kita semua yang wajib kita perhatikan dan jaga,” ujarnya

Menurutnya hal tersebut menjadi langkah berani dan penuh dedikasi dari masyarakat untuk penjagaan ekologi, sejarah dan budaya. Sabhyanadipala akan menjadi wadah bersama untuk untuk semakin melestarikan secara masif.

BACA JUGA : 

"Ini menjadi gerakan untuk alam yang masif dari masyarakat untuk masyarakat. Tidak hanya pemerhati sungai dengan semua problematikanya, namun lebih luas yakni dengan melibatkan tokoh sejarah dan budaya yang akan bersinergi secara luas dalam pelestarian sejarah dan budaya Bengawan Solo yang sudah terjadi ratusan tahun,”pungkas Wanita yang akarab disapa Mbak Tia ini.

Sinergi Hilir dan Taubatan Ekologis

Kekuatan Sabhyanadipala kian solid berkat jejaring kolaborasi lintas daerah. Ketua Kompilasi Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir, Atekan Andriono menyambut hangat lahirnya komunitas ini sebagai pilar baru yang memperkuat simpul pelestarian dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik.

Pria yang kerap disapa Yosi ini menekankan pentingnya membangun dialog constructively ketimbang aksi demonstrasi ketika menghadapi polemik sungai. Bengawan Solo adalah entitas yang 'hidup' dan bereaksi atas setiap tindakan manusia di atasnya.

Gerakan ini, lanjut Yosi sejalan dengan hasil Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang mendukung program Taubatan Ekologis dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Menjaga sungai bukan sekadar slogan, melainkan agenda konkrit untuk merawat sungai dan memulihkan kehidupan secara bersama-sama

BACA JUGA : 

"Kami ikut berbahagia atas terbentuknya Sabhyanadipala di Tuban. Ini akan menjadi kekuatan baru dalam hal pemerhati Bengawan Solo. Kekuatan di hilir akan bertambah dengan kolaborasi dari Bojonegoro, saat ini Tuban dan berlanjut Lamongan hingga Gresik, tuturnya.

Melalui pendekatan eko-budaya yang terintegrasi, Sabhyanadipala menegaskan bahwa memulihkan Bengawan Solo bukan hanya tentang menjaga debit air atau menanam pohon, melainkan merawat kembali ingatan budaya dan rasa hormat manusia terhadap alam yang telah menghidupinya. (*)

Posting Komentar

Flag Counter